kugenggam tanganmu, kucium pipimu dan kubisikan cinta ke hatimu- Asa Jatmiko

30/03/17

Sandyakala Nusantara

SANDYAKALA NUSANTARA
Naskah: Asa Jatmiko


ADEGAN 1
Indonesia the Great

SUARA GENDERANG, KEMUDIAN DISUSUL MUSIK DARI LAGU-LAGU PERJUANGAN ATAU LAGU NASIONAL. SUSUL MENYUSUL TERDENGAR JUGA SUARA PEMBACAAN TEKS PROKLAMASI OLEH SOEKARNO, ORASI BUNG TOMO, DAN SEBAGAINYA.

DARI SANA KEMUDIAN LAMAT MULAI TERDENGAR BEBERAPA MUSIK DAERAH DI INDONESIA, JUGA GEMERECAK MUSIK BARONGAN, BARONGSAI LALU IRAMA MUSIK KECAK BALI.

SEIRING DENGAN MUSIK DI ATAS, DARI BERBAGAI PENJURU MUNCUL ORANG-ORANG DENGAN MEMBAWA BENDERA MERAH PUTIH DARI BERBAGAI UKURAN. TIDAK ADA YANG SAMA. SEMUA ITU MENUNJUKAN BAHWA SETIAP WARGA NEGARA MEMILIKI KONTRIBUSI UNTUK BANGSANYA.

DENGAN PENUH KEGEMBIRAAN MEREKA MELAKUKAN SIMBOLISASI ATAS KEMAJUAN PEMBANGUNAN, KEBERAGAMAN, SALING MENGHORMATI, DAN SEBAGAINYA. HINGGA PADA AKHIRNYA MEREKA MEMBENTUK SATU BENTUK UTUH SEBUAH MENARA DENGAN SATU BENDERA MERAH PUTIH DI PUNCAKNYA.



ADEGAN 2
Siasat Penghancuran

DARI ARAH PANGGUNG YANG BERLAWANAN, MUNCUL BEBERAPA ORANG LAYAKNYA BODYGUARD (DENGAN PAKAIAN PREMAN) MENGIRINGI MASUKNYA MISTER BOSS. SALAH SEORANG BODYGUARD MEMBAWAKAN TASNYA.

MEREKA MEMPERBINCANGKAN KEGAGALAN-KEGAGALAN YANG TELAH MEREKA RAIH SELAMA INI. DAN ITU LEBIH BANYAK KARENA PENYALUR TERLALU TELEDOR. MENINGGALKAN JEJAK. DAN GAMPANG TERDETEKSI.

SALAH SATU ANAK BUAHNYA, MUNGKIN DARI INDONESIA, MENCOBA MENGUSULKAN CARA BARU. OBAT-OBATAN TIDAK LAGI DIMASUKKAN KE PERLENGKAPAN SI PEMBAWA, TETAPI DITITIPKAN MELALUI ORANG LAIN YANG TIDAK DIKETAHUI.

USUL ITU DITERIMA. TETAPI MISTER BOSS KEMUDIAN MENERIMA TELEPON DARI FREDDY BUDIMAN. MEREKA MENYEPAKATI PENGIRIMAN BEBERAPA KILOGRAM KE SEBUAH ALAMAT TERTENTU. TENTU DIAKHIRI DENGAN PERBINCANGAN BERAPA DUIT YANG AKAN MEREKA TRANSFER.

KIM                              Saya tidak ingin kali ini gagal lagi. Kalian tahu, setiap kegagalan, biaya melulu. Setiap kegagalan, artinya pembengkakan dana.
BEJO                           Siap, Mister Boss! Saya jamin kali ini tidak akan gagal. Saya sudah tegaskan kepada mereka semua untuk lebih berhati-hati.
KIM                             Hati-hati? Hati-hati, katamu?! Hati-hati tok?!
BEJO                           Iya, Mister Boss!
KIM                             Ini! Mana mungkin berhasil kalau kamu Cuma mengandalkan “hati-hati”!
                                    Wahjan, kamu ini ceroboh sekali. Saya butuh yang konkret!!
BENHILL                      Mister Boss, tenang saja! Saya sudah paham dengan apa yang Mister maksudkan.
KIM                             Apa yang sudah kamu lakukan?
BENHILL                      Sebelum saya kemari, saya tadi sudah komunikasi kepada orang-orang di bawah, untuk memberi pengawalan kepada kurir kita. Mereka akan memastikan, kurir kita akan sampai ke tujuan dengan selamat dan tidak kurang suatu apa.
KIM                             Emoh, tidak bisa. Itu kurang konkret! La kalau kurir kita sampai tertangkap petugas, pengawal-pengawal itu bisa berbuat apa? Melawan petugas? Tidak mungkin, kan? Goblok!
PO                               (TERTAWA) Akhirnya berhasil!(TERTAWA)
WISTO                         Wisto, cekakak-cekikik! Katakan! Berhasil apa?
PO                               Kamu itu ya, ketawa saja ndak boleh…
WISTO                         Wisto, cepet ngomong!
PO                               Sabar! Sabaarrrr!! (KEPADA KIM) Begini Mister Boss, setelah saya utak-atik beberapa hari ini, dengan penuh ketelitian dan kecermatan. Juga dengan segala daya kecerdasan yang saya miliki…
WISTO                         Wistooooo….!
BENHILL                      To the point!
BEJO                           Langsung saja, intinya!
KIM                             Lanjutkan, Po!
PO                               Jangan sebut saya Po’o kalau tidak bisa meretas jaringan komunikasi di Negara tujuan. Kalau kita mau, kita bisa mengambil alih kendali pesawat terbang yang memasuki Negara tersebut, menjadi di bawah kendali kita. Pesawat bisa kita piloti dari sini! Hebat to?
KIM                             Yang hebat itu apanya? Kita sedang membahas pengantaran barang ke sebuah Negara lain. Bagaimana agar tidak gagal maning dan gagal maning. La kamu malah bicara tentang pesawat terbang! Dasar Po’o!!
PO                               Wah, itu baru permulaan, Mister. Nanti saya akan bicara sampai ke sana.
WISTO                         Wistoooo…lambemu turah!
BENHILL                      Kakehan teori!
BEJO                           Sudah, gini saja, Mister. Kita siapkan dana saja, buat nyuap para petugas di bandara. Pasti beres. Para petugas itu kan juga manusia, butuh makan, butuh rumahnya yang bocor diperbaiki, butuh naik mobil ke kantor agar tidak kehujanan dan kepanasan. (KEPADA REKANNYA) Iyo, ndak?
BENHILL                      Ndak! Kadang ada petugas yang tidak mempan kita suap, Mister. Saya tahu sendiri. Malah saya yang malu karena petugas itu tidak mau menerima uang sogokan saya. Jangan, Mister! Too dangerous!
WISTO                         Wistooo, apa kata Mister Boss, kita jalankan. Kita manut saja.
KIM                             Manut gundulmu! Kalian itu kepengin hidup enak ndak sih? Kepengin merasakan nikmatnya sorga dunia, ndak sih? Kalian bloon semua! Mbok mikir sedikit! Semua semua koq harus aku!! (SAMBIL MEMERIKSA HP YANG DIRASANYA BERGETAR)



