kugenggam tanganmu, kucium pipimu dan kubisikan cinta ke hatimu- Asa Jatmiko

02/04/18

NARA - Naskah Teater

NARA

Naskah:
Asa Jatmiko


PARA TOKOH:
- NARA
- GOLA
- WIRA
- PRANA
- IBUNYA GENDHUK
- GENDHUK
- TIGA PRIBADI
- ORANG-ORANG




BABAK 1
Scene 1
ORANG-ORANG MENGERUMUNI GOLA.
GOLA     Kalian tidak usah khawatirkan saya. Memang tidak mudah, bagi kebanyakan orang, untuk mampu menghadapi semua teror ini. Tapi buat saya, itu hal enteng. Teror yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab itu, justru membuat kewaspadaan saya meningkat. Keamanan kemudian diperketat. Bukan karena takut. Melainkan untuk berjaga-jaga.
Mereka salah kalau menganggap kita semakin lemah akibat teror yang mereka lancarkan. Biarkan saja. Eksistensi yang mereka inginkan. Dan kita terlampau kuat untuk mereka.
Kalian bekerjalah seperti biasa. Beraktivitas normal sebagaimana biasanya. Yang pelajar, belajar. Yang mahasiswa kembali ke kampus. Yang petani, ya kembali menggarap sawah. Dan para nelayan, kembali melaut.
Saya sudah terbiasa mendapat teror. Apalagi ketika saya banyak melibatkan diri dalam pertempuran-pertempuran. Teror adalah menu wajib setiap hari. Kalau tidak ada teror seharian saja, saya malah curiga mereka tengah merencanakan teror yang lebih mengejutkan. Asal tidak menyangkut-nyangkut privasi saya, berarti itu teror ringan. Tapi kalau sudah mulai masuk ke wilayah privasi, rasanya saya akan sulit memaknainya.
Demikian juga soal kebebasan berpendapat, saya tidak pernah mempersoalkan. Mau gambar kepala saya ditempel di gambar kerbau, silakan. Foto-foto saya dibakar di jalan jalan, silakan. Tidak masalah buat saya. Tapi kalau ada yang mengatakan saya itu bukan ningrat, malah kemarin saya dengar katanya saya anak seorang pelacur, ya itu sudah keterlaluan. Layak dan pantas untuk dibinasakan. Karena itu menyangkut harga diri.
Sudah kamu tangkap belum yang kemarin mengatakan kalau istri saya panuan? Baguslah. Istri saya, dan semua istri saya, mendapat perlakuan istimewa. Mandi Susu, luluran, perawatan tubuh, semua terpenuhi, koq aneh bisa panuan. Apalagi panuan, keringetan saja diusahakan jangan sampai. Begitu jalan 2 menit, 30 menit istirahat. Lari pagi, setiap 10 langkah berhenti, istirahat 2 jam. Bahkan ndak sampai keringetan. Kalau ada yang mengatakan panuan, itu hoax! Dan saya tentu saja tersinggung. Dan dampaknya ketersinggungan itu bisa luas dan berbahaya, lo! Jadi jangan coba coba.
Sudah, ini semua saya berikan cuma cuma, buat kalian. Kalian tidak usah memikirkan teror, tidak usah merasa terancam, tidak usah takut. Selagi masih ada saya, Gola, semua OK.
OUT



KERUMUNAN MENYISAKAN BEBERAPA ORANG SAJA. MEREKA MENGGUNJINGKAN PEMBERIANMU GOLA. ADA YANG MENDAPAT KAIN PUTIH UKURAN 20 X 20 cm, ADA YANG DAPAT JARING IKAN, ADA YANG DAPAT MUNTHU BATU.
ORANG 1    Kain seperti ini di rumahku banyak. Dikasih koq kain. Kecil lagi. Buat apa? Memberi buat rakyat kecil itu ya yang berguna, yang fungsional, yang bisa langsung dirasakan manfaatnya. Ini? Kain..... Kere....!!
ORANG 2    Kamu dapat itu mestinya bersyukur. La aku malah diberi jaring ikan, buat apa coba? Untuk menangkap ikan sekarang bukan pakai jaring seperti ini, sudah ketinggalan. Pakai ini dapat nya ya paling-paling lima ekor.
ORANG 1    Alat tangkapan ikan suamimu, selama ini pakai apa?
ORANG 2    Bom!
ORANG 1    Huussh! Edan!! Itu ngrusak lingkungan namanya.
ORANG 2    Tapi dapatnya ikan itu luar biasa. Malah sinting kalau pakai jaring tradisional seperti ini. Kapan aku bisa kaya?
ORANG 2    Kamu sendiri dapat apa?
ORANG 3 MENUNJUKKAN MUNTHU BATU KE TEMAN-TEMANNYA.
ORANG 2    Cocok itu dengan yang kamu butuhkan...
ORANG 3    Cocok buat nothok buathukmu!! Aku ndak mudheng ini buat apa. Tapi yang namanya pemberian, ya saya terima saja. Nanti saya kasih etalase kaca, di sekelilingnya di kasih hiasan bunga-bunga.
ORANG 1    Dipasang di ruang tamu!
ORANG 3    Ndak. Aku jual!  Itu baru namanya meningkatkan Nilai atas Sebuah benda. Kelihatannya biasa, tapi kalau dikemas yang baik, harganya pasti lumayan. Apalagi nanti akan aku tulis sebagai keterangannya, "Pemberian Special dari Gola". Langsung, pasti harganya melangit!
ORANG 2    Itu ya sinting sama saja. Pemberian koq malah dijual.
ORANG 1    Menurutku, Gola memberi munthu itu ada maksudnya.
ORANG 3    Maksudnya buat nothok buathukmu?
ORANG 1    Bukan.
ORANG 2    Munthu itu secara fungsional adalah alat untuk membuat sambal. Maka.. Munthu pemberian Gola itu dimaksudkan untuk....
ORANG 1    Betul!!
ORANG 3    Buat nguleg sambal?
ORANG 1    Buat kamu dan istrimu meneruskan usaha Warung Makan... Bagus to itu maknanya. Simbolik. Penuh makna, dan di dalamnya menyiratkan dukungan Gola terhadap usahamu.
ORANG 3    Wah, keren juga kamu mengartikannya.
ORANG 2    Itu kan tinggal bagaimana kamu mengartikannya. Kalau kamu pengin jual, ya dijual saja. Dan itu sah-sah saja, karena itu sudah menjadi milikmu. Bebas mau kamu gunakan buat apa juga.
SESEORANG MASUK.
ORANG A    Kalian itu sebagai rakyat jadilah rakyat yang baik. Gola sudah baik, memberimu beragam hadiah dalam setiap kunjungan. Masih saja dikritik. Lalu baiknya kalian sebagai rakyat itu dimana?
ORANG 1    Betul itu. Tapi rakyat itu juga banyak, lo. Tidak semuanya seperti mereka. Aku? Aku ndak seperti mereka. Aku adalah contoh rakyat yang baik.
ORANG A    Baikmu apa?
ORANG 1    Tidak mengkritik penguasa. Justru tadi aku yang menjelaskan ke mereka dengan baik tentang apa maksud pemberian Gola.
ORANG A    Mengeluh?
ORANG 1    Ya... Sedikit. La saya itu diberi kain, buat apa? Saya itu penyair. Mau saya lukis, saya ndak bisa melukis. Mau saya jual, saya itu juga bukan bisnismen, ndak bisa soal jual-menjual.
ORANG 3    Ya, kalau begitu puisimu ditulis di sini. Lalu dipigura. Kalau sudah jadi, aku yang carikan pembeli. Gitu saja repot! Penyair itu memang repot. Repot dan susah. Hal mudah tapi dipersulit, itu ya penyair. Hal biasa tapi sok dindah-indahkan, itu ya penyair.
ORANG A    Sudah. Berarti  tinggal bagaimana kalian sendiri, kan? Gola sudah baik sama kalian. Sudah memberi yang kalian butuhkan. Suatu saat Gola butuh sesuatu, kalian yang mesti mau bantu.
ORANG 2    Kamu itu siapa?
ORANG A    Staff Khusus Kadipaten.
ORANG-ORANG TERKEJUT. MUNDUR DAN PELAHAN MENJADI TAKUT.
ORANG A    Jangan takut! Yang penting kalian mau bantu Gola. Beres!
ORANG 1    Bantu apa?
ORANG A    Satu, kalian harus menjaga kelanggengan kekuatan Gola. Karena kelangsungan kekuatan secara terusmenerus akan menjamin proses pemakmuran seluruh wilayah. Ini sangat sangat penting, mengingat belakangan ini teror yang semakin banyak dilancarkan adalah salah satu upaya untuk mengganggu kinerja pemerintah. Dan kalau ini dibiarkan, sangat berbahaya.
Yang kedua, ini agak privasi. Kalian harus bisa tutup mulut. Begini, ada kabar beredar, bahwa di pesisir ini ada seorang perempuan cantik.
ORANG 1    Wah, perempuan cantik di sini memang banyak.
ORANG A    Tidak hanya cantik. Namun juga pemberani.
ORANG 2    Perempuan cantik dan pemberani, di sini juga banyak.
ORANG 3    Dia anak orang kaya pasti!
ORANG A    Tidak jelas keturunan siapa. Yang jelas dari kalangan rakyat biasa.
ORANG 2    Wah, ini juga ndak begitu jelas. Ada ciri-ciri khusus? Mungkin bahunya panuan, atau ada tahi lalatnya di paha...?
ORANG A    Jangan ngawur! Kalau omonganku terdengar telinga Gola, hilang kepalamu! Perempuan ini namanya Nara. Kantor staff kadipaten belum memiliki informasi yang cukup mengenai perempuan ini. Cari tahu sedetil-detilnya mengenai Nara, dan informasikan pada saya, ya... Sekali lagi, ini rahasia.
KEMUDIAN ORANG A - OUT
ORANG 1    Tenang. Tenang. Tidak usah bersusahpayah membantu Gola. Ujung-ujungnya kita juga yang nanti disalahkan.
ORANG 2    Ngawur. Itu tadi Kepala staff khusus loh, urusannya akan jadi serius!
ORANG 3    Betul, menerima perintah orang itu, sama saja kita dapat beban berat, dan beban itu juga yang akan membunuh kita. Sudah kita menghindar saja. Lagi pula, urusan kita apa dengan Gola, dengan Nara....
ORANG 2    Betul juga. Toh Kepala staff khusus tadi, aku kira belum begitu mengenal siapa kita. Kenal nama saja belum... Aku sepakat, kita menghindar saja untuk soal-soal politik, kekuatan dan sejenisnya.
ORANG A TIBA-TIBA MASUK
ORANG A    Aku lupa untuk menyampaikan sebelum aku pergi. Nama kalian bertiga sudah tercatat. Identitas kalian, sudah aku kantongi. Terimakasih banyak atas bantuan kalian.
BLACKOUT





