kugenggam tanganmu, kucium pipimu dan kubisikan cinta ke hatimu- Asa Jatmiko

08/02/17

Seribu Puisi, Nol Penyair

Semenjak peluncuran buku puisi "Bayang-bayang Menara" oleh KPK pada Minggu, 20 Maret 2016 di Universitas Muria Kudus, saya mulai bertanya di dalam hati, para sastrawan Kudus terus-menerus dan tiada henti berkarya kecuali mereka yang muda. Dimanakah mereka? Atau kita secara tidak sadar telah abai terhadap regenerasi, menyambut bibit-bibit sastrawan muda bertumbuh? Atau di Kudus hari ini, memang benar-benar "tidak ada" mereka?

Aduh, judul buku "Bayang-bayang Menara" seolah-olah memperjelas keberadaan para sastrawan muda (saya menyebut sastrawan untuk menyebut penulis karya sastra baik laki-laki maupun perempuan), yang semakin hanya bayang-bayang.

Bayang-bayang siapa? Entah. Mungkin bayang-bayang dari nama-nama besar, seperti: Jumari HS, Mukti Sutarman Espe, MM Bhoernomo, Jimat Kalimasada, Thomas Budhi Santoso, dan nama-nama lainnya. Atau mungkin bayang-bayang atas "kemegahan Kudus" yang sudah kesuwur sehingga melenakan proses kreatif bersastra bagi generasi muda saat ini. Atau, jangan-jangan, karena bayang-bayang dunia datar yang tersaji di medsos yang telah membuat sastra menjadi kalah menarik.

Saya tidak ingin menyalahkan siapapun di sini, untuk mencari penyebab mengapa generasi muda bibit-bibit sastrawan di Kudus nyaris tak ada. Saya hanya khawatir, dalam 5 sampai 10 tahun ke depan, siapa orang Kudus yang akan menggumuli sastra dan mampu berbicara membawa Kudus dalam dunia sastra Indonesia. Sebagaimana yang telah dicapai gemilang para senior, seperti sastrawan-sastrawan yang telah saya sebut di atas.

Pada beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 2008, saya sempat menaruh harapan akan berseminya gairah kesastraan di Kudus. Ada Imam Khanafi dan kawan-kawannya di PEKA, dengan kegiatannya yang antara lain membuat buletin. Memuat berbagai tulisan di seputar sastra dan kesenian, juga menampung karya sastra (puisi dan cerpen).

Kemudian ada Ullyl Ch dengan Komunitas Sapta Rengga-nya. Ia dan kawan-kawan aktif menulis puisi, diskusi-diskusi kecil hingga kegiatan  pembacaan puisi di beberapa tempat. Saya sempat mengetahui kegiatan terakhir mereka adalah mengadakan kegiatan pentas seni di kecamatan-kecamatan. Meskipun agaknya "sedikit berbelok", menjadikannya penyelenggara kegiatan, Ullyl Ch dan kawan-kawan sempat memberi warna tersendiri dalam dinamika sastra di Kudus. Sesudah itu, kabar tak lagi terdengar.

Kudus dan kesastraannya kiranya sedikit banyak terbantu untuk bertumbuh, atau menyatakan diri masih ada regenerasi, dengan adanya beberapa kegiatan Fasbuk (Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus). Forum ini sempat menampilkan para penulis puisi remaja, pembacaan puisi dan juga diskusi-diskusi sastra. Dengan sesekali menghadirkan pula para sastrawan Kudus yang sudah punya nama, Fasbuk juga telah membantu bagaimana upaya menjaga eksistensi sastra dan kesastraan di Kudus.

Namun lagi-lagi, kesastraan tetaplah dibangun oleh individu-individu yang ingin bergelut dengan sastra. Dan sastra, tetaplah dunia menulis. Sebuah dunia sunyi yang hanya bisa dihuni oleh sastrawan yang berkehendak maju dan terus. Dunia sastra bukanlah dunia yang ramai kemudian berhenti pada diskusi-diskusi atau pementasan-pementasan. Pertanyaan yang paling utama dalam dunia sastra adalah karya sastra: puisi, cerpen, novel dan sebagainya.

Lalu apa yang penting dalam persemaian bibit-bibit penulis sastra sebenarnya? Kiranya bukan hanya sekedar kegiatan pentas baca sastra, juga bukan hanya seremonial kegiatan kesenian semata semacam menerbitkan buku. Karena itu semua hal yang mudah, "punya duit, kelakon, dan sudah”. Proses bertumbuh seorang penulis sastra, yang adalah dunia sunyi, pastilah juga ditempuh dengan menghindari hingar-bingar dan gemerlap lampu-lampu.