ADEGAN 3
Rakusnya Keinginan

SESEORANG (PEMUDA A) YANG TENGAH MERENGEK MINTA SABU-SABU, KEPADA SESEORANG YANG SECARA FISIK NAMPAK SEHAT, ORANG CERDAS DAN KALEM. TIDAK NAMPAK ORANG ITU ADALAH PENYALUR SHABU. MAKA BAGI SESEORANG (PEMUDA B) YANG MERENGEK, DIA BAGAIKAN SEORANG DEWA.

PEMUDA A TENGAH ASYIK MENGHITUNG LEMBARAN-LEMBARAN UANG. TAK BERAPA LAMA KEMUDIAN SIBUK DENGAN SMARTPHONE-NYA. TIBA-TIBA IA MELIHAT SESEORANG BERSIJINGKAT MASUK HENDAK MENGHAMPIRINYA, MELIHAT KANAN KIRI DAN SEKELILING DENGAN CEMAS, TUBUHNYA MENGGIGIL, KEDUA TANGANNYA DIMASUKKANNYA KE SAKU JAKET.)

PEMUDA A                  He! Kamu siapa?! (IA MENDEKAT KE PEMUDA B, DAN MENGANGKAT KRAH BAJUNYA)
PEMUDA B                  Mas, ini saya….Jupri. Masnya koq lupa?
PEMUDA A                  Oh…..anaknya Tante Mira?
PEMUDA B                  Betul, mas. Wah, ternyata masnya ndak lupa saya. Syukurlah.
PEMUDA A                  Siapa tadi namamu?
PEMUDA B                  Ju…Pri….
PEMUDA A                  Koq namamu ndak keren ya… Makanya aku ndak ingat kamu siapa.
PEMUDA B                  La, tadi kan tahu Mamah saya?
PEMUDA A                  Kalau Tante Mira si, aku sulit lupa!! Haha… (LALU PERHATIANNYA KEMBALI KE SMARTPHONE-NYA)
PEMUDA B                  Mas….
PEMUDA A                  Ehm….
PEMUDA B                  Saya butuh nih!
PEMUDA A                  (DIAM SAJA, MASIH ASYIK DENGAN SPARTPHONE)
PEMUDA B                  Mas…. Saya butuh beneran. Saya beli. Ada barangnya, kan?
PEMUDA A                  (TIBA-TIBA BERSIKAP GALAK, TETAPI SUARANYA SEPERTI DITAHAN) Jangan ribut! Kamu jangan ribut di sini! Ini tempat umum. Berbahaya! Pagar, tembok dan jalanan bisa bicara, tahu!!
PEMUDA B                  Mereka bisa bicara?!
PEMUDA A                  Mereka bisa melihat kita, dan berbicara saling berbicara! Tahu-tahu kita ditangkap gimana?! Tolol! Sudah, jangan bahas di sini!
PEMUDA B                  Mas, tapi saya sangat butuh ini…
PEMUDA A                  Aku ndak peduli. Kamu cari saja sendiri! Di tempat lain sana! Aku lagi sibuk….
PEMUDA B                  Mas… tolonglah mas…. Aku bisa mati…
PEMUDA A                  Moh! Mati sakarepmu, urip sakarepmu!
PEMUDA B                  Mas…tolonglah… berapa, mas?
PEMUDA A                  Ndaak ada! Sudah aku bilang, ndak ada! Jangan ngeyel! Pergi sana! Cepet!
PEMUDA B                  Mas… (NANGIS. MULAI MENGELUARKAN UANG DARI SAKUNYA. UANGNYA KUCEL, BEBERAPA ADA YANG JATUH) Sedikit saja…
PEMUDA A                  Eit…eit..!! Jangan keras-keras!! (SAMBIL MENERIMA UANG, MENGAMBIL UANG YANG JATUH, MENGHITUNGNYA). Ini berapa? Kurang…. Mbawa barang ini resiko tinggi! Taruhannya nyawa, tahu?!

TIBA-TIBA DATANG SEROMBONGAN ANAK-ANAK BERLARIAN, TAKUT-TAKUT BERANI, SEPERTI SEDANG DIKEJAR-KEJAR PETUGAS.