Scene 2
NARA nampak tengah berbincang dengan sosok TIGA PRIBADI di keremangan senjakala.
NARA                 Penyelamatan sudah terjadi. Kini manusia yang harus memilih dan menentukan sendiri. Merekalah yang menguasai diri mereka.
TIGA PRIBADI    Penyelamatan itu terus berlangsung. Bergerak bergulung-gulung seperti ombak abadi. Angin yang terus bertiup, mendesing. Mengusap, membanting dan menjadikan senyap.
NARA                 Maka hentikanlah! Hentikanlah!
TIGA PRIBADI    Manusia memiliki hak untuk menjadikan hidupnya bernilai. Bagi dirinya sendiri.
NARA                 Mengapa Kau tidak berbelas kasihan? Manusia telah memiliki sejarah yang panjang. Pengalaman yang banyak. Jika karena kebodohan dan kedunguan mereka tidak juga memahami, Engkau mestinya mengakhiri.
TIGA PRIBADI    Wujudkan itu di dalam pengalaman hidupmu. Agar orang-orang mendengar apa yang kamu pikirkan. Agar mereka membaca kembali sejarah hidup. Agar mereka kembali memahami bahwa jalan penderitaan adalah jalan yang harus dilewati untuk membayar kebodohan.
NARA                 Mendengar petir dan halilintar saja kakiku gemetar.
TIGA PRIBADI    Maka kamu akan dikuatkan.
NARA                 Bukan. Aku mengatakan aku pasti tidak sanggup!
TIGA PRIBADI    Aku tidak meminta kesanggupan.
NARA (MENANGIS)



Scene 3
NARA tergeletak. Terdengar orang-orang memanggili namanya.
ORANG 1                    Nara!
ORANG 2                    Nara!
GENDHUK                   Mbakyu!
IBUNYA GENDHUK      Anakku!
SETELAH BEBERAPA SAAT MENCARI.
ORANG 1                    Hei, coba lihat di sini! Ini Nara, kan?!
ORANG 2                    Ayo, bawa ke tempat yang lebih lapang!
IBUNYA GENDHUK (MEMUKULI ORANG 1) Ini semua gara-gara kamu! Sudah ibu bilang, jangan ajak Nara kalau melaut!
ORANG 1                    Ibu, kami ndak pernah ngajak. Dia yang ngeyel pengin ikut!
IBUNYA GENDHUK      Ya kamu larang! Jangan diam saja. Ngajari perempuan koq melaut! Itu pekerjaanmu, pekerjaan laki-laki!!
ORANG 2                    Nara itu kalau sudah punya keinginan, ndak bisa dilawan. Kalau kami tinggal di pantai, ya akan duduk di pantai terus sampai mendapati kami pulang.
IBUNYA GENDHUK      Ah, alasan kamu saja! Besok-besok ndak usah kamu ajak lagi!
GENDHUK                   Mbakyu kenapa to, Bu?
IBUNYA GENDHUK      Ndak ngerti. Pingsan karena kecapekan! Kerjaan melaut itu laki-laki. Ndak bener kalau perempuan yang pergi melaut.
ORANG 1                    Wah, ini jadi salah to, Bu. Tadi kami lihat Nara itu baik-baik saja. Cekikian. Tiba-tiba dia itu nyebur ke laut. Katanya kepengin berenang. Nah, sejak itu kami kehilangan Nara.
IBUNYA GENDHUK      Kamu itu ngerti to, Nara itu masih remaja. Dia penasaran akan banyak hal itu lumrah. Kalian saja yang sudah dewasa, ndak ngerti cara ngemong anak dengan baik. Ini kalau Nara sampai ndak ketemu, atau sampai mati, kalian yang harus tanggungjawab.
GENDHUK                   Mbakyu... Sadar, Mbakyu...
ORANG 2                    Lah, Ibu ini seperti Nara itu siapa. Dia ya orang biasa. Perempuan desa yang tidak beda dengan Gendhuk, dan yang lainnya. Apalagi, Nara itu bukan anak kandungmu to?
IBUNYA GENDHUK      Wong edan! Jaga mulutmu! Siapapun dia, sudah aku anggap anakku sendiri!
TIBA-TIBA NARA SIUMAN. ORANG-ORANG KEMUDIAN BERSIKAP BERPURA-PURA SEOLAH TIDAK TERJADI APA-APA.
IBUNYA GENDHUK      Nyalakan dian! Taruh di halaman depan.
KEMUDIAN MUSIK MENGANTAR NYANYIAN. BEBERAPA TEMBANG. NARA TIDURAN DI PANGKUAN IBUNYA GENDHUK.
NARA                          Ibu. Ibu dari mana saja?
IBUNYA GENDHUK      Ibu tidak dari mana-mana. Ibu sejak tadi di sini. Bersamamu, Nara.
NARA                          Ya. Tapi, kenapa serasa sepi sekali. Tidak seperti biasanya, ada kehangatan setiap menjumpai Ibu dan teman-teman.
IBUNYA GENDHUK      Apa yang tengah kamu pikirkan?
NARA                          (DIAM. PANDANGAN MATANYA KOSONG)
IBUNYA GENDHUK      Nara sakit?
NARA                          Tidak. Entahlah, Bu...
GENDHUK                   Ada apa to, Mbakyu? Tadi itu Mbakyu sempat pingsan. Kami melihat Mbakyu tak sadarkan diri di bawah akar pandan di sebelah sana.
IBUNYA GENDHUK      Ssst!
NARA                          Ya, aku terperosok. Dan terseret arus bawah laut.
IBUNYA GENDHUK      Sudah. Yang penting sekarang kamu sudah kembali. Ada bersama kami lagi. Pikiranmu ndak usah nglambrang kemana-mana.
NARA                          Hatiku tidak tenang rasanya.
Ibu, Gendhuk dan mereka semua mengasihiku. Aku mengerti. Aku merasakannya. Aku tidak tahu mengapa memperlakukanku seperti itu.
Tetapi sungguh, aku tidak mau dikasihani. Aku tidak mau dianggap perempuan yang tidak berdaya. Aku ya aku. Seperti ini.
IBUNYA GENDHUK      Sudah, mendekatlah kemari. Ibu akan memelukmu.
NARA                          (MENDEKAT DAN MEMELUK IBUNYA)
LALU MEREKA KEMUDIAN NAMPAK MULAI CERIA.



Scene 4
DI TENGAH-TENGAH KEGEMBIRAAN, TIBA-TIBA MASUKLAH GOLA DAN KAWAN-KAWANNYA. LALU TANPA BABIBU MERUSAK SUASANA KEGEMBIRAAN ORANG-ORANG.
ORANG 1                    Apa ini?
ORANG 2                    Wah, datang tanpa permisi, langsung kegembiraan kami dihabisi.
GOLA                          Tidak usah banyak cakap. Aku mendengar di sini ada perempuan cantik.
GENDUK                      Perempuan di sini memang cantik-cantik. Terus maumu apa?
IBUNYA GENDHUK      Gendhuk, ssstt...! Kamu jangan cerewet. Diam!
GOLA                          Sebagai penguasa pesisir ini, aku ingin mengangkat derajatnya menjadi lebih tinggi.
ORANG 1                    Wah, ini sebuah anugrah untuk desa kita.
ORANG 2                    Iya. Tentu. Silakan. Tapi, siapa perempuan yang dimaksud?
GOLA                          Nara
IBUNYA GENDHUK      Waduh...!! Mbok jangan Nara. Dia hanya perempuan biasa. Percayalah dengan ucapan saya, dia hanya perempuan biasa.
KAWAN GOLA 1          Jangan ngeyel! Diam!
KAWAN GOLA 2          Itu orangnya, Tuan.
GOLA                          Owh... Itu?! Ckckck.... Ini pas ya, kalau aku jadikan istri.
KAWAN GOLA 2          Pas! Mantap!
GOLA                          Bawa!!
KAWAN-KAWAN GOLA MEMBAWA NARA. ORANG-ORANG BERUSAHA MELAWANNYA. TAPI KEMUDIAN TIDAK BERHASIL. HANYA SAJA, GENDUK DAN IBUNYA BISA MENGIKUTSERTA ROMBONGAN GOLA.
KAWAN GOLA 1          Kamu ndak usah ikut. Sudah tua. Tidak akan berguna.
IBUNYA GENDHUK      Aku ibunya dan ini Gendhuk, adiknya. Kalau kamu bawa Nara, mohon bawa serta kami juga. Aku ingin memastikan Nara selalu baik-baik saja.
GOLA                          Bawa serta!