Sekira penting untuk kembali melongok, bagaimana lahan persemaian sastra di Kudus hari ini. Yang pada ujungnya menumbuhkan proses pembelajaran akan pengkaryaan. Medsos dengan segala kemudahan dan kemewahan yang dimilikinya, mungkin telah melahirkan seribu puisi setiap harinya, tetapi dari semua belum tentu secara otomatis menjadikannya seorang sastrawan atau penyair. Kesastrawanan atau kepenyairan adalah serangkaian proses bertumbuh yang terus-menerus.
Oleh karenanya, tetap menjadi penting untuk menempatkan membaca untuk “menambah modal” wawasan dan jelajah estetika sastra, dan kemudian terus menulis karya-karya, keduanya merupakan kebutuhan pokok seorang sastrawan. Diskusi-diskusi kecil namun intens, mempresentasikan karya dalam forum-forum, akan menjadi suplemen penting untuk semakin meningkatkan kualitas karya. Barangkali inilah persemaian yang selama ini terbengkelai, sehingga hari ini ada seribu puisi tapi nol penyair.***


07/02/17

Tentang "Berteater itu Keren"

Wawancara dengan Asa Jatmiko
Asa Jatmiko
Berteater itu Keren

Seperti yang kita ketahui, bahwa akhir-akhir ini kita sering menemukan tag pada media sosial yang bertuliskan #berteateritukeren. Ia hadir menghiasi ruang baca media sosial kita. Dan pada satu momen pelaksanaan Festival Teater Pelajar (FTP) 2016 lalu, jargon tersebut benar-benar tumpah ruah. Setiap orang menyerukan jargon tersebut pada sesi-sesi tertentu pelaksanaan FTP 2016.

Ada satu pertanyaan yang menggelitik kita. Yaitu siapakah yang pertama kali memunculkan jargon tersebut. Dan tentunya ia mempunyai alasan. Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, maka saya mencoba untuk menelusurinya. Salah satunya adalah mengadakan beberapa kunjungan ke penggiat teater di Kudus.

Berikut kutipan percakapan saya dengan Asa Jatmiko. Dia adalah seorang penggiat teater di Kudus, yang aktif di Teater Djarum dan Njawa Teater.

T. Selamat malam, mas Asa. Perkenalkan, nama saya M. Elang Iswara. Saya sekolah di SMK Farmasi DUTA KARYA. Sekarang saya duduk di kelas 3. Saya ingin bertanya tentang tag #berteateritu keren. Seperti kita ketahui, bahwa jargon #berteateritukeren sering diteriakan sepanjang pelaksanaan FTP. Untuk itulah saya bermaksud menelusuri asal muasalnya. Apakah panjenengan tahu, siapakah yang pertama kali memunculkan jargon tersebut?
J. Saya memunculkan tagline #berteateritukeren pertama kali ketika saya tengah berproses bersama Teater Djarum dalam lakon "Petuah Tampah". Kira-kira pada Mei 2016, tepatnya setelah lakon tersbut dimainkan di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta. Sejak itu saya mengkampanyekan tagline tersebut.

Kemudian memang menjadi semakin melekat dalam setiap publikasi kegiatan teater di Kudus, dan saya lihat juga kemudian yang mewabah di seluruh Indonesia, ketika kegiatan digelar Festival Teater Pelajar (FTP) IX Tahun 2016. Sosialisasi tagline #berteateritukeren pun kemudian "ditangkap dengan baik" oleh siswa-siswi teater pelajar terutama peserta seleksi hingga final FTP betlangsung.

Saya menyimpulkan bahwa tagline tersebut "ditangkap dengan baik", karena sesuai dengan apa yang ingin disampaikan, yakni: sedikit banyak telah menambah daya dorong semangat teman-teman dalam berteater.

Bahwa kemudian #berteateritukeren kemudian menjadi milik siapapun, menjadi kebanggaan siapapun, menjadi "gaya dan cara berpikir" anak-anak berteater yang khas. Karena saya percaya, gairah berteater yang gembira itu tidak bisa tidak dilahirkan oleh pelakunya sendiri. Tidak bisa dipengaruhi dari luar. Dan apabila kegembiraan itu dirasakannya, berarti memang berteater itu keren. Mampu menjadi wahana ekspresi yang bebas dan menggembirakan.