ANAK 1                        Koq malah lari ke sini, to?
ANAK 2                        La kemana?
ANAK 3                        Mestinya ke arah gang, sebelah kanan ruko tadi…
ANAK 4                        Ngawur, tadi ada petugas di ujung gang!!  Mateni wong!
ANAK 1                        Tapi mestinya jangan ke sini. La terus, mana mase tadi…(TENGOK SANA-SINI) Laaa, ilang to..?
ANAK 3                        Tadi itu ikut sama kita.
ANAK 2                        (TIBA-TIBA MELIHAT KE ARAH SEBERANG) Itu mase…!

ORANG YANG DISEBUT MASE, PEMUDA C, SUDAH LAGI DUDUK ONGKANG-ONGKANG DI POJOKAN. ANAK-ANAK DATANG MENGHAMPIRI.

ANAK 4                        Mase lari kemana tadi? Kami cari-cari mase…
PEMUDA C                  (WIBAWA) Tidak kemana-mana. Kalian tidak tahu, karena kalian masih bau kencur… Aku bisa hinggap dan terbang kemana aku suka.
ANAK 1                        Oh..ya ya… (KEPADA TEMANNYA) Berarti Mase ini sudah bau tanah, makanya bisa terbang!
ANAK 2                        Ngawur!
PEMUDA C                  Ilmu kalian masih cethek. Ibarat air beriak, tandanya tak dalam. Kalian ngecipris tapi ndak isi otaknya!
ANAK 3                        Mas… Mase punya resep untuk bisa seperti Mase, ndak?
ANAK 4                        Iya, mas. Bagi-bagi ilmunya, dong….
ANAK 1                        Resep agar bau tanah?
ANAK 4                        Boleh..boleh… Kalau bau tanah, bisa terbang, kan?
ANAK 2                        Artinya cepat mati!!
ANAK 4                        Wah, yo jangan… resep atau ilmu yang bisa terbang itu, lo…
PEMUDA C                  Sudahlah, jangan ribut melulu. Kalau mau ribut, sana di tempat lain. Jangan di sini.
ANAK 3                        Maaf, mase… ini tadi bukan ribut. Kami lagi berdiskusi…hehe…
ANAK 2                        haish…gayamu…diskusi… Itu padu! Adu mulut! Goblok!
PEMUDA C                  Kalau kalian ingin otak kalian lebih encer, itu soal mudah.
SEMUA ANAK              Mau… mau, mase..
PEMUDA C                  Kalau kalian ingin menghiasi kehidupan kalian dengan eforia rasa gembira, itu tidak sulit…
SEMUA ANAK              Waaah…uenake…. Mau, mase…
PEMUDA C                  Bahkan kalau kalian ingin mencicipi sorga dunia, itu soal kecil.
SEMUA ANAK              Woooow….keren!! Mau, mase…
PEMUDA C                  Kalian itu memang anak-anak cerdas, tapi pemalas! Haha…
                                    Tapi sudahlah… tidak apa-apa.
                                    (IA MENYALAKAN LINTHINGAN ROKOK. SATU HISAPAN, LALU MEMBERIKAN KE MEREKA.) Ini, santai saja dulu… Nanti aku kasih tahu resep dan ilmunya…

MEREKA MENCOBA MENGHISAP. BEBERAPA TERBATUK-BATUK. TAPI MINTA LAGI JUGA.

ROMI                          (TERLIHAT PUCAT LEMAS DAN BERKERINGAT, TAPI IA MERASA MENGGIGIL KEDINGINAN. BADANNYA GEMETARAN.)
MAMA                        Kamu ndak masuk sekolah?
ROMI                          (MENGGELENGKAN KEPALA)
MAMA                        Kamu sakit? Wajahmu pucat begitu…
                                    Ibu antar ke dokter, ya? Nanti sekalian minta surat dokter untuk ijin ndak masuk sekolah.
ROMI                          Jangan, Bu! Ndak usah!
MAMA                        Hei…jangan begitu! Nanti tambah parah sakitmu.
ROMI                          Jangan, Bu… Aku ndak mau ke dokter!
MAMA                        Ndak mau? Kamu ndak sakit?
ROMI                          (MENGANGGUK. TAPI KEMUDIAN MERINGIS KESAKITAN)
MAMA                        Ehm… Aneh.
                                    Ohya, kemarin kamu dicari teman-temanmu. Katanya mau nagih utang. Kamu punya utang sama mereka?
ROMI                          (DIAM SAJA)
MAMA                        Kamu punya utang berapa? Dan untuk apa uangnya?
                                    Ibu kan sudah membelikan semua kebutuhan sekolahmu.
                                    Ibu ndak percaya kamu punya utang sama mereka.
                                    Makanya aku bilang sama mereka, “He, anak-anak berandalan! Ngawur saja kalau anakku punya utang sama kalian. Ibunya Romi itu tidak miskin-miskin amat! Cuh! Minggat sana! Ada-ada saja kalian!”
                                   
Eh, tahu ndak, mereka diam saja. Tapi juga ndak pergi minggat dari halaman rumah. (KE ROMI) Kamu tidak punya utang, kan?

“Kalau cuma membeli semua handphone kalian, Ibunya Romi mampu. Sini! Berapa semua itu? Lima juta?! Sepuluh?! Berapa?! Enak saja kalian itu menuduh anak orang punya utang!

Tapi kalau kalian ke sini untuk nagih utang, nuduh anakku punya utang, satu rupiah pun tidak akan aku kasih! Kalian nagih ke sini saja, itu sudah penghinaan! Pergi sana!” Tapi Romi, mereka ndak pergi juga. Akhirnya aku ndak tahan, “atau aku panggil polisi! Iya?!” Baru mereka terbirit-birit pergi.