BABAK 2
Scene 5
GENDHUK                   Ini baru namanya kehidupan. Semua serba ada. Semua serba terpenuhi. Semua serba dipenuhi keindahan. Betapa beruntungnya aku ini. Tidak kusangka hidupku akan berubah seperti sekarang ini.
IBUNYA GENDHUK      Kamu itu selalu berpikir untuk dirimu sendiri.
GENDHUK                   Ya, ndak. Justru aku memikirkan Ibu. Coba bayangkan, sore begini di kampung kita. Sudah sepi. Nyenyet. Ndak ada orang lewat depan rumah. Yang ada cuma suara ombak yang semakin malam semakin keras terdengar. Di sini, sore masih ramai. Lampu lampu menyala, gemerlapan di tiap sudut. Dari jauh terdengar musik, lalu orang bernyanyi dan tertawa. Duh, mendengar saja aku itu sudah seneng. Apalagi kalau...
IBUNYA GENDHUK      Kalau apa, teruskan.... Apalagi kalau kamu juga ada di sana, bernyanyi dan tertawa di sana, begitu? Bukankah omonganmu sendiri yang menunjukkan kalau kamu memikirkan dirimu sendiri?
GENDHUK                   Ah, Ibu... Ya ndak segitunya. Gendhuk tetap memikirkan Ibu. Gendhuk tadi bilang, keberuntungan ini keberuntunganku, karena melihat Ibu juga beruntung.
IBUNYA GENDHUK      Ah, semakin ngelantur bicaramu. Semakin mbingungi untuk dipahami. Mbulet.
GENDHUK                   Singkat nya begini, keberuntungan itu adalah Ibu ndak perlu bersusahpayah mencari nafkah untuk makan sehari hari. Semua kebutuhan sudah ada di sini. Bahkan, ketika Ibu menginginkan sesuatu, sesuatu itu sudah ada sebelum Ibu mengatakannya. Dan itu hanya ada di sini. Di kampung kita, di rumah kita, ndak ada.
IBUNYA GENDHUK      Jadi maksudku kamu tinggal duduk ongkang-ongkang kaki begitu? Bagaimana mungkin sesuatu sudah ada bahkan ketika Ibu sedang menginginkannya? Dari tadi Ibu ingin kamu pijitin, tapi ndak terbukti itu?!
GENDHUK                   Ah, Ibu ini.... (SAMBIL TERTAWA MANJA, KEMUDIAN BERANJAK MEMIJATI BAHU IBUNYA)
NARA                          Ke mana perginya?
GENDHUK                   Siapa yang pergi? Ndak ada siapapun yang pergi. Mbakyu..
NARA                          Gola. Tapi sudahlah. Buat apa memusingkannya... Ibu, bagaimana keadaanmu? Kau sakit?
IBUNYA GENDHUK      Ndak apa-apa. Ibu tidak sakit.
GENDHUK                   Sudah biasa, umur..... Haha....
NARA                          Huush... !
IBUNYA GENDHUK      Ibu justru memikirkan kamu. Kamu banyak mengurung diri di kamar. Ibu tidak pernah melihatmu jalan jalan keluar menikmati pemandangan.
NARA                          Ah, pemandangan apa to, Bu? Tidak ada yang menarik.
IBUNYA GENDHUK      Kamu bisa lihat lihat tonil di alun-alun. Ibu dengar kisahnya menarik.  Aktor-aktornya piawai memainkan romansa, aktris-aktrisnya lincah kalau menari. Mereka sering membawakan lakon perang yang mereka alami sendiri. (TERTAWA SENDIRI) Tapi kamu tak perlu larut sedih kalau di akhirnya selalu tragedi. Jarang mereka mengakhiri pertunjukannya dengan happy ending..
GENDHUK                   Ehm.. kalau Mbakyu Nara disuruh nonton, kalau aku dilarang!
IBUNYA GENDHUK      Kalau Nara pergi, itu untuk menghibur hati, syukur syukur dengan melihat lihat di luar, bisa untuk mengobati sakit hati. Kalau kamu? Ke sana malah cari penyakit nanti!
GENDHUK                   Ah, Ibu. Aku yo ndak segitunya... Nek sampai segitunya, berarti Gen nya memang begitu... Sudah turunan....
IBUNYA GENDHUK      Apa kamu bilang? Kurangajar!
NARA                          (TERTAWA MELIHAT MELIHAT MEREKA) Aku tidak perlu jalan jalan keluar kalau hanya untuk mencari hiburan. Melihat kalian saja sudah hiburan buatku..
GENDHUK                   Eh, Mbakyu ..,aku boleh tanya? Kenapa kamu ndak betah di sini? Bukan nya malah merasa beruntung karena nasib kita sudah di ubah menjadi lebih baik seperti ini?
NARA                          Beruntung? Lebih baik, katamu?
GENDHUK                   (MENGANGGUK) Keadaan di sini amat berbeda dengan di rumah kita, kan? Kamu tentu merasakannya ...
NARA                          Tidak. Aku lebih suka di kampung kita. Kalian tahu, setiap sore telingaku selalu mendengar suara ombak. Seperti memanggil-manggil namaku. Aku merindukannya.
GENDUK                      Mbakyu bisa ke sana setiap waktu Mbakyu kepengin, kan? Aku mau menemani, kalau Mbakyu akan ke sana.
IBUNYA GENDHUK      Iya. Tapi apa boleh?
NARA                          Di sini terlalu banyak aturan. Harus ini, harus itu. Begini salah. Begitu salah. Semua diatur. Semua dikendalikan. Lantas aku ini siapa? Kapan aku menjadi diriku sendiri, yang bebas menentukan kapan aku berdandan kapan awut-awutan? Kapan aku bisa berbicara menuruti kata hatiku?
IBUNYA GENDHUK      Anakku…
NARA                          Ibu… Apakah Ibu menikmati tinggal di sini?
IBUNYA GENDHUK      Kenapa kamu bertanya begitu?
GENDHUK                   Kalau aku, Mbakyu, aku sangat menikmatinya…
IBUNYA GENDHUK      Ssstt!!
NARA                          Entahlah…. Aku merasa tidak nyaman hidup di lingkungan seperti ini.
IBUNYA GENDHUK      Ehm….
NARA                          Ibu betah?
IBUNYA GENDHUK      Ibu juga tidak tahu. Kalau hatimu tak nyaman di sini, lantas apa alasan Ibu untuk bisa merasa nyaman di sini. Karena alasan utama Ibu di sini, hanya karena kamu.
NARA                          Aku mengerti. Tetapi aku juga ingin Ibu merasa nyaman, meskipun alasannya bukan karena aku.
IBUNYA GENDHUK      Ada apa sebenarnya dengan kamu, Nara? Apa yang menjadi beban pikiranmu?
GENDHUK                   Iya, mbakyu… Kalau aku jadi mbakyu, wuah seneng mbakyu. Tidak sembarang perempuan diboyong ke istana seperti mbakyu.
NARA                          Betul, Gendhuk. Pada awalnya, aku pun berpikiran begitu. di sini wawasanku bertambah. Menjadi lebih mengerti apa itu tatakrama. Menjadi mengerti semua hal protokoler yang basa-basi.
GENDHUK                   Tapi?
NARA                          Tapi aku menjadi semakin berjarak dengan orang-orang yang aku cintai. Aku tidak merasa bebas lagi untuk bisa bertemu dengan mereka. Di sini, aku harus melihat orang marah-marah setiap hari. Harus melihat Ibu kena damprat Gola hanya gara-gara terlambat memberi makan kuda. Harus mengaku salah, meskipun tidak salah. Harus mengalah, demi menghormati suatu kedudukan orang lain.
Apa kamu tidak mendengar orang-orang di sini juga menggunjingkan kamu, sebagai orang pinggiran yang tidak tahu tata krama? Apa kamu tidak ingat ketika kamu disuruh kerja siang malam di dapur, dan hanya diberi makan makanan sisa, seolah kita ini anjing? Bahkan kukira anjing saja tidak sampai diperlakukan seperti itu. Mereka itu siapa sehingga merasa berhak menilai kita serendah itu?
IBUNYA GENDHUK      Nara, kamu ingin pulang ke rumah?
NARA                          Iya… Aku ingin bisa kembali pergi ke laut. Memandang keluasan langit yang memungkinkan kebebasan. Menantang ombak dan badai yang memungkinkan kita menjadi orang-orang tangguh, yang tidak cengeng, yang tidak serba ketakutan ketika ingin berbuat apapun.
IBUNYA GENDHUK      Itulah yang sesungguh-sungguhnya hidup.
GENDHUK                   Tapi mustahil, mbakyu…
NARA                          Kenapa?
GENDHUK                   Gola menginginkanmu di sini. Tidak akan mudah bagi kita untuk menerobos keluar. Penjagaan sangat ketat.
NARA                          Kamu takut?
GENDHUK                   Maksud mbakyu..?
NARA                          Kamu takut? Apa yang kamu takutkan?
GENDHUK                   Takut si tidak. Tapi menurutku, jangan sampai mati konyol.
NARA                          Mati konyol? Apa maksudmu?
Buatku ini penjara, dan ketika aku memperjuangkan untuk mendobrak jeruji penjara, kamu bilang aku konyol? Perjuangan mana yang tidak konyol? Ha?! Jadi kamu juga akan bilang, semua teman-teman kita yang sekarang dipenjara, disuruh kerjapaksa, karena membela kita saat Gola membawa kita dari kampung, mereka melakukan hal konyol? Ha?!
GENDHUK                   Bukan, mbakyu… bukan begitu maksudku…
IBUNYA GENDHUK      Makanya hati-hati kalau ngomong….jangan asal njeplak! Sudah Nara, biarkan dia bicara dulu…
GENDHUK                   Kita butuh strategi, mbakyu. Itu maksudku.
GOLA MASUK
GOLA                          Strategi?
GENDHUK                   Waduh…laini…mati konyol beneran!
Eh, enggak, ini lo Mbakyu Nara. Dia selalu kalah kalau main dakon sama saya. Lalu dia nanya, untuk bisa menang bagaimana? Ya saya jawab, untuk memang itu butuh strategi. Kalau tidak ada strategi, ya kalah terus. Akhirnya apa, mati konyol.
GOLA                          Strategi memang diperlukan. Karena strategi akan menentukan keberhasilan.
NARA                          Sehingga kamu hampir selalu berhasil menaklukkan musuh-musuhmu?
GOLA                          Benar sekali!
GENDHUK                   Termasuk menaklukkan hati para wanita?
GOLA                          (MARAH) Apa kamu bilang?!! (LALU TIBA-TIBA TERTAWA) Dengan kedudukanku, apakah aku perlu strategi untuk menaklukan mereka? Mereka yang mengejarku…haha…
IBUNYA GENDHUK      Tidak semua…
GOLA                          (KEPADA NARA) Hanya kamu saja yang belum….
NARA                          Sangkamu aku ini perempuan murahan?
GOLA                          Justru karena kamu bukan perempuan murahan. Hanya soal waktu saja….
NARA                          Sekali tidak. Selamanya tidak.
MASUK ORANG A
ORANG A                    Maaf….
GOLA                          Ada apa?
ORANG A                    Maaf, hanya mau bertanya, apakah perlu saya batalkan jadwal latihan perang hari ini?
GOLA                          Oo..ada jadwal latihan, ya?
Nara, ikutlah ke tempat latihan. Aku ingin kamu belajar naik kuda, berlatih perang. Suatu hari kelak, aku ingin panglima perangnya adalah perempuan. Dan itu kamu!
GENDHUK                   Saya boleh ikut?
GOLA                          Tidak boleh!
ORANG A                    Kamu itu koq selalu mau ikut-ikutan. Sudah di sini saja, temani ibumu!
NARA                          Biarkan Gendhuk ikut. Aku membutuhkannya.
GOLA                          Ya sudah. Berangkat sekarang!
TIBA-TIBA DARI BAGIAN BELAKANG PANGGUNG NAMPAK API BERKOBAR-KOBAR. SILUET ORANG-ORANG YANG BERLARIAN KALANGKABUT, TERIAKAN-TERIAKAN MINTA TOLONG, BERSAHUT-SAHUTAN DENGAN TERIAKAN PARA PEMBAKAR.
GOLA                          Perbuatan siapa itu?
ORANG A                    Gawat! Itu orang-orang pengikut Wira! Kita diserang!!
GOLA                          Bangsat! Siapkan orang-orang kita. Hadapi mereka!!
ORANG A BALIK KANAN BERGEGAS PERGI.
IBUNYA GENDHUK      Nara, lekas kita bersembunyi. Kobaran api itu seperti amarah yang tak tertahankan lagi.
NARA                          Wira itu siapa, Bu?
IBUNYA GENDHUK      Musuh bebuyutan Gola. Sudah berulangkali serangan mereka bisa dipatahkan. Wira sangat bernafsu untuk menguasai wilayah ini. Tapi kali ini, entahlah…
GENDHUK                   Ayo mbakyu…
NARA                          Kenapa kita harus bersembunyi?
GENDHUK MENARIK TANGAN NARA MENYINGKIR MENGIKUTI IBUNYA. SEMENTARA NARA MASIH BELUM MENGERTI, KENAPA IA HARUS BERSEMBUNYI.