T. Kapankah jargon "berteater itu keren" pertama kali muncul?
J. Sudah sekaligus saya jawab di atas, ya.

T. Dari banyak kata, mengapa memilih "keren"? Dan makna apakah yang terkandung dalam jargon tersebut?
J. Karena kata "keren" tidak jauh dari dunia anak muda, tidak jauh dari dunia kreativitas, juga tidak jauh dari masyarakat kekinian ketika mengapresiasi hal tertentu. "Keren" dianggap mewakili semangat tersebut.

Kata "keren" di sini juga karena memiliki nilai positif. Kalau khalayak melihat keren sebagai "wujud", misalnya keren karena ia pakai jam tangan bermerk atau gaya rambutnya keren karena ikut trend saat ini, dan sebagainya. Fisik.

Dalam dunia kreativitas kita ingin mengatakan bahwa dunia teater merupakan wahana pengembangan potensi, kepribadian, cinta budaya, cara berpikir yang lebih luas, dewasa menghadapi perbedaan, dan karea itu semualah yang membuat berteater itu keren.

T. Tujuan dari jargon tersebut?
J. Agar semua teman-teman yang berteater menemukan kegembiraan dalam berteater. Kalau ikut teater tapi malah membuat menderita, berarti teater buat dia belum keren. Oleh karenanya, segera saja angkat kaki.

Berteater itu keren, mencoba mengajak kita semua yang berteater untuk memaknai lebih. Terutama agar kita semakin berdaya dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman apa yang membuat kita semakin berdaya? Salah satunya karena pengalaman ketika kita berteater. Keren, kan?

T. Dari sudut pandang mana anda menilai  bahwa teater itu keren? Kekerenan seperti apa, misalnya.
J. Keren, karena orang teater memiliki sudut pandang yang unik dan menarik untuk memaknai kehidupan. Keren, karena orang teater memiliki keberanian yang tidak ngawur, tetapi bertanggungjawab. Ini semua ada dalam latihan-latihan saat kita berteater. Keren, karena kita menjadi lebih peka dan peduli terhadap orang lain. Keren, karena kita bisa bangga dengan kreativitas kita, dan bukan bangga karena kita kemana-mana naik moge atau mobil mewah, berhape keluaran terbaru, berbaju necis ala artis-artis televisi. Itu kita malah ndak keren!

T. Banyak orang awam menilai jargon tersebut tak lebih dari kalimat basa-basi. Bagaimana komentar Anda?
J. Semua yang kita omongkan adalah basa-basi. Yang tidak basa-basi, hanya hal-hal yang tidak kelihatan, seperti: niat baik, semangat belajar, menghargai orangtua, mendonorkan darah kita di PMI, dan semacamnya.

"Bhineka Tunggal Ika" itu juga jargon dan bisa saja mereka menyebut sebagai basa-basi bahwa berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Yang penting itu, bahwa kata-kata yang tertulis itu benar-benar membawa nilai atau tidak. Jika tidak, ya hanya basa-basi.

Demikian juga kata-kata "Merdeka ataoe Mati!". Tinggal seberapa besar kita mampu beri nilai, itu yang pentng.

T. Tentunya anda mempunyai harapan-harapan yang begitu menggunung, sehingga menganggap teater itu memang keren. Menurut anda, bagaimana perkembangan teater di Kudus jika dibandingkan dengan di daerah lain?
J. Teater di Kudus semakin baik. Semakin bergairah kembali. Paling tidak dalam 5 tahun terakhir ini. Rekan-rekan teater di Kudus memiliki stamina dan kemauan untuk berproses, bergelut dan berkompetisi sehat. Saya tidak ingin menghakimi kota-kota lainnya, tetapi nyatanya itu sekarang ada di Kudus. Dan hal tersebut membanggakan.

Maka perkembangan yang baik ini jangan kemudian disikapi bahwa teater di Kudus sudah baik. Justru karena teater di Kudus makin marak dan bergairah, maka semakin banyaklah ragam kualitas dan gaya pertunjukannya.

T. Bagaimana penghargaan pemerintah terhadap seniman yang berkarya di daerah Kudus?
J. Tidak berkomentar. Saya hanya ingin menegaskan bahwa kesenian yang merupakan salah satu tonggak kebudayaan, adalah cermin masyarakat yang mampu berkembang lebih baik. Dan perjalanan kesenian, sama sekali tidak bergantung kepada siapapun, kecuali pada para pelakunya.

T. Harapan ke depan untuk pemerintah dalam hal kesenian, terutama di bidang teater?
J. Tidak mau berharap banyak. Pemerintah jalankan saja program-programnya dengan baik, tidak ada korupsi, transparan, demokratis. Kesenian dan teater dalam hal ini, akan tetap menemukan jalannya sendiri untuk kehidupan dan masyarakat.