ROMI                           Aduuh… aduuh….! Perutku sakit….
MAMA                         Apanya yang sakit? Perut?
ROMI                           Dingin, Bu. Dingiiin…
MAMA                         Kamu kedinginan?! Sebentar Ibu ambilkan selimut…
ROMI                           Aduuh… aduuh….
MAMA                         Kamu itu kenapa, to ya? (IBUNYA ROMI SEMAKIN PANIK). Ke dokter, ya?
ROMI                           Emoh!! Emoh!!
MAMA                         Kamu itu kenapa? Kalau sakit, bukannya harus ke dokter?!
                                    Loh, selimutmu mana? Ndak ada?
                                    Baju…lengan panjang…? Koq ndak ada semua?
                                    Rooomiiiiii!!
                                    Dimana semua barang-barangmu? Komputer di kamar, ndak ada! Gitarmu, ndak ada! Romi!! Dimana semua barang-barangmu!

                                    He, kamu jual? Iya? Kamu gadaikan? Dimana? Aduuh….keterlalu kamu ini, Romi!! (IBUNYA MULAI NGAMUK)

                                   
SANG IBU LEBIH MERASA KELARA-LARA KARENA HAMPIR SEMUA BARANG MILIK ANAKNYA HAMPIR TIDAK ADA YANG TERSISA DI KAMARNYA.

ADEGAN-ADEGAN DI ATAS BISA MUNCUL SATU ADEGAN SEKALIGUS BEBERAPA KELOMPOK. BISA JUGA DIBUAT MUNCUL SATU KELOMPOK SATU ADEGAN YANG KEMUDIAN TERANGKAI MENJADI SATU AKHIRNYA.


ADEGAN 4
Ibu Kartini Bersusah Hati

PANGGUNG TELAH BERISI ORANG-ORANG DI ADEGAN 3 DALAM KONDISI YANG MENGKHAWATIRKAN. BEBERAPA DARI MEREKA TERLIHAT BERSITEGANG DALAM KETAKBERDAYAAN MASING-MASING.

DI LAYAR BELAKANG YANG BERKIBARAN, MUNCUL SERAUT WAJAH R.A. KARTINI. KEMUDIAN SEIRING LENYAPNYA SERAUT WAJAH TERSEBUT, DI PANGGUNG BAGIAN BELAKANG DI ATAS SEBUAH LEVEL/STAGE YANG LEBIH TINGGI, NAMPAK SESOSOK KARTINI YANG TENGAH MENULIS. SESEKALI IA MELIHAT KE ARAH ORANG-ORANG YANG KONDISINYA MENGKHAWATIRKAN ITU.

MUSIK LAMAT MENGALUN MUSIK MENYAYAT “KULIHAT IBU PERTIWI, SEDANG BERSUSAH HATI”.

KARTINI:          Telah kudengar kabar. Telah kusaksikan perjalanan, peristiwa demi peristiwa. semua berita. Telah suntuk aku dalam doa sepanjang usia.

Apakah yang telah terjadi dengan kalian? Anak-anak bangsa layu. Bunga-bunga bangsa masa depan patah dan terserak di jalanan, di ujung-ujung gang, di remang cahaya bulan.

Tidakkah kalian pernah rasa, tangan yang membelaimu dengan kasih sayang? Tetapi kenapa tangan kalian keras berkarat, seperti tersepuh garam kebencian. Tangan-tangan terkepal, ada pekik amarah, lalu di antara kalian saling berebut kuasa.

Anak-anakku, tahukah kalian, ada yang menangis kesakitan, ada yang pingsan, ada yang sekarat terhimpit ambisi kalian. Aku memimpikan anak-anak yang gembira, yang bertumbuh pada akar kebangsaan yang kuat. Gotongroyong membangun rumah dan jembatan, berbondongbondong mengangkat yang kekurangan dan bersitegak jadi tameng perlindungan bagi yang lemah.

Oh, cakrawala jingga, mengaburkan sayup cahaya sang surya. Oh, nusantara, inikah sandyakala....

Bangunlah. Lihatlah tanahtanah terbelah, menantikan olah tanganmu. Lihatlah bumi yang muram, menantinantikan kehadiranmu. Lihatlah di ujung lorong, semburat cahaya benderang memandumu untuk kembali. Janganlah terjebak di sini, membiarkan diri lupa, membiarkan kehidupan berangsurangsur dihancurkan.

Anakku, perjalanan masih panjang. Bangun jiwamu dan hiduplah. Hidup ini terlalu pendek. Sementara pekerjaan banyak sekali menunggu. Bangun jiwamu dan hiduplah. Ibu selalu ada bersamamu.


ADEGAN 5
Border Line – Customs Protection

TERSENGAR DESING SUARA BOEING. KEMUDIAN TERLIHAT ORANG-ORANG ANTREE DI PINTU KEDATANGAN LUAR NEGERI, MENUJU PEMINDAI (SINAR LASER DAN METAL DETECTOR).

SALAH SEORANG YANG MENJADI BODYGUARD NAMPAK BEGITU PERCAYA DIRI KETIKA SAMPAI DI DEPAN PETUGAS. KARENA PETUGAS MENARUH KECURIGAAN, IA DIAJAK MASUK KE KANTOR.

DI URUTAN BELAKANGNYA, HANYA BERSELANG DUA ATAU TIGA ORANG, TERLIHAT SEORANG WANITA TKI JUGA DICURIGAI. SEHINGGA IA SELANJUTNYA DIBAWA KE KANTOR UNTUK DIINTEROGASI.


Sesi 1
ANJING PELACAK DURASI 3-5 MENIT.