Scene 6
DI DEPAN KAWAN-KAWANNYA, WIRA TENGAH MENGHADAPI SEORANG YANG DIANGGAP TELAH MEMBERONTAK.
WIRA                     Sekarang katakan.
GOLA                    (DIAM)
WIRA                     Nyalimu cukup besar juga, ya? Kamu cuma berkata satu kata “me –nye – rah”, dan itu mudah sekali kamu lakukan. Kenapa kamu memilih tidak mengatakannya?
GOLA                    (DIAM)
WIRA                     Apa sebenarnya yang kamu pertahankan dari tutup mulutmu? Kamu tidak tahu, semua sudah bertekuklutut kepadaku. Dan dengan rela hati mereka menyerahkan segala yang aku perlukan! Aku heran, masih ada orang seperti kamu yang ngeyelan seperti ini.
Kamu tahu bukan, cita-cita kami sebagai bangsa adalah mengusir mereka semua yang merampas milik kita. Penjajahan, penjarahan. Kenapa kamu tidak turut ambil bagian? Malah kepadaku kamu mengadakan perlawanan?!
LALU DENGAN TAK TERDUGA, WIRA MENUSUKKAN SENJATA KE PERUT GOLA. MATILAH IA.
WIRA                     Nikmati kemerdekaanmu!
Aku tak habis pikir, kenapa ada orang yang menghindari kejayaan dan kemenangan. Aku melakukan perjalanan-perjalanan jauh, untuk menjadikan mereka masyarakat taklukan.
Karena kemenangan dan kejayaan adalah cita-cita setiap bangsa. Dengan begitu, kita akan hidup makmur berkelimpahan, tanpa bersusahpayah.
Kepada semua yang gugur di medan laga, aku berbangga. Kalian adalah para pahlawan bagi bangsa. Perjuangan dan nyawa yang kalian berikan, tidak akan sia-sia.
Lihatlah aku bersyukur dan bergembira atas pengorbanan kalian. Sambil kukenang kalian, akan kujaga setiap jengkal tanah yang pernah kita taklukan dengan segenap jiwa raga.
Kalau sampai waktuku, aku akan bersama-sama dengan kalian kembali. (TIBA-TIBA MENANGIS)
Aku sudah merasa lelah. Capek. Rasanya ingin kutaruh semua pergulatan ini ke atas tanah, hingga pundak terasa ringan berjalan. Setiap pulang membawa kemenangan, soraksorai di jalanan, tak demikian dengan apa yang ada di dalam hati. Sepi.
KAWAN WIRA 1    Mungkin butuh istirahat barang sebentar.
KAWAN WIRA 2    Atau mungkin kita sesekali perlu humor, agar sedikit kendor urat syaraf pikiran.
KAWAN WIRA 3    Perlu kami panggilkan biduan?
KAWAN WIRA 2    Para penari barangkali?
KAWAN WIRA 1    Bagaimana?
WIRA                     Tidak butuh apa-apa. Aku mungkin hanya butuh kawan bicara.
KAWAN WIRA 2    Menurutku, kita butuh cinta.
WIRA                     Maksudmu? Maksudmu istri-istriku kurang memberi cinta kepadaku?
KAWAN WIRA 1    Bukan. Bukan itu maksudnya. Dia hanya bermaksud mengatakan, kita perlu banyak variasi. Iya, begitu kan?
WIRA                     Ah, sama saja. Otakmu kotor semua. Aku tidak membutuhkan variasi apapun. Aku sudah menikmatinya. Sekarang, kalian siapkan saja peralatan dan perbekalan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Penaklukan demi penaklukan harus terus kita lakukan.
KAWAN WIRA 3    Ya, siapa tahu di daerah yang akan kita taklukan nanti, kita mendapatkan pula harta yang berharga.
WIRA                     Tapi ngomong-ngomong, selain istri-istrinya, aku dengar Gola juga punya piaraan istimewa.
KAWAN WIRA 2    Perempuan?
WIRA                     Ah, sama saja. Siapa namanya?
KAWAN WIRA 2    Nara
WIRA                     Apa keistimewaannya?
KAWAN WIRA 1    Menurut saya wajahnya cantik. Pantaslah kalau Gola menginginkannya sebagai istri. Gola bahkan mengangkat derajatnya menjadi sekelas ningrat.
WIRA                     Hanya itu keistimewaannya? Hanya karena cantik, lalu diangkatnya menjadi ningrat?
KAWAN WIRA 3    Karena memang sebelumnya tidak ada orang yang mengetahui persis asal-usulnya. Yang saya dengar, ia selalu menarik dan menjadi bahan pembicaraan setiap orang, tidak hanya laki-laki namun juga perempuan. Semua membicarakannya. Menurut desas-desus yang saya dengar, ia memang tidak seperti perempuan kebanyakan, terutama soal keberaniannya.
WIRA                     Ehm…
KAWAN WIRA 2    Tindakannya dianggap selalu melawan kebiasaan. Pemikiran-pemikirannya out of the box.
WIRA                     Sebentar… apa maksudmu “melawan kebiasaan” dan “out of the box”?
KAWAN WIRA 2    Saya ndak tahu, cuma copy paste apa yang dikatakan orang-orang…
WIRA                     Hoax!!
KAWAN WIRA 1    Tapi memang betul. Mereka mengatakan apa yang mereka lihat. Mana ada perempuan yang suka melaut, kalau bukan dia! Dia suka sekali pergi ke laut, mencari ikan bersama lelaki nelayan. Di sini, perempuan harus bisa bersikap santun dan mengalah terhadap laki-laki. Dia, bahkan sering mendamprat orang yang menurutnya salah. Mungkin perlu ditambahkan, ia tidak hanya seorang pemberani, tetapi juga seorang yang cerdas!
WIRA                     Ehm…
KAWAN WIRA 1    Beberapa waktu terakhir, ketika Gola hanya mampu membangun kekuatan pasukannya, ia bahkan telah mampu menjalin kerjasama dan komunikasi yang baik dengan saudagar-saudagar dari luar daerahnya. Bahkan kita melihatnya sendiri di pelabuhan kemarin, banyak kapal-kapal manca berlabuh di sana. Ia benar-benar seorang yang brilian, perempuan yang mampu ambil bagian membangun perekonomian bangsa. La di sini? Perempuan-perempuan hanya dijejali doktrin untuk mengatur persoalan sumur, dapur dan kasur.
WIRA                     Bawa dia kemari! (KEPADA KAWAN WIRA 2)
KEMUDIAN KAWAN WIRA 2 KELUAR.
KAWAN WIRA 3    Adat kita memang begitu. Tidak pantas kamu mengkritik apa yang telah berkembang di sini. Perempuan itu harus lembut sikapnya, halus tutur bahasanya, manut dengan apa yang menjadi takdirnya. Tidak pethakilan kayak perempuan pesisir itu!
WIRA                     Orang pesisir... ehm…
KAWAN WIRA 2 MASUK DENGAN NARA.
WIRA                     (TEPUK TANGAN) Na..ra… aku dengar penggemarmu di sini semakin banyak…. Banyak orang di sini mulai tertarik dengan pemikiran-pemikiranmu… Mereka berkata kamu adalah wanita yang cerdas…. wanita pemberani….
NARA                    Terimakasih.
WIRA                     Dan nampaknya kamu mulai menikmatinya?
NARA                    Aku tidak sempat memikirkan hal itu.
WIRA                     Tapi menurutmu, benar apa yang mereka katakan tentangmu?
NARA                    Aku tidak tahu.
WIRA                     Tidak tahu? Lalu apa yang selama ini kamu pikirkan?
NARA                    Orang-orang selalu menganggap diri orang lain lebih besar, lebih mampu, lebih dalam hal apapun yang di dalam dirinya sendiri tidak punya. Sementara aku menganggap sama saja.
WIRA                     Sama saja? Siapa yang kamu maksud? Kamu dengan mereka? Dengan aku?
NARA                    Dengan siapa yang kamu maksudkan.
WIRA                     (TERTAWA, LALU TEPUK TANGAN LAGI). Aku suka dengan cara bicaramu yang spontan seperti ini. Dan aku kira, bukan karena kamu cerdas atau berani, tapi karena cara bicaramu yang spontan.
Sekarang aku kasih tahu, kamu ada di sini di depan mataku, bukan karena hal besar apapun yang kamu pikirkan. Murni, kamu bisa berdiri di sini adalah karena belas kasihanku. Kamu adalah salah satu harta rampasan perang, dan karenanya hidupmu bergantung kepada ucapanku. Maka dengan iba, aku memberimu hidup, memberimu kesempatan untuk berdiri sama tinggi di sini, di hadapanku!
NARA                    Kamu pikir kamu siapa?
WIRA                     Ha?! Apa?! (TERTAWA) Lalu kamu pikir aku ini siapa?
NARA                    Kamu adalah seorang penguasa? Seorang yang duduk di puncak tampuk kekuasaan?
WIRA                     Yaaa, tentu saja! Kamu tahu rupanya. Dan siapa kamu sehingga berani lantang bicara di depanku?!
NARA                    Aku bukan siapa-siapa.
Hanya sebutir pasir, yang penuh semangat
Hanya rampasan perang, yang pantang tunduk
Hanya sampah, yang berkobar membakar istana
WIRA                     Cukup!! Aku mencium pemberontakan dari mulutmu. Baik. Baiklah. Baiklah jika itu maumu. Sama sekali tak tahu diuntung!
Mulai sekarang kamu akan membayar pajak kepadaku. Setiap bulan, setiap minggu, atau kapanpun sesukaku, orang-orangku akan datang menemuimu dan menagih berapa yang harus kamu bayarkan. Sampai kamu akan benar-benar mengerti siapa aku, Sampai kamu sungguh-sungguh tahu bagaimana kamu harus bersikap dan berpikir.
Bawa pergi dari hadapanku, dan jangan sampai aku melihatnya ada di lingkungan istana. Awasi gerak-geriknya!
KAWAN WIRA 3    Baik. Dua perempuan lain yang bersamanya, bagaimana?
NARA                    Biarkan Ibu dan Gendhuk bersamaku, kemanapun aku pergi.
WIRA                     Terserah!
NARA DIGELANDANG KELUAR. BLACK OUT.