T. Adakah saran, pesan, ide, terhadap pemerintah daerah untuk memajukan di bidang teater?
J. Untuk Pemda? Tidak ada. Saya tidak ingin berkomentar. ***


01/02/17

Cinta Mati Rahwana

Adaptasi Bebas oleh Asa Jatmiko, dari Novel "Cinta Mati Dasamuka" karya Pitoyo Amrih

Sinopsis:
Manusia tidak dapat memilih ketika dia dilahirkan di dunia. Ia hanya punya satu kewajiban sekaligus tanggungjawab untuk melakoni hidupnya, menjalani dan memastikan hidupnya memiliki arti bagi kehidupan. Kesalahan dan kebenaran, hanya sebuah nilai yang selalu dipertaruhkan dan dipertanyakan dari jaman ke jaman. Dan hanya cinta yang mampu menyempurnakannya.




Babak 1: RAHWANA MUDA – Girijembangan
Padepokan Girijembangan
SUATU SENJA WISRAWA DIDAMPINGI SUKESI, DI HAPAMAN PERTAPAAN GIRIJEMBANGAN.

WISRAWA           Tahun-tahun bergulir begitu cepat. Seperti hari-hari yang telah dilewati, terbit dan tenggelam serasa sekejap.
SUKESI                                 Namun tidak ada yang sia-sia. Kita melewatinya namun tak pernah melewatkannya. Ada saja hikmah yang kita dapat. Ada saja makna dalam setiap peristiwa.
WISRAWA           Taburan peristiwa yang tersemai di sepanjang perjalanan kita, tidak selalu menumbuhkan tanaman yang berbunga indah.
SUKESI                                 Peristiwa-peristiwa yang tersemai di sepanjang perjalanan kita, selalu berhasil menjadi saksi atas kekuatan dan keberhasilan kita. Bagaimanapun kita masih hidup sampai hari ini. Betapapun beratnya beban di pundak, kita mampu membesarkan anak-anak kita. Betapapun kerasnya jalan yang berbatu, kita mampu mengatasinya dengan baik. Kangmas telah berusaha menjadi seorang ayah yang baik bagi mereka. Sukesi pun selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik buat anak-anakku.
WISRAWA           Kamu selalu melihat kehidupan dengan begitu indah, Nimas Sukesi.
SUKESI                 Kangmas Wisrawa, tidak ada yang lain yang menjadi panutan dan tuntunanku, selain Kangmas. Kangmas yang telah mendidik Sukesi menjadi seperti ini.
WISRAWA           Beberapa hari ini aku merasa cemas.
SUKESI                 Cemas? Ada apa, Kangmas?
WISRAWA           Aku tidak tahu. Setiap bangun tidur, jantungku terasa berdetak lebih kencang, lebih keras dan tak beraturan. Aku merasa seperti sedang diburu sesuatu.
SUKESI                 Apa yang Kangmas cemaskan?
WISRAWA           (DIAM)
SUKESI                 Kangmas?
WISRAWA           Langit terlihat hitam. Pandang mataku seakan memburam.
SUKESI                 Kangmas tidak usah cemaskan hal itu. Sukesi masih ada di sini, kiranya juga masih mampu untuk menjadi mata dan kaki bagimu, Kangmas.
WISRAWA           Nimas Sukesi. Aku mencemaskanmu. Aku cemas akan kehilanganmu.
SUKESI                 Oh, Kangmas. Sukesi akan selalu berada di sini, bersamamu, Kangmas. Dan dimana pun Kangmas berada.
WISRAWA           Kamu tidak mengerti, Nimas. Jantungku serasa terhimpit dua batu, membuatku berat bernafas, membuatku jengah melangkah.
                                                Aku juga mencemaskan anak-anakku. Rahwana, Kumbakarka, Sarpakenaka dan Wibisana. Aku melihat mereka tiba-tiba hilang dari tatapanku, Nimas.
SUKESI                 Mereka sudah mulai tumbuh remaja. Kangmas tak perlu mencemaskan mereka. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, seperti dirimu. Mereka akan mampu mengatasi persoalan-persoalan hidup, dan menjangkau kebijaksanaan. Cinta kasih kita menyungai dalam darah daging mereka, dan akan menjadikan mereka tak pernah berkekurangan.
WIBISANA DAN KUMBAKARNA MASUK.
WIBISANA           Bu, Ibu…! Lihat apa yang aku bawa…
SUKESI                  Apa itu, Nak?
WIBISANA           Aku membuat gambar. Lihat, Bu!
SUKESI                  Oo…gambar apa ini? Ibu tidak mengerti.