Sesi 2
PETUGAS BEA CUKAI CD MEMINTA CD KE SUSPEK WANITA. PENUMPANG LAKI-LAKI DIALOG TANPA SUARA. DIIKUTI PENUMPANG LAINYA.
Filipus Bea Cukai          : (Meminta CD kepada Suspek Wanita)
Suspek Wanita              : (Menyerahkan CD)
Filipus Bea Cukai          : “Berapa lama di Indonesia?”
Suspek Wanita              : “1 bulan”
Filipus Bea Cukai          : “Dalam rangka apa di Indonesia?”
Suspek Wanita              : “Liburan dan menengok keluarga”
Filipus Bea Cukai          : “Terima kasih, silahkan!” (Mempersilahkan ke pemeriksaan badan)
                                      (Untuk penumpang yang lain pada sesi 2 dialog tanpa suara)
SUSPEK WANITA MENUJU PEMERIKSAAN BADAN DAN X-RAY HINGGA SAMPAI DI TEMPAT PEMERIKSA BARANG DI MEJA PEMERIKSAAN.
Pemeriksa Bea Cukai    : “Apakah tas ini milik ibu?”
Suspek Wanita              : “Iya betul”
Pemeriksa Bea Cukai    : “Permisi silahkan dibuka tas bawaannya!” (Bertanya isi rinci bawaan)
Suspek Wanita              : (Menjelaskan isi bawaannya)”
Pemeriksa Bea Cukai    : “Apa tas ini juga milik ibu?”
Suspek Wanita              : “Bukan saya tidak tahu”
Pemeriksa Bea Cukai    : “Ibu tahu tas ini atau tidak?”
Suspek Wanita              : “Saya tidak tahu Pak, saya Cuma dititipin Pak”
Pemeriksa Bea Cukai    : “Saya periksa ya” (Sambil membuka tas dan menemukan barang)
Suspek Wanita              : “Silahkan Pak”
SETELAH DIPERIKSA DITEMUKAN BUNGKUSAN PLASTIK YANG DIDUGA BERISI NARKOTIKA
Pemeriksa Bea Cukai    : “ Ibu tahu apa yang ada didalam tas ini ?” ( Setelah memeriksa isi tas dan menemukan sebuah bungkusan yang diduga narkotika dan menunjukanya kepada Suspek Wanita)
Suspek Wanita              : “Tidak tahu pak” (kaget, nangis, mengelak)
Agus Bea Cukai             : “Sudah Bu..! Silahkan Ibu Ikut Saya!”

SELANJUTNYA SUSPEK WANITA DIBAWA KE RUANG PEMERIKSAAN


Sesi 3
PENUMPANG TETAP BERJALAN PELAN UNTUK MENGIKUTI PROSEDUR CEK DI BANDARA. SUSPEK PUTRA DIALOG DENGAN PETUGAS BEA CUKAI CD WANITA. SUSPEK MENYERAHKAN CD KE PETUGAS.

Hening Bea Cukai         : “Bisa ditunjukkan CD nya Pak?”
Suspek Putra                 : “Yang mana ya…?”
Hening Bea Cukai         : “Yang seperti ini!” (Sambil menunjukkan contoh CD penumpang yang lain) “Dan apakah ada barang bawaan yang diberitahukan?”
Suspek Putra                 : “Tidak ada”
Hening   Bea Cukai       : “Oke, silahkan lanjut”
Suspek Putra                 : (melanjutkan ke lokasi X-RAY dan pemeriksaan badan)

SUSPEK PUTRA SAMPAI DI MEJA PEMERIKSAAN.

Andung Bea Cukai       : “Mohon ijin barangnya diperiksa dulu!”
Suspek Putra                 : “Lho ada apa ini Pak diperiksa-periksa? Saya pulang ke Negara sendiri kok dipersulit!? Kok Cuma saya yang diperiksa yang lain tidak?”
Andung Bea Cukai        : “Menurut pemeriksa X-RAY ada barang yang perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bisa tolong dibukan ini tasnya?”
Suspek Putra               : “Waduh kuncinya hilang Pak.” (Sambil ngeyel) “Ngapain sih dibuka segala, saya keburu waktu Pak!”
Andung Bea Cukai       : “Kalau tidak kuncinya saya buka paksa dengan disaksikan oleh Bapak.”
Suspek Putra               : “Apa-apaan ini! Tas saya ini tas mahal! Jangan buka paksa. Enak aja dirusak emang Bapak mau ganti?”
Andung Bea Cukai        : “Ya kalau tidak ada kuncinya, ya harus kita buka paksa pak.”
Suspek Putra               : (Sambil mencari kunci di kantong lalu menyerahkan ke petugas) “Ya  udah ini- ini kuncinya”
Andung Bea Cukai       : (Memeriksa barang yang ada di tas)
Suspek Putra                 : “Pak jangan diberantakin, susah nanti nyusunnya. Nyari apa sih Cuma
                                        pakaian aja.”
Andung Bea Cukai       : (Ternyata ditemukan bungkusan plastic yang diduga narkotika) “Ini apa Pak?”
Suspek Putra                 : “Apa itu pak? Cuma makanan!”
Andung Bea Cukai       : “Kita cek dulu ya Pak untuk memastikannya.” (Ditemukan Barang
                                                yang diduga sebagai narkotik dan ditunjukan kepada Suspek Putra)
Suspek Putra                 : “Jangan Pak jangan. Tolong bantu lah Pak! Cincay lahh… Pak.”
Agus Bea Cukai             : “Mari ikut saya!!”