BABAK 3
Scene 7
PANGGUNG NAMPAK TERANG. TERLIHAT ORANG-ORANG, NAMPAK GEMBIRA. MUSIK RIANG.
                        Suara suara dari mulut berbusa
                        Mulai bergemuruh di tiap sudut kota
                        Suara suara berdengung di cakrawala
                        Tak jelas siapa yang sebenarnya mereka bela
                        Sayup sayup menidurkan hati nurani
                        Hanya fatamorgana dan penuh arogansi
                        Ombak api
                        Bergulung hingga ke tepi
                        Ombak api
                        Bangunkan hati dan jiwa
Ombak api
                        Berani hidup tak takut mati
GENDHUK     Nah, seperti yang sudah saudara-saudari duga, malam ini kita berkumpul di sini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk selebrasi kecil-kecilan. Tasyakuran. Karena betapa pun, kita semua telah bersusahpayah mendapatkan keberhasilan, paling tidak sampai saat ini. Segala kewajiban pajak yang harus kami bayar, kami bisa penuhi tanpa kurang suatu apa. Bahkan usaha yang kita bangun, semakin berkembang.
Betul begitu to, Mbakyu? Dan Mbakyu Nara dalam kesempatan ini juga menyampaikan rasa terimakasih yang setinggi-tingginya kepada semua rekan bisnis atas kepercayaan yang selama ini terbangun.
                     Tentu, tentu selebrasi ini akan diteruskan nanti dengan berbagai hiburan di panggung, dan sajian-sajian istimewa di meja meja makan. Saudara-saudari diundang untuk menikmati itu semua.
                     (TARI KRETEK)
Dengan bangga Gendhuk mempersilakan Mbakyu Nara untuk berbicara untuk kita semua.
PANGGUNG SEBENTAR GELAP, KEMUDIAN CAHAYA SEMBURAT DARI BELAKANG NARA YANG SECARA PERLAHAN-LAHAN MUNCUL. PANGGUNG PELAHAN MULAI BENDERANG, DAN NAMPAK NARA SEBENTAR MENGHELA NAFAS SERAYA MEMPERHATIKAN SELURUH ISI RUANGAN.
NARA            Kehidupan ini pasti akan berangsur-angsur semakin menjadi lebih baik. Namun akan ada banyak rasa sakit, korban dan pengorbanan. Seperti bayi yang menangis saat mendapatkan nafas pertamanya. Karena kehidupan ini sulit dan pahit.
Malam ini bukanlah sebuah malam hingarbingar atas kemenangan. Malam ini adalah malam dimana aku ingin mengecam kalian semua. Jika kamu hidup sebagai pekerja, kamu bukanlah pekerja. Jika hidup sebagai prajurit, kamu bukanlah prajurit. Jika hidupmu seorang nelayan, kamu bukanlah nelayan. Jika hidupmu habis untuk apa yang kamu kerjakan, lalu siapa kamu sebenarnya?
ORANG         Ya, lalu menurutmu kita ini siapa?
NARA            Butiran pasir yang menggelora bersama angin.
Jamur yang tumbuh di bongkar Kayu tua atau kota kuda, yang dipenuhi cahaya hidup.
Kita adalah sampah! Sampah yang memiliki semangat hidup menandingi kematian!
SONTAK SEMUA ORANG BERTEPUK TANGAN. KEMUDIAN NARA BERMAKSUD KEMBALI KELUAR, NAMUN TERTAHAN, SESEORANG MEMANGGIL-MANGGIL NAMANYA.
PRANA          Nara! Nara!! Hebat sekali! Kata-katamu menggugah semangat orang-orang di sini.
NARA            Kamu...
PRANA          Ya, Prana. Kamu lupa?
NARA            Tidak. Ada apa kamu di sini?
PRANA          Aku sudah beberapa kali ke sini, untuk urusan bisnis. Mengirim kain kain Batik. Aku melanjutkan apa yang sudah dirintis Ibu, menjadi pengusaha.
NARA            Ya, Ibumu memang seorang yang luar biasa. Menjadi perempuan pengusaha yang sukses, menjadi nahkoda kapal dan memimpin sendiri pelayaran-pelayarannya. Dan sekarang, menurun rupanya..
PRANA          Iya. Ehm... Terus terang aku kehilangan berita tentangmu, semenjak Gola dihancurkan Wira. Ternyata kamu ada di sini.
NARA            Wira membawaku ke sini. Sebagai harta rampasan perang.
PRANA          Apa? Maksudmu? Kamu dijadikan selirnya?
NARA            Dia mungkin berharap begitu.
PRANA          Tapi?
NARA            Aku tidak mau. Dan karenanya aku diwajibkan setor uang sebagai pajak.
PRANA          Aku benar-benar belum mengerti.... Tapi, Nara... (BELUM SELESAI BERBICARA, TERDENGAR ORANG-ORANG WIRA BERTERIAK-TERIAK DAN MASUK)
KAWAN-KAWAN WIRA MASUK, MEMPORAKPORANDAKAN APA YANG ADA. SIKAPNYA MENANTANGNYA KE SETIAP ORANG. SEHINGGA, SATU PERSATU ORANG-ORANG ITU BERLARIAN KE LUAR. DAN TINGGALLAH PRANA, NARA, GENDHUK DAN IBUNYA.
KAWAN WIRA 2          Atas instruksi yang terhormat Wira, hari ini Nara diwajibkan memenuhi kewajiban membayar pajak.
GENDHUK                   Bukankah baru kemarin saya melunasi kewajiban bayar pajak? Apa-apaan ini?!
IBUNYA GENDHUK      Coba kamu cek lagi. Siapa tahu kamu lupa mencatat dalam pembukuanmu.
KAWAN WIRA 2          Sudah. Semua sudah tercatat. Instruksi ini baru saja dikeluarkan. Kalian harus menyerahkan uang pajak sekarang juga.
PRANA                        Sebentar, apa mau kalian sebenarnya? Memungut pajak seenakmu sendiri. Nara sudah melunasi kewajibannya. Dan kamu akan memungut uang lagi? Pemerintah macam apa!
KAWAN WIRA 1          Kamu jangan ikut campur. Apalagi menyinggung-nyinggung soal pemerintah. Kamu tidak ada hak!
PRANA                        Sepanjang ada keadilan, silakan itu urusanmu! Tapi tindakanmu mengada-ada! Menginjak-injak keadilan! Apa maumu sebenarnya?
KAWAN WIRA 1          Hati-hati kamu bicara! Salah ucap, lidahmu bisa hilang selamanya! Sebaiknya kamu diam saja.
NARA                          Sudah, Prana. Biarkan saja mereka semaunya.
Kalian kembali ke tuanmu, katakan sama tuanmu: aku akan membayarnya!
LAMPU MEREMANG, ORANG-ORANG PERGI, MENYISAKAN CAHAYA KE NARA DAN PRANA.