WIBISANA          Ini gambar rancangan jebakan binatang. Dari atas sini diberi tali utama, yang menggantung jaring-jaring. Jaring-jaringnya dibuat melingkar, dengan ujung-ujungnya diberi beban berat, batu misalnya. Nah, biar terus mengembang sampai di bawah, ada 4 tali pendukung yang diikat di empat arah mata angina, pada batang-batang pohon di sekitarnya.
SUKESI                 Waah, kamu hebat. Umpan-nya apa?
WIBISANA          Itu tergantung dari apa yang akan kita tangkap, Bu. Kalau rusa, cukup rumput-rumput. Kalau singa atau macan, maka umpannya harus rusa, Bu.
WISRAWA           (TERTAWA) Wah, hebat juga Wibisana anakku.
KUMBAKARNA Wibisana terlalu banyak membaca. Terlalu banyak berpikir. Yang penting itu, bagaimana membuatnya. Lalu dicoba. Kalau digambar saja, itu namanya ngomong-ngomong tok!
SUKESI                 Kumbakarna, kamu tidak boleh berkata begitu. Hargai sedikit karya Wibisana kenapa.
KUMBAKARNA Iya, Ibu. Aku hanya ingin bilang, kalau teori saja, semua juga bisa.
WIBISANA          Kakang Kumbakarna perlu bukti? Akan aku buktikan!
KUMBAKARNA Ah, ndak usah! Aku sudah lelah main sama kamu seharian. Sekarang aku lapar! Ibu sudah masak?
SUKESI                 Sudah, Nak. Kamu makanlah dahulu, Kumbakarna.
LALU KUMBAKARNA MASUK.
WISRAWA           Wibisana, sebenarnya untuk apa kamu membuat rancangan gambar itu?
WIBISANA          Aku ingin membantu Mbakyu Sarpakenaka, Pak. Mbakyu kan suka berburu sendirian, dan harus bersusah payah mendapatkan buruan. Nah, Wibisana ingin jebakan yang aku buat ini untuk membantu Mbakyu. Mbakyu tinggal tunggu sasarannya mendekat dan dia tinggal ringkus setelah terjerat.
SUKESI                 Kamu baik sekali, anakku.
WIBISANA           (TERSENYUM BANGGA)
SUKESI                 Sudah, sekarang kamu susul Kangmasmu Kumbakarna makan, ya.
WIBISANA           Iya, Ibu.
RAHWANA MASUK. IA DATANG SAMBIL MARAH-MARAH, MENCARI  WIBISANA.
RAHWANA          Wibisana! Wibisana!! Sini kamu!
WISRAWA           He, Rahwana anakku. Kamu ini ada apa, datang-datang koq langsung marah? Kamu mencari adikmu Wibisana?
RAHWANA         Iya, Pak. Dia sudah kurangajar!
WISRAWA           Kurangajar bagaimana? Coba jelaskan.
RAHWANA         Sok keminter! Dasar kutu buku! Mana Wibisana, Pak?
WISRAWA           Ada. Dia lagi makan. Mbok nanti dulu. Bapak ingin kamu jelaskan dulu, kenapa kamu menyebutnya dia telah kurangajar sama kamu?
RAHWANA         Ndak ada gunanya, Pak. Wibisana perlu diberi pelajaran. Adik tidak tahu sopan santun blass!
SUKESI                 Rahwana anakku, duduk sini sama ibu. Dengar ya. Bagaimana pun Wibisana adalah adikmu. Dia bukan orang lain. Kamu tahu itu kan? Betapa pun kurangajarnya, kamu sebagai kakaknya, tidak berhak melukainya. Apa pernah kamu melihat Bapak dan Ibumu menghajar kalian? Senakal apapun kalian…
RAHWANA         Tidak pernah, Ibu.
SUKESI                 Lalu untuk apa kamu mengumbar kemarahanmu seperti itu? Ada apa sebenarnya?
RAHWANA         Wibisana bilang tengah merancang alat jebakan untuk menjerat binatang buruan. Itu maksudnya agar Sarpakenaka tidak perlu susahpayah berburu.
SUKESI                 Iya, tadi dia bercerita soal itu. Tetapi kenapa kamu marah?
RAHWANA         Itu sama saja tidak menghargaiku, Ibu. Aku bisa mencarikan binatang buruan untuk Sarpakenaka, tanpa harus pakai alat. Aku bisa berguna buat Sarpakenaka, Ibu, tanpa bantuan alat tanpa bantuan siapapun termasuk Wibisana.
WISRAWA           (TERTAWA) Kamu ini koq lucu, to? Mbok biar saja. Wibisana itu suka baca, pikirannya selalu haus akan ilmu pengetahuan. Dengan pengetahuannya, dia juga kepengin berguna buat sedulurnya.
RAHWANA         Tapi itu kan berarti sama saja menganggap Rahwana tidak berguna, Pak?
SUKESI                 Kalian semua itu anak-anak yang berguna. Buktinya, kalian memikirkan saudara-saudaramu.