SUSPEK DIBAWA MASUK KE RUANG PEMERIKSAAN

SELANJUTNYA PARA SUSPEK DIBAWA KE RUANG PRESS RELEASE DIKAWAL OLEH PETUGAS BEA CUKAI BERPAKAIAN LENGKAP DENGAN SENJATA UNTUK DIJELASKAN KASUS YANG DIJERAT KEPADANYA DAN MODUS MODUS YANG DILAKUKAN DI BANDARA UNTUK PENYULUNDUPAN NARKOTIK. SUSPEK DIPERLIHATKAN TAS BAWAAN YANG DIGUNAKAN UNTUK MEMBAWA NARKOTIK. DITUNJUKAN JUGA BADAN DAN SEPATU YANG DIGUNAKAN UNTUK MENYELUNDUPKAN NARKOTIK.


ADEGAN 6
Setiap Kita adalah Duta

DUA SISI PANGGUNG MASING-MASING MENINGGALKAN SEORANG LAKI-LAKI DAN SEORANG PEREMPUAN, DENGAN POSISI SEPERTI ADA DALAM TERALI BESI. LELAKI DI SEBELAH KIRI PANGGUNG, DAN PEREMPUAN DI SEBELAH KANAN PANGGUNG.

LELAKI ITU SEPERTINYA TIDAK MENYESALI PERBUATANNYA. IA TERTAWA-TAWA. BAHKAN IA MENGANGGAP REMEH PARA PETUGAS YANG BISA “DIBELI”. DI MANA SAJA, TERMASUK DARI PENJARA, DIA MERASA TETAP BISA “MENGHANCURKAN INDONESIA” MELALUI JARINGANNYA. DAN SEKALI LAGI, KEKAYAAN DAN KEKUASAAN, CITA-CITA UTAMANYA.

SEMENTARA PEREMPUAN DI SEBELAH KANAN TERLIHAT SEDIH. MENYESALI PERBUATANNYA. IA MERASA RELA KALAU HARUS MATI, DARIPADA HARUS TURUT MEMBUNUH INDONESIA. SELAMA INI DIA BERJUANG BUAT KELUARGA, BUAT DIRINYA. TETAPI TERNYATA, TERIKAT BERSAMA JIWA RAGANYA, DIA TETAPLAH INDONESIA DIMANA-MANA. MAKA IA SEDAPAT MUNGKIN DAN SEPENUH KEMAMPUANNYA, MEMBELA DAN MEMBAWA NAMA BAIK INDONESIA.

MASA DEPAN PEMUDA, ADALAH MASA DEPAN BANGSA.
SETIAP WARGA BANGSA, ADALAH DUTA BANGSA.
DI HATI DAN JIWANYA, BERKIBAR INDONESIA RAYA.

LALU ORANG-ORANG MASUK KE TENGAH PANGGUNG, MENGULANG-ULANG KALIMAT PEREMPUAN ITU:

MASA DEPAN PEMUDA, ADALAH MASA DEPAN BANGSA.
SETIAP WARGA BANGSA, ADALAH DUTA BANGSA.
DI HATI DAN JIWANYA, BERKIBAR INDONESIA RAYA.

MASA DEPAN PEMUDA, ADALAH MASA DEPAN BANGSA.
SETIAP WARGA BANGSA, ADALAH DUTA BANGSA.
DI HATI DAN JIWANYA, BERKIBAR INDONESIA RAYA.


HINGGA MEREKA BERANGSUR-ANGSUR MEMENUHI SELURUH PANGGUNG. LAYAR DITUTUP.

08/02/17

Seribu Puisi, Nol Penyair

Semenjak peluncuran buku puisi "Bayang-bayang Menara" oleh KPK pada Minggu, 20 Maret 2016 di Universitas Muria Kudus, saya mulai bertanya di dalam hati, para sastrawan Kudus terus-menerus dan tiada henti berkarya kecuali mereka yang muda. Dimanakah mereka? Atau kita secara tidak sadar telah abai terhadap regenerasi, menyambut bibit-bibit sastrawan muda bertumbuh? Atau di Kudus hari ini, memang benar-benar "tidak ada" mereka?

Aduh, judul buku "Bayang-bayang Menara" seolah-olah memperjelas keberadaan para sastrawan muda (saya menyebut sastrawan untuk menyebut penulis karya sastra baik laki-laki maupun perempuan), yang semakin hanya bayang-bayang.

Bayang-bayang siapa? Entah. Mungkin bayang-bayang dari nama-nama besar, seperti: Jumari HS, Mukti Sutarman Espe, MM Bhoernomo, Jimat Kalimasada, Thomas Budhi Santoso, dan nama-nama lainnya. Atau mungkin bayang-bayang atas "kemegahan Kudus" yang sudah kesuwur sehingga melenakan proses kreatif bersastra bagi generasi muda saat ini. Atau, jangan-jangan, karena bayang-bayang dunia datar yang tersaji di medsos yang telah membuat sastra menjadi kalah menarik.

Saya tidak ingin menyalahkan siapapun di sini, untuk mencari penyebab mengapa generasi muda bibit-bibit sastrawan di Kudus nyaris tak ada. Saya hanya khawatir, dalam 5 sampai 10 tahun ke depan, siapa orang Kudus yang akan menggumuli sastra dan mampu berbicara membawa Kudus dalam dunia sastra Indonesia. Sebagaimana yang telah dicapai gemilang para senior, seperti sastrawan-sastrawan yang telah saya sebut di atas.

Pada beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 2008, saya sempat menaruh harapan akan berseminya gairah kesastraan di Kudus. Ada Imam Khanafi dan kawan-kawannya di PEKA, dengan kegiatannya yang antara lain membuat buletin. Memuat berbagai tulisan di seputar sastra dan kesenian, juga menampung karya sastra (puisi dan cerpen).