Scene 8
PRANA     Nara, kamu menyanggupi untuk membayar? Ah, mereka ini sudah keterlaluan terhadapmu. Sudah melebihi batas.
NARA       Menurutmu, apa yang bisa aku lakukan selain menyanggupi?
PRANA     Negosiasi. Ya, negosiasi.
Mencari jalan tengah, untuk sama-sama menang.
NARA       Misalnya?
PRANA     Kita mesti menemui Wira, untuk membicarakan hal ini. Ada rembug dirembug, mestinya kan begitu. Tidak main grudak-gruduk seperti tadi.
Ya kalau memang benar Wira menyuruh menarik pajak lagi, kalau ternyata tidak? Berarti kan hanya permainan oknum para bawahannya yang memanfaatkan situasimu. Alih-alih membayar pajak, uang yang disetorkan malah ternyata dikorupsi, gimana coba?
NARA       Aku tidak berpikiran sampai ke situ. Yang aku tahu, orang-orang yang disuruh Wira itu orang-orang ABS, Asal Bapak Senang. Orang-orang cuma pinternya cari muka. Orang-orang yang bekerja tidak berdasarkan hati, tapi nuruti perut. Mana mungkin mereka berani macam-macam begitu.
PRANA     Tapi kamu kan belum tahu yang sebenarnya. Kita akan tahu kebenarannya, kalau kita menceritakan ini kepada Wira.
Lagipula aku dengar-dengar, Wira kan seorang panglima. Mestinya tindak-tanduknya juga layaknya seorang ksatria. Seorang yang berpegang teguh pada komitmen, berani, tapi juga pantang bersikap rendah. Apa yang dilakukan orang-orang Wira tadi, sama sekali tidak menunjukan sikap seorang Wira.
Kecuali...
NARA       Kecuali apa?
PRANA     Kecuali ia sudah bukan seorang ksatria.
NARA       Dia masih seorang penglima perang.
PRANA     Jabatannya. La hati dan jiwanya?
Seorang ksatria sejati, justru seorang yang menjunjung tinggi harga diri orang lain. Yang kulihat itu dari seorang Wira, kecuali kalau dia ada pamrih kepadamu. Ada maksud tertentu kepadamu.
NARA       Dia memang menginginkanku.
PRANA     Nah, ini akar masalahnya. Sudah terjawab. Wira menginginkanmu.
NARA       Tapi aku menolaknya.
PRANA     Kenapa kamu menolaknya?
NARA       Kenapa aku harus menuruti kemauannya?
KEDUANYA TERDIAM
PRANA     Artinya, sudah tidak perlu lagi negosiasi. Tapi, akan sampai kapan dibiarkan seperti ini. Tindakannya memungut pajak tinggi dan sewenang-wenang sama kamu. Kamu akan terus-terusan dinjak-injak seperti ini.
NARA       Bukankah lebih baik begini, daripada batinku tersiksa dengan menjadi selirnya?
PRANA     Iya, Nara.
NARA       Aku tidak ingin mengisi hidupku dengan sia-sia. Meskipun ia hanya butiran pasir. Meskipun dunia melihatnya sebagai sampah. Aku percaya, hidup setiap manusia, diberikan untuk perjuangan, untuk menyelesaikan setiap perkara, dan untuk sebuah kemenangan dan kemuliaan yang dicita-citakan.
Jika hidup adalah sesuatu yang telah selesai, maka untuk apa ada?
Apalagi hanya sebagai perhiasan istana, hanya pemuas nafsu belaka, hanya sebagai simbol atas kekalahan suatu bangsa.
PRANA     Ya Nara, aku setuju. Kalau begitu, apa rencanamu?
NARA       Aku ingin membuat hidup tidak sekedar hidup, Prana. Lepas dari belenggu apapun. Merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya, dimana aku mengerti dan berdaya.
Seringkali aku berpikir, apa yang harus aku bela atas diriku? Karena aku merasa sudah habis. Orangtua, pantai dan ombak, angin dan tanah, kampung dan bangsa….semua sudah terenggut, tak ada lagi padaku.
Aku dilahirkan tanpa tahu siapa ayah ibu kandungku yang sesungguhnya. Aku diseret ke kotapraja oleh Gola, meninggalkan pantai dan ombak sumber keceriaanku. Di kotapraja aku dijauhkan dengan orang-orang tercinta yang sebelumnya aku miliki, mencium aroma angin dan tanah yang tak ramah. Dan dari sana, Wira membawaku sebagai rampasan perang. Ia sudah meluluhlantakkan kampungku, menghancurkan mimpi dan cita-cita setiap orang di kampungku, dan sekarang aku harus melanjutkan hidupku di sini seolah semua baik-baik saja? Orangtuaku, pantai dan ombakku, kampung dan bangsaku sudah tak ada, tapi bukan berarti mereka tak ada, bukan? Mereka terus hidup dan bersuara di sini.
Maka aku bangun usaha apapun di sini, bersama orang-orang yang mengerti. Meskipun aku terus ditekan untuk selalu mampu membayar apa yang mereka sebut sebagai pajak.
Benar apa yang kamu katakan, akan sampai kapan? Karena mau tidak mau, penindasan ini harus dihentikan.
PRANA     Nara, aku ingin membantumu. Aku memang mendengar kamu tengah merencanakan sesuatu di sini, selain bisnis.
NARA       Pemberontakan.
PRANA     Ya, itu! Aku sendiri hanya seorang pengusaha, tidak tahu bagaimana harus berkelahi dan berperang sebagaimana seorang prajurit. Tapi, kukira aku akan tetap membantumu, dalam bentuk apapun itu. Percayalah.
IBU DAN GENDHUK MASUK
GENDHUK                   Hem... hem...!!
IBUNYA GENDHUK      Eh, masih ada tamu rupanya. Sudah larut begini.
PRANA                        Iya, Bu. Maaf.
Saya akan segera pamit.
GENDHUK                   Lah...nanti saja, ndak usah tergesa-gesa. Kamu teman Mbakyu Nara?
NARA                          Dulu. Sudah lama sekali.
GENDHUK                   Sekarang?
PRANA                        Sekarang, masih teman juga.
GENDHUK                   Teman apa teman?
IBUNYA GENDHUK      Gendhuk...!
GENDHUK                   Ada apa to, Bu? Aku cuma tanya koq...
IBUNYA GENDHUK      Kamu itu nek dibilangi ngeyel. Itu, resletingmu mbuka itu, mbok ditutup.
GENDHUK                   Mana? Gendhuk ndak punya resleting....
IBUNYA GENDHUK      (KE MULUTNYA) Ininya itu mbok ditutup. Sudah, jangan banyak omong.
Prana, maafkan Gendhuk. Ndak usah diambil hati.
PRANA                        Ndak apa-apa, Bu.
Ohya, saya membawa kain-kain batik khas pesisir. Ada batik Kudus, ada batik Pekalongan... Saya bisa memberikan untuk Ibu, Gendhuk dan Nara sebagai tanda mata.
IBUNYA GENDHUK      Aduuh, terimakasih banyak.
GENDHUK                   Boleh ambil dua?
NARA                          Prana ini memang seorang pengusaha. Dan mulai sekarang, kita berkerjasama dengan dia. Prana akan membuka galeri batik di sini.
GENDHUK                   Wah, bagus sekali. Nanti aku juga pengin bisa membatik. (KE PRANA) Kamu mau ngajari, kan?
PRANA                        Boleh.
NARA                          Asal jangan sampai lupa waktu.
IBUNYA GENDHUK      Kamu sendiri kan sudah banyak kerjaan, to? Aneh-aneh saja belajar mbatik. Mbatik bibirmu itu saja, biar meleleh ndak banyak ngomong lagi....
PRANA                        Ya sudah. Saya pamit dulu.
IBUNYA GENDHUK      Iya, maaf ya. Nanti kalau kemalaman masih di sini, dan ada orang lain tahu, malah jadi masalah. Besok lagi ya...
PRANA                        Benar. Nara, aku pamit dulu... Ohya, jangan takut, aku ingin membantumu. Apapun yang kamu rencanakan, aku dukung dan akan kubantu.
NARA                          Ya, Prana. Terimakasih.
BLACK OUT