TIBA-TIBA MUSIK BERDERAP, BERGEMURUH, MENGEJUTKAN DAN MENAKUTKAN.  DANARAJA BERSAMA BEBERAPA ORANG PENGAWALNYA MASUK KE PADEPOKAN GIRIJEMBANGAN. MEREKA BERJALAN MONDAR-MANDIR BERKACAK PINGGANG, MEMPERHATIKAN TIGA ORANG DI SANA DAN SEKELILING.
SEMENTARA, TERIKAT DALAM BELENGGU SEORANG PEREMPUAN, SARPAKENAKA, MERONTA-RONTA.
DANARAJA         (KEPADA SARPAKENAKA) He,  benar ini Padepokan Girijembangan?
SARPAKENAKA HANYA MERONTA-RONTA.
RAHWANA, BEGITU MELIHAT SARPAKENAKA DALAM KEADAAN TERBELENGGU, BERMAKSUD LANGSUNG MELABRAK DANARAJA DAN KAWAN-KAWANNYA.
SUKESI                 Ngger, jangan!
RAHWANA         Kenapa, Ibu? Kasihan Sarpakenaka.
SUKESI                 Biarkan, Ngger.
DANARAJA         Cepat katakan, betul ini Padepokan Girijembangan?  Katakan! Dari tadi kamu tidak bicara. Hanya mengurusi makananmu saja.
SARPAKENAKA (MERONTA DAN SESEKALI SAMBIL MAKAN DAGING YANG DIGENGGAMANNYA)
DANARAJA         Oo, aku mengerti, rupanya perlu pakai cara lain agar kamu bicara?!
                                (DANARAJA MENGAMBIL PISAU BELATI MILIK PENGAWALNYA. IA MEMAIN-MAINKAN BELATI ITU. SESEKALI IA MELEMPAR DAN MENANCAP PADA BATANG POHON. LALU IA BERSIAP HENDAK MELEMPAR PISAU BELATI ITU KE TUBUH SARPAKENAKA YANG MASIH TERBELENGGU.)
RAHWANA         Kurangajar!
WISRAWA           Cukup. Sudah cukup!
DANARAJA TERKESIAP DAN BERHENTI, LALU MEMALINGKAN MUKA MENATAP WISRAWA.
WISRAWA           Kamu siapa dan hendak mencari siapa?
DANARAJA         Aku Sang Danaraja. Aku sedang mencari Wisrawa.
WISRAWA MUNDUR BEBERAPA LANGKAH, MEMBELAKANGI SUKESI DAN RAHWANA.
WISRAWA           Akan aku tunjukan. Tetapi lepaskan dahulu ikatan belenggu anak itu.
DANARAJA         (MEMBERI KODE KEPADA PENGAWALNYA UNTUK MELEPASKAN SARPAKENAKA. SARPAKENAKA LANGSUNG BERLARI MENUJU IBUNYA, BERSEMBUNYI DI BALIK RAHWANA.) Sekarang katakan!
WISRAWA           Kamu mencari Wisrawa? Akulah dia. Apakah kamu sudah pangling kepadaku? Sedang aku masih ingat bagaimana suara tangismu.
DANARAJA         Bapak?! Kamukah itu?

WISRAWA MENGANGGUK. LALU DENGAN SEGERA DANARAJA MENDEKAT DAN MEMELUK AYAHNYA. TETAPI SEGERA MELEPASKANNYA.