Kemudian ada Ullyl Ch dengan Komunitas Sapta Rengga-nya. Ia dan kawan-kawan aktif menulis puisi, diskusi-diskusi kecil hingga kegiatan  pembacaan puisi di beberapa tempat. Saya sempat mengetahui kegiatan terakhir mereka adalah mengadakan kegiatan pentas seni di kecamatan-kecamatan. Meskipun agaknya "sedikit berbelok", menjadikannya penyelenggara kegiatan, Ullyl Ch dan kawan-kawan sempat memberi warna tersendiri dalam dinamika sastra di Kudus. Sesudah itu, kabar tak lagi terdengar.

Kudus dan kesastraannya kiranya sedikit banyak terbantu untuk bertumbuh, atau menyatakan diri masih ada regenerasi, dengan adanya beberapa kegiatan Fasbuk (Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus). Forum ini sempat menampilkan para penulis puisi remaja, pembacaan puisi dan juga diskusi-diskusi sastra. Dengan sesekali menghadirkan pula para sastrawan Kudus yang sudah punya nama, Fasbuk juga telah membantu bagaimana upaya menjaga eksistensi sastra dan kesastraan di Kudus.

Namun lagi-lagi, kesastraan tetaplah dibangun oleh individu-individu yang ingin bergelut dengan sastra. Dan sastra, tetaplah dunia menulis. Sebuah dunia sunyi yang hanya bisa dihuni oleh sastrawan yang berkehendak maju dan terus. Dunia sastra bukanlah dunia yang ramai kemudian berhenti pada diskusi-diskusi atau pementasan-pementasan. Pertanyaan yang paling utama dalam dunia sastra adalah karya sastra: puisi, cerpen, novel dan sebagainya.

Lalu apa yang penting dalam persemaian bibit-bibit penulis sastra sebenarnya? Kiranya bukan hanya sekedar kegiatan pentas baca sastra, juga bukan hanya seremonial kegiatan kesenian semata semacam menerbitkan buku. Karena itu semua hal yang mudah, "punya duit, kelakon, dan sudah”. Proses bertumbuh seorang penulis sastra, yang adalah dunia sunyi, pastilah juga ditempuh dengan menghindari hingar-bingar dan gemerlap lampu-lampu.

Sekira penting untuk kembali melongok, bagaimana lahan persemaian sastra di Kudus hari ini. Yang pada ujungnya menumbuhkan proses pembelajaran akan pengkaryaan. Medsos dengan segala kemudahan dan kemewahan yang dimilikinya, mungkin telah melahirkan seribu puisi setiap harinya, tetapi dari semua belum tentu secara otomatis menjadikannya seorang sastrawan atau penyair. Kesastrawanan atau kepenyairan adalah serangkaian proses bertumbuh yang terus-menerus.
Oleh karenanya, tetap menjadi penting untuk menempatkan membaca untuk “menambah modal” wawasan dan jelajah estetika sastra, dan kemudian terus menulis karya-karya, keduanya merupakan kebutuhan pokok seorang sastrawan. Diskusi-diskusi kecil namun intens, mempresentasikan karya dalam forum-forum, akan menjadi suplemen penting untuk semakin meningkatkan kualitas karya. Barangkali inilah persemaian yang selama ini terbengkelai, sehingga hari ini ada seribu puisi tapi nol penyair.***


07/02/17

Tentang "Berteater itu Keren"

Wawancara dengan Asa Jatmiko
Asa Jatmiko
Berteater itu Keren

Seperti yang kita ketahui, bahwa akhir-akhir ini kita sering menemukan tag pada media sosial yang bertuliskan #berteateritukeren. Ia hadir menghiasi ruang baca media sosial kita. Dan pada satu momen pelaksanaan Festival Teater Pelajar (FTP) 2016 lalu, jargon tersebut benar-benar tumpah ruah. Setiap orang menyerukan jargon tersebut pada sesi-sesi tertentu pelaksanaan FTP 2016.

Ada satu pertanyaan yang menggelitik kita. Yaitu siapakah yang pertama kali memunculkan jargon tersebut. Dan tentunya ia mempunyai alasan. Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, maka saya mencoba untuk menelusurinya. Salah satunya adalah mengadakan beberapa kunjungan ke penggiat teater di Kudus.

Berikut kutipan percakapan saya dengan Asa Jatmiko. Dia adalah seorang penggiat teater di Kudus, yang aktif di Teater Djarum dan Njawa Teater.

T. Selamat malam, mas Asa. Perkenalkan, nama saya M. Elang Iswara. Saya sekolah di SMK Farmasi DUTA KARYA. Sekarang saya duduk di kelas 3. Saya ingin bertanya tentang tag #berteateritu keren. Seperti kita ketahui, bahwa jargon #berteateritukeren sering diteriakan sepanjang pelaksanaan FTP. Untuk itulah saya bermaksud menelusuri asal muasalnya. Apakah panjenengan tahu, siapakah yang pertama kali memunculkan jargon tersebut?
J. Saya memunculkan tagline #berteateritukeren pertama kali ketika saya tengah berproses bersama Teater Djarum dalam lakon "Petuah Tampah". Kira-kira pada Mei 2016, tepatnya setelah lakon tersbut dimainkan di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta. Sejak itu saya mengkampanyekan tagline tersebut.

Kemudian memang menjadi semakin melekat dalam setiap publikasi kegiatan teater di Kudus, dan saya lihat juga kemudian yang mewabah di seluruh Indonesia, ketika kegiatan digelar Festival Teater Pelajar (FTP) IX Tahun 2016. Sosialisasi tagline #berteateritukeren pun kemudian "ditangkap dengan baik" oleh siswa-siswi teater pelajar terutama peserta seleksi hingga final FTP betlangsung.