Scene 9
SUASANA SEPERTI DI ALUN-ALUN KOTAPRAJA. DI SITU ORANG-ORANG MEMBICARAKAN KEBERHASILAN BISNIS NARA, JUGA DESAS-DESUS MIRING YANG BEREDAR DI TENGAH MASYARAKAT.
SUASANA DI TENGAH KERAMAIAN, SEPERTI PASAR, ATAU BISA JUGA ALUN-ALUN. DIMANA NAMPAK ORANG-ORANG BERSLIWERAN, KEMUDIAN ADA YANG MENJAJAKAN DAGANGAN, MELAYANI PEMBELIAN, DAN SEBAGAINYA.
MEREKA SEMUA AKTIF DAN DALAM SUASANA RIANG. SESEKALI TERDENGAR ADA YANG TAWAR-MENAWAR HARGA. ADA JUGA YANG MENGUMPAT KARENA HARGANYA YANG TIDAK LUMRAH. DEMIKIAN JUGA ADA YANG CEKIKIKAN TERTAHAN MENGGODA PENJUAL YANG CANTIK. DAN BEBERAPA WANITA PUN DI SEBERANG LAINNYA JUSTRU YANG SEPERTINYA TENGAH MENGGODA BEBERAPA LELAKI HIDUNG BELANG.
SEMENTARA ITU, SESEKALI MELINTASI SEORANG KAWAN WIRA, YANG SEPERTINYA TENGAH MENELISIK. PANDANGANNYA MENCARI-CARI SESEORANG, MESKIPUN IA SEPERTI SANGAT BERUSAHA TAK NAMPAK TERBACA BEGITU. KEMUDIAN IA KELUAR PANGGUNG. ORANG-ORANG YANG BERPAPASAN DENGANNYA PUN ADA YANG MENUNDUK, ATAU MINGGIR ATAU KEMUDIAN TIBA-TIBA TERDIAM DARI BICARANYA. SETELAH TAK NAMPAK, SUASANA KEMBALI SEPERTI SEMUA.
LALU TAK LAMA KEMUDIAN, DARI ARAH YANG LAIN DATANG KAWAN WIRA YANG LAIN. HAMPIR SAMA RESPON WARGA. NAMUN KALI INI KAWAN WIRA NAMPAKNYA LEBIH BANYAK DITERIMA, SEBAB IA PUN MURAH SENYUMMU KEPADA SIAPAPUN. BAHKAN BEBERAPA ORANG DENGAN TAK SUNGKAN MENGAJAKNYA UNTUK MAMPIR DAN NGOBROL BERSAMA. DENGAN HALUS, IA MENOLAKNYA. SATU HAL YANG MENJADI KELEMAHANNYA, MULUTNYA SERING KELEPASAN OMONG HAL-HAL YANG SEHARUSNYA RAHASIA.
ORANG                Wah, mas ini masih muda sudah berani memilih hidup menjadi abdi negara. Saya salut, mas. Eh mas, sini lo, istirahat sebentar. Mau minum apa? Kopi? Susu? Kopi Susu?
KAWAN WIRA      Ah, terimakasih banyak.
ORANG                Sudah, tinggal pilih saja, mas-nya suka minum apa?
(KE TEMANNYA) Wine, mungkin....
KAWAN WIRA      Ah, tidak usah repot-repot. Saya sedang bertugas, jadi tidak boleh saya berlama-lama di sini.
ORANG                Cuma sebentar saja, koq. Kopi? Susu? Kopi Susu?
KAWAN WIRA      Teh saja.
ORANG                Oh, cuma teh? (KEPADA TEMANNYA MENYURUH MEMESANKAN TEH)
ORANG                Ada apa to, mas? Hari hari ini sepertinya penjagaan lebih ketat, ya?
KAWAN WIRA      Ndak ada apa-apa. Tugas kami ya memang seperti itu, kan?
ORANG                Betul juga. Mas ini kayaknya orang jujur, ya?
KAWAN WIRA      Aku orang yang paling tidak suka kebohongan. Kita harus berani hidup jujur, apapun resikonya. Dalam hidup ini, jujur adalah yang terpenting.
ORANG                Iya, betul kan kata saya? Memang kelihatan, orang jujur itu kayak mas-nya ini. Wajahnya kelihatan cerah, itu menandakan punya aura positif.
Tapi ngomong ngomong, ini mas-nya baru dipindah-tugaskan di sini, ya? Soalnya kami baru ini lihat mas-nya...
KAWAN WIRA      Baru pertama ini ditugaskan di luar istana.
ORANG                Sebelumnya?
KAWAN WIRA      Di dalam istana.
ORANG                Ooo.... Cuma dari dalam terus ke luar, gitu tok to?
KAWAN WIRA      Ya, karena ada keadaan yang mendesak, dan membutuhkan tambahan penjagaan.
ORANG                Ada apa to sebenarnya?
KAWAN WIRA      Ndak ada apa-apa.
ORANG                Ah, jangan bohong. Kami ndak percaya. Belum ada semenit yang lalu, Kawan mas juga berkeliling di sini. Seperti mencari seseorang...
KAWAN WIRA      Iya
ORANG                Siapa yang lagi jadi buron?
KAWAN WIRA      Eh, ndak. Ndak ada. Kalian tenang saja, ndak ada apa-apa. Selama kalian hidup wajar, tidak aneh-aneh apalagi mengganggu orang lain, tidak perlu ada yang kalian khawatirkan.
ORANG                Yang dicari itu satu orang atau sekelompok orang, to mas?
KAWAN WIRA      Hanya satu orang
ORANG                Oo... Namanya?
KAWAN WIRA      Eh, bukan. Saya salah ngomong. Aduh, kalian ini. Jangan pancing-pancing saya, to...
(HENDAK BERGEGAS PERGI)
ORANG                (MENAHANNYA) Sebentar to...
Buronan itu namanya siapa?
KAWAN WIRA      Prana.
Ah, sudah.... Ini rahasia! Kenapa kamu nanya-nanya terus?
ORANG                Karena mas-nya orang jujur... !!
KAWAN WIRA      Awas ya, jangan bilang kepada siapapun soal ini. Aku bisa tidak dipercaya nanti. (PERGI)
DI SUDUT YANG LAIN
ORANG       Betul itu yang kamu katakan?
ORANG       Aku bohong itu ya gunanya buat apa? Kalau kamu ndak percaya, tanya sama ini. (KE TEMAN DI SEBELAHNYA). Dia ini malah tahu sendiri, bahkan pernah mencicipi sendiri.
ORANG       Bener?
DAN SESEORANG, YAKNI PRANA, TIBA-TIBA TELAH ADA BERSAMA MEREKA.
ORANG       Hei kamu jangan asal mangap!
ORANG       Loh, kemarin kamu sendiri yang cerita, kan?
ORANG       Kemarin memang aku crita soal bisnis yang dijalankan Nara, bisnis esek-esek. Tapi kamu ndak dengar waktu aku bilang ada catatan kakinya.
ORANG       Catatan kaki? Maksudmu?
ORANG       Catatan kaki, bahwa crita ku itu juga katanya katanya katanya ...
ORANG       Tapi kalau betul apa yang kamu dengar, ini berarti sudah ndak bener. Warga di sini itu baik-baik. Warga di sini itu baik-baik dan taat beribadah. Kalau nanti jadi rusak, ya berarti Nara itu musuh warga yang harus disingkirkan.
PRANA        Mbok sebaiknya jangan berprasangka buruk dulu. Tidak baik. Ya, kalau benar. Kalau salah? Jadi fitnah.
ORANG       Kamu itu siapa, koq tiba-tiba ikut nimbrung?
PRANA        Saya orang biasa. Hanya seorang penjual kain batik. Ini kain -kain batiknya, kalian mau beli? Satu dua potong boleh lah, buat penglaris.... Silakan dipilih sendiri yang kalian suka. Murah koq...
ORANG       Lagi ndak mood untuk beli batik, nanti saja. Ini lagi membahas soal hot, malah ditawari batik ...
ORANG       Tapi agak benar juga pendapatnya loh ... Nara itu selalu bisa membayar pajak yang dibebankan oleh Wira, bahkan kita lihat sendiri, namanya semakin terkenal dan dia semakin kaya. Memang mencurigakan, usaha-usaha yang dilakukan itu apakah benar-benar legal atau tidak. Tapi kita tetap jangan berprasangka jelek dulu ...
ORANG       Legal ndak legal, yang pasti mencurigakan, kan?
ORANG       Betul juga. Sebentar, atau mungkin Nara itu punya Jimat penglaris.
ORANG       Misalnya?
ORANG       Misalnya, dia pakai susuk di mulutnya agar apa yang dikatakannya mudah dipercaya orang. Atau pasang susuk di sini, dengan tujuan agar jalan pikirannya selalu masuk akal bagi orang lain yang mendengarkannya. Atau, bisa juga dipasang di sini, biar ...
ORANG       Kamu kepencut? Makin ndak nggenah omonganmu.
PRANA        Sudahlah, urusan orang lain itu biar diurus mereka sendiri. Kalian mikir urusanmu sendiri saja. Sudah sini, beli kain batik saja ... Ini karya seni kita yang sudah diakui dunia lo ...
ORANG       Beli itu buat apa? Paling enak di dunia ini, ya membicarakan orang lain, ya to ...?
ORANG       Lambemu ...
PRANA        Kalau kalian ndak suka, ya beli buat istri to ... Sesekali menyenangkan hati istri, itu malah dapat pahala ... bener ndak?
TIBA-TIBA NARA DATANG
PRANA        Nara, ada apa?
Kamu seperti tergesa-gesa.
NARA          Gawat. Orang-orang Wira datang ke tempatku, dan mencarimu.
PRANA        Mereka mencari aku? Memangnya ada apa?
NARA          Aku tidak tahu. Yang pasti, aku ingin kamu segera meninggalkan wilayah ini. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu.
PRANA        Nara ... Hei, kamu kelihatan seperti ketakutan begitu? Bukan, ini bukan Nara yang aku kenal. Nara tidak pernah takut menghadapi sesuatu apapun, bukan?
NARA          Aku tidak takut. Tidak pernah.
Tapi untuk kali ini, aku benar benar merasa khawatir mereka akan mencelakai kamu. Aku benar-benar tidak mampu untuk menghentikan lariku, dan mencari-carimu. Prana, dengarkan aku, segeralah pergi. Tinggalkan tempat ini.
PRANA        Tidak Nara ...
NARA          Prana, kamu mau dengar aku bukan?
Mereka mencarimu, dan aku melihat wajah mereka garang, blingsatan, seperti harimau yang haus darah. Ini jelas pertanda tak baik.
PRANA        Nara, kamu juga mau dengarkan aku, bukan?
Dengar, aku tidak takut kepada siapapun. Kepada hidup maupun kepada mati, aku tidak takut. Apalagi kalau untuk alasan yang dapat membuatku bahagia.
Lagi pula kenapa aku harus pergi, sementara aku tidak tahu apa alasanku pergi, Nara.
NARA          Aku tidak tahu kenapa mereka mencari kamu. Tetapi perasaanku mengatakan lain. Mereka mencarimu untuk maksud yang jahat.
PRANA        Iya, itu hanya perasaanmu. Maka tidak usah kuatir. Aku akan baik-baik saja. Percayalah.
NARA          Mengapa kamu tidak mau mendengarkan aku ...
Aku juga ingin kamu baikbaik saja.
TIBA-TIBA DATANG WIRA DAN KAWAN-KAWANNYA