DANARAJA         (TIBA-TIBA IA MENANGIS) Sudah berapa lama Bapak tidak pulang kembali ke Lokapala?
WISRAWA           Hampir 20 tahun, Ngger.
DANARAJA         Kenapa, Pak? Kenapa tidak pulang?
WISRAWA           Ngger.
DANARAJA         Mengapa Bapak memberikan harapan, tetapi sekaligus menghancurkannya? Mengapa?
WISRAWA           Ngger..
DANARAJA         Aku menunggu sangat lama. Katamu kau akan kembali pulang dengan membawakan seorang permaisuri buatku. Tidakkah kamu mempertimbangkan Lokapala, Pak? Menunggu dan menunggu tanpa ada kejelasan, tanpa ada kepastian.
WISRAWA           Ngger. Aku minta maaf. Tetapi begitulah yang terjadi. Semua atas kehendak Dewata.
DANARAJA         Tidak usah bawa-bawa Dewata di sini. Semua perbuatan buruk yang kamu lakukan kepadaku, kepada Ibu dan kepada Lokapala, hanya bersumber darimu. Aku minta maaf, Pak, tetapi aku sungguh tidak lagi menaruh hormat kepada orang yang telah merendahkan kehormatannya sendiri.
WISRAWA           Kamu tidak sepenuhnya mengerti maksudku, Ngger.
DANARAJA         Aku mengerti! Aku sangat mengerti! Aku mendengar kabar bahwa kamu sendiri yang akhirnya kepencut dengan putri calon permaisuriku. Kamu sendiri yang telah dikuasai hawa nafsu, dengan jubah kebijaksanaan yang kamu kuasai. Kamu yang bilang akan membawa pulang putri itu buatku! Kamu sendiri yang memutuskan untuk menjadikannya istrimu! Mana?! Mana?!
RAHWANA         Pak, siapa putri yang dijanjikan Bapak kepadanya?
WISRAWA MENATAP SUKESI. SUKESI MENUNDUK.
SUKESI                 Rahwana anakku, kemarilah. Sudah, kamu jangan ikut turut campur urusan Bapak dengan pemuda itu. Sini…
RAHWANA         Tidak bisa, Ibu.
SUKESI                 Rahwana, ngger anakku, kemarilah… Kamu dengar Ibumu yang memintamu, kan?
RAHWANA BERINGSUT MENINGGALKAN AYAHNYA, DAN MENDEKATI IBUNYA. SEBELUM JAUH, WISRAWA MEMANGGILNYA.
WISRAWA           Anakku, Rahwana.
RAHWANA          (IA BERHENTI, DAN MENDENGAR AYAHNYA BICARA)
WISRAWA           Di belakang pertapaan, ada lorong yang menuju sungai. Masuk dan ikuti alur sungai itu. Nanti kamu akan ketemu dengan gerbang istana Alengka. Ajaklah Ibu dan tiga adikmu ke istana Alengka segera.
RAHWANA          Untuk apa, Pak? Aku akan disini, Pak.
WISRAWA           Kalian harus segera pergi. Karena ini sudah waktunya bagiku untuk pergi.
RAHWANA          Tidak, Pak. Rahwana akan di sini, menjaga dan membelamu.
WISRAWA           Pergilah. Alengka. Di sana kamu akan menjadi raja.
RAHWANA          Tidak.
DANARAJA         Pengawal! Ringkus orang itu!
WISRAWA           Sebentar! Untuk apa kamu meringkusku, Ngger?
DANARAJA         Kamu akan diadili di alun-alun Lokapala.
WISRAWA           Danaraja, anakku. Apabila aku harus mati, biarlah aku mati di Girijembangan. Tempat dimana aku berasal, sebelum kemudian memimpin Lokapala, dan tempat dimana aku akan kembali.
DANARAJA         Kamu membangkang?!
WISRAWA           Aku tidak membangkang.
DANARAJA         Kamu ingin diadili di sini?
WISRAWA           Aku ingin mengakhiri di tempat dimana aku mengawali.

MAKA TERJADILAH PERTEMPURAN SENGIT ANTARA DANARAJA DAN WISRAWA. SEMENJAK AWAL PERKELAHIAN, WISRAWA TAK PERNAH MENGHINDAR. PUN TAK PERNAH MEMBERIKAN PERLAWANAN BALASAN. SEMUA IA TERIMA. HINGGA AKHIRNYA, IA TERHUYUNG DENGAN LEMAH. PADA SAAT ITULAH, DANARAJA MENEBAS LEHER WISRAWA.
RAHWANA, IBU DAN KETIGA ADIK-ADIK RAHWANA MELIHAT PERTEMPURAN ITU. TIDAK DAPAT BERBUAT APA-APA. KETIKA WISRAWA JATUH DAN TERTEBAS LEHERNYA, RAHWANA BERLARI KE ARAH DANARAJA. TETAPI DANARAJA SUDAH KEBURU BERLARI DAN MENGHILANG.
MEREKA BEREMPAT MERATAPI KEMATIAN WISRAWA.
SUKESI                                  Kita sudah tidak punya apa-apa lagi di sini. Sebelum hari gelap, kita makamkan jasad Bapak dengan sebaik-baiknya.
RAHWANA         Akan kubalaskan kematian Bapak ini, Ibu. Rahwana sungguh tidak bisa menerima hal ini. Danaraja harus mati oleh tanganku.
SUKESI                 Sudahlah. Sebaiknya kita pulang ke istana Alengka, tempat eyangmu,  Prabu Sumali.                      





Babak 2: CINTA PERTAMA RAHWANA – Arga Dumilah
BEREMPAT: RAHWANA, KUMBAKARNA, SARPAKENAKA DAN GUNAWAN WIBISANA, TENGAH MENYUSURI HUTAN HENDAK MENUJU LOKAPALA. MEMBUMIHANGUSKAN LOKAPALA TERLEBIH DAHULU, SEBELUM LOKAPALA DATANG DAN MENGHANCURRATAKAN ALENGKA.
KUMBAKARNA Kang, aku masih belum mengerti kenapa kamu bisa berbuat segila itu.
WIBISANA          Betul. Utusan Lokapala yang datang ke Alengka, belum tentu memiliki niat buruk. Bisa saja mereka memang diutus oleh Danaraja untuk memperbaiki hubungan Lokapala dengan Alengka.
                                Aku pernah mendengar Eyang Prabu Sumali bicara, dulu Alengka dan Lokapala adalah dua Negara yang bersahabat baik. Eyang Prabu dapat mendirikan Pertapaan Gohkarna, juga atas bantuan Prabu Wisrawa waktu itu. Maka sebagai bukti Alengka pun mengirimkan dua orang kepercayaan Eyang Prabu ke Lokapala, dan diperintahkannya mengabdi di sana. Itu semua sudah baik.
                                Kalau akhir-akhir ini hubungannya memburuk, wajar saja dia mengirim utusan untuk memulihkan hubungan.
RAHWANA         (KEPADA KUMBAKARNA) Aku memang gila. Kamu juga tahu itu.
                                (KEPADA WIBISANA) Kamu tahu apa, bocah cilik?! Ngecipris!
KUMBAKARNA Kang, mungkin ada benarnya ucapan Wibisana. Utusan itu datang ke Alengka untuk sebuah tujuan baik. Kenapa Kakang selalu terburu-buru kalau mengambil keputusan?
RAHWANA         Sudah aku katakan, aku memang gila!
KUMBAKARNA Aku ra mudheng.
WIBISANA          Sudahlah, Kakang Kumbakarna. Kakang Rahwana memang tidak pernah mau mendengarkan kita. Dia selalu merasa benar sendiri. Semua yang dia lakukan, telah dia pikirkan masak-masak.
KUMBAKARNA Benarkah begitu, Kang? Kamu sudah memikirkannya? Kamu sudah memikirkan apa dampaknya begitu Lokapala mengetahui utusannya kamu penggal kepalanya? Kamu sudah mempertimbangkan kekuatan Alengka?
RAHWANA         Apa maksudmu, Di?
KUMBAKARNA Dua orang utusan yang datang ke Alengka, begitu sampai di depanmu, tanpa babibu langsung kamu penggal kepalanya. Apa maksudnya?
RAHWANA         Maksudku hanya satu, agar Lokapala tahu, Rahwana menyimpan dendam kesumat kematian Bapak. Hanya satu yang bisa menghentikan dendamku, Kang. Hanya satu yang bisa membuatku merasa tenang.
WIBISANA          Apa itu, Kang?
RAHWANA         Kematian Danaraja di tangan Rahwana!
KUMBAKARNA Hmm….ngomong sama orang yang emosional kayak kamu itu memang susah, Kang. Repot!
RAHWANA         Ben! Sakkarepku! Yang punya kuasa di Alengka kan aku: Rahwana. Susahnya apa kamu tinggal turuti perintahku!
WIBISANA          Kang, gini lo maksudnya….
RAHWANA         Wis, ndak usah banyak cingcong. Omong-omong tok yang besar. Tapi nyali kecil kayak ikan teri!
Aku dendam karena aku juga ingin berbakti sama Bapak. Aku tidak rela Bapak mati di tangan Danaraja dengan cara seperti itu. Itu sama saja menghancurkan hatiku. Ngremuk ajur ajer orang yang aku hormati. Bapakku sendiri.
Aku dendam karena aku menyayangi Bapak, kamu tahu?!
KUMBAKARNA Kang, sekali ini, dengar aku baik-baik. Buka lebar-lebar telingamu. Aku, Sarpakenaka dan Wibisana pasti akan selalu berada di belakangmu. Akan selalu mendukungmu. Benar atau salah, bukan hal penting. Kamu tetap kami dukung.  Ingatlah itu, Kang, tidak pandang kamu berada di pihak benar maupun salah.
                                Dengarkan aku. Setelah kamu memenggal kepala dua utusan dari Lokapala, apakah