Saya menyimpulkan bahwa tagline tersebut "ditangkap dengan baik", karena sesuai dengan apa yang ingin disampaikan, yakni: sedikit banyak telah menambah daya dorong semangat teman-teman dalam berteater.

Bahwa kemudian #berteateritukeren kemudian menjadi milik siapapun, menjadi kebanggaan siapapun, menjadi "gaya dan cara berpikir" anak-anak berteater yang khas. Karena saya percaya, gairah berteater yang gembira itu tidak bisa tidak dilahirkan oleh pelakunya sendiri. Tidak bisa dipengaruhi dari luar. Dan apabila kegembiraan itu dirasakannya, berarti memang berteater itu keren. Mampu menjadi wahana ekspresi yang bebas dan menggembirakan.

T. Kapankah jargon "berteater itu keren" pertama kali muncul?
J. Sudah sekaligus saya jawab di atas, ya.

T. Dari banyak kata, mengapa memilih "keren"? Dan makna apakah yang terkandung dalam jargon tersebut?
J. Karena kata "keren" tidak jauh dari dunia anak muda, tidak jauh dari dunia kreativitas, juga tidak jauh dari masyarakat kekinian ketika mengapresiasi hal tertentu. "Keren" dianggap mewakili semangat tersebut.

Kata "keren" di sini juga karena memiliki nilai positif. Kalau khalayak melihat keren sebagai "wujud", misalnya keren karena ia pakai jam tangan bermerk atau gaya rambutnya keren karena ikut trend saat ini, dan sebagainya. Fisik.

Dalam dunia kreativitas kita ingin mengatakan bahwa dunia teater merupakan wahana pengembangan potensi, kepribadian, cinta budaya, cara berpikir yang lebih luas, dewasa menghadapi perbedaan, dan karea itu semualah yang membuat berteater itu keren.

T. Tujuan dari jargon tersebut?
J. Agar semua teman-teman yang berteater menemukan kegembiraan dalam berteater. Kalau ikut teater tapi malah membuat menderita, berarti teater buat dia belum keren. Oleh karenanya, segera saja angkat kaki.

Berteater itu keren, mencoba mengajak kita semua yang berteater untuk memaknai lebih. Terutama agar kita semakin berdaya dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman apa yang membuat kita semakin berdaya? Salah satunya karena pengalaman ketika kita berteater. Keren, kan?

T. Dari sudut pandang mana anda menilai  bahwa teater itu keren? Kekerenan seperti apa, misalnya.
J. Keren, karena orang teater memiliki sudut pandang yang unik dan menarik untuk memaknai kehidupan. Keren, karena orang teater memiliki keberanian yang tidak ngawur, tetapi bertanggungjawab. Ini semua ada dalam latihan-latihan saat kita berteater. Keren, karena kita menjadi lebih peka dan peduli terhadap orang lain. Keren, karena kita bisa bangga dengan kreativitas kita, dan bukan bangga karena kita kemana-mana naik moge atau mobil mewah, berhape keluaran terbaru, berbaju necis ala artis-artis televisi. Itu kita malah ndak keren!

T. Banyak orang awam menilai jargon tersebut tak lebih dari kalimat basa-basi. Bagaimana komentar Anda?
J. Semua yang kita omongkan adalah basa-basi. Yang tidak basa-basi, hanya hal-hal yang tidak kelihatan, seperti: niat baik, semangat belajar, menghargai orangtua, mendonorkan darah kita di PMI, dan semacamnya.

"Bhineka Tunggal Ika" itu juga jargon dan bisa saja mereka menyebut sebagai basa-basi bahwa berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Yang penting itu, bahwa kata-kata yang tertulis itu benar-benar membawa nilai atau tidak. Jika tidak, ya hanya basa-basi.

Demikian juga kata-kata "Merdeka ataoe Mati!". Tinggal seberapa besar kita mampu beri nilai, itu yang pentng.

T. Tentunya anda mempunyai harapan-harapan yang begitu menggunung, sehingga menganggap teater itu memang keren. Menurut anda, bagaimana perkembangan teater di Kudus jika dibandingkan dengan di daerah lain?
J. Teater di Kudus semakin baik. Semakin bergairah kembali. Paling tidak dalam 5 tahun terakhir ini. Rekan-rekan teater di Kudus memiliki stamina dan kemauan untuk berproses, bergelut dan berkompetisi sehat. Saya tidak ingin menghakimi kota-kota lainnya, tetapi nyatanya itu sekarang ada di Kudus. Dan hal tersebut membanggakan.

Maka perkembangan yang baik ini jangan kemudian disikapi bahwa teater di Kudus sudah baik. Justru karena teater di Kudus makin marak dan bergairah, maka semakin banyaklah ragam kualitas dan gaya pertunjukannya.

T. Bagaimana penghargaan pemerintah terhadap seniman yang berkarya di daerah Kudus?
J. Tidak berkomentar. Saya hanya ingin menegaskan bahwa kesenian yang merupakan salah satu tonggak kebudayaan, adalah cermin masyarakat yang mampu berkembang lebih baik. Dan perjalanan kesenian, sama sekali tidak bergantung kepada siapapun, kecuali pada para pelakunya.

T. Harapan ke depan untuk pemerintah dalam hal kesenian, terutama di bidang teater?
J. Tidak mau berharap banyak. Pemerintah jalankan saja program-programnya dengan baik, tidak ada korupsi, transparan, demokratis. Kesenian dan teater dalam hal ini, akan tetap menemukan jalannya sendiri untuk kehidupan dan masyarakat.

T. Adakah saran, pesan, ide, terhadap pemerintah daerah untuk memajukan di bidang teater?
J. Untuk Pemda? Tidak ada. Saya tidak ingin berkomentar. ***