Scene 10
TIBA-TIBA WIRA DAN KAWAN-KAWANNYA DATANG
NARA                      Prana, cepatlah kamu pergi dari sini.
PRANA                    Tidak, aku akan tetap di sini. Aku ingin tahu apa mau mereka sebenarnya.
WIRA                      Bagus!
KAWAN WIRA 1     Langsung saja kita tangkap!
WIRA                      (KEPADA KAWAN WIRA) Sebentar ... Benar ini yang bernama Prana?
KAWAN WIRA 2     Benar. Orang ini yang ternyata selama ini ada di balik pejuangan Nara. Terang saja Nara selalu bisa membayar pajak, karena orang ini selalu membantunya.
NARA          Jangan asal bicara!
PRANA        Kalian salah! Aku tidak memberikan bantuan apapun ke Nara. Dia mampu membayar pajak atas usaha-usahanya sendiri. Aku hanya rekan bisnisnya, tidak lebih.
WIRA          Awalnya begitu, tapi lama kelamaan? Hubungan kalian semakin akrab, kan? Bahkan melebihi dari apa yang dilihat orang-orang.
PRANA        Mana buktinya?
WIRA          Buktinya? Buktinya kalian ada di sini, berduaan. Itu bukan bukti? Kalian membahas bisnis di sini? (TERTAWA) Tidak mungkin!!
Tapi sudahlah, aku tidak apa-apa. Kalian memiliki kebebasan. Aku sendiri sudah menyatakan kamu boleh beraktivitas apapun, asal pajak kamu lunasi.
PRANA        Nah, kamu sendiri mengatakan demikian. Lalu kenapa kamu mencari cari aku?
WIRA          Persoalannya semakin rumit. Tidak sesederhana yang kamu pikirkan. (KEPADA NARA) Dan kerumitan ini berawal dari sikapmu. Semua yang selama ini aku hadapi selalu mudah, tetapi kamu membuat persoalan ini menjadi rumit.
Tidak pernah aku menjumpai orang yang begitu getol mempertahankan harga diri. Mereka semua selalu tunduk dan mau mengerti keinginan-keinginanku. Tetapi kamu, tidak sama sekali!
NARA          Aku sudah membayar pajak, dan itu memenuhi keinginanmu, bukan?
WIRA          Baiklah kalau kamu belum paham dengan keinginanku sesungguhnya. Itu terserah kamu saja! Demikian pun apa yang akan menjadi keputusanku, adalah terserah kehendakku.
Sebagai harta rampasan, sebaiknya kamu tidak bersikap seperti itu. Karena kamu dan bangsamu sudah dikalahkan. Bahkan untuk berbicara saja semestinya kamu meminta ijin terlihat dahulu, bukan malah bersikap melawan seperti ini.
Aku ingin kamu segera menyadari hal ini. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kamu inginkan.
Kembalilah ke istana, dan hidup damai bersamaku. Niscaya kita akan menyaksikan dan merasakan hal-hal menyenangkan di sana. Kamu tidak akan berusaha hidup seperti selama ini.
NARA          Cuh!
WIRA          (TERTAWA) Sekali lagi kamu menolaknya.
PRANA        Jangan paksa Nara menuruti keinginanmu, kalau dia tidak mau. Dan sebaiknya kamu mulai belajar untuk mendengar suara warga masyarakat. Bukan selalu mendengarkan nafsu-nafsumu semata!
WIRA          (TERTAWA) Kamu mengajari aku?
PRANA        Aku mengingatkanmu. Kamu seorang pimpinan. Orang-orang di sini menggantungkan harapan kehidupan yang lebih baik kepadamu. Tapi kalau kamu tidak mendengarkan mereka, jangan salahkan juga mereka akan bergerak sendiri. Mereka akan melawanmu!
WIRA          Cukup! Tangkap dia!
Tangkap juga siapapun yang melawan perintahku!
KAWAN-KAWAN WIRA MENANGKAP PRANA DAN MEMBAWANYA PERGI.
WIRA          Nara, cepat atau lambat kamu akan menerima tawaran baikku. Aku memberimu sedikit waktu dan kesempatan memikirkan itu lagi.
NARA          Aku sudah memikirkannya. Tidak usah memberiku waktu, seolah kamu baik kepadaku.
WIRA          Kita lihat saja nanti ...
LALU WIRA PERGI MENINGGALKAN NARA.
TAK BERAPA LAMA BEBERAPA ORANG TERGOPOH-GOPOH DATANG.
ORANG       Nara ...
ORANG       Nara ...
NARA          Ada apa?
ORANG       Rumah tempat usahamu dibakar orang ...
NARA          Apa? Ibu dan Gendhuk?
ORANG       Ibumu dan Gendhuk juga tidak kami temukan. Mungkin mereka dibawa Wira dan kawan-kawannya.
NAMPAK DI BAGIAN BELAKANG CAHAYA DARI API KEMERAHAN BERKOBAR-KOBAR. ORANG-ORANG BERLARIAN TUNGGANGLANGGANG, KACAU. UNTUK BEBERAPA SAAT. LALU TIBA-TIBA SENYAP. GELAP.
BLACK OUT.



Scene 11
DI BAGIAN BELAKANG PANGGUNG KINI NAMPAK 3 ORANG YANG TELAH MATI, TERGANTUNGGANTUNG PADA TALI, DAN MASIH DALAM KEADAAN TERBELENGGU. GENDHUK, IBUNYA GENDHUK DAN PRANA. MUSIK INSTRUMENTAL MOKSA.
PERLAHAN NARA JUGA NAMPAK DI PANGGUNG. MATANYA MERAH SEMBAB, NAMUN MENYALA.
NARA                   Mengapa kalian pergi meninggalkan aku? Mengapa?
Tidakkah kalian lihat, perjuangan ini belum selesai. Kemerdekaan yang kita cita-citakan belum tercapai.
TIGA PRIBADI      Ialah Gendhuk. Melihatnya adalah melihat keceriaan bocah yang tak pernah mengenal lelah. Tawa dan keberanianmu bicara jujur, adalah kerinduan manusia hari ini. Karena setiap dari mereka saat ini dikuasai ketakutan-ketakutan. Terlebih takut untuk menjumpai diri mereka sendiri yang rapuh. Tapi dia tidak. Dia adalah keceriaan dan kejujuran itu sendiri.
NARA                   Aku akan sepi tanpanya, tak ubahnya berjalan di tengah malam yang tanpa ujung.
TIGA PRIBADI      Ibu, kasihnya seperti langit di kehidupan ini. Ia merengkuh dan memeluk semua yang tumbuh dari dalam diriku. Segala hal baik dan buruk yang ada padamu, ia pahami dengan sepenuh cinta. Bahkan di saat hujan badai dan kesulitan hidupmu bertubi-tubi, ia setia di sini bersamamu. Turut serta merasakan apa yang kamu rasakan. Dia adalah rahim kebajikan-kebajikan.
NARA                   Di mana aku akan mencari pedoman, jika kamu pun tiada.
TIGA PRIBADI      Prana, adalah makna kehadiran. Dari tiada kembali tiada, tetapi dia telah hadir dan memberi makna. Ialah untuk apa hidup ini dianugrahkan. Ialah tujuan mengapa ada. Namun kita juga harus menyadari bahwa setelahnya, kembali tiada. Untuk itulah namanya diciptakan, namanya ditulis, dan namanya terukir di hatimu.
NARA                   Kamu adalah ingatan akan sebuah makna kehadiran.
TIGA PRIBADI      Nara, kamulah api yang menyala. Kamulah jiwa yang dipenuhi gairah hidup, sebagaimana api yang menyala.
Sucikan kembali hatimu. Dan lanjutkan apa yang telah dimulai. Selesaikan apa yang harus kamu selesaikan. Nyala api di dalam jiwamu, dibutuhkan setiap manusia, di seluruh bangsa-bangsa.
KEMUDIAN PANGGUNG TERANG, DAN HANYA MENYISAKAN NARA BERDIRI DI TENGAH PANGGUNG.
NARA MERENTANGKAN KEDUA TANGANNYA.
NARA                   Terjadilah....
LAMAT-LAMAT TERDENGAR NYANYIAN MOKSA.

Di hadapanmu, aku terpaku
Lembayung senja redupkan mata
Tak kucemaskan lagi kali ini
Sesuatu yang datang pasti akan pergi
Tetaplah engkau berteguh hati

Di hadapanmu, engkau pesona
Leleh egoku luluh angkuhku
Habis kata habis suara tinggal rasa
Melambung di langit kedamaian
Yakinlah kita selalu bersama
BLACKOUT
LAGU PENUTUP
SEMESTA SAHABAT

Sungguh damailah rasanya
saat pandang langit biru
Burungburung pun beterbangan melintasi matahari
Lalu angin berhembus di antara rumputan
Menyejukkan suasana, mengisi ruang jiwa

Selayang kuingat dirimu
Saat semua tlah berlalu
Kita kuat jika bersama melewati suka duka
Lari dan terbang tinggi tak peduli onak duri
Kita bergandeng tangan, kita saling kuatkan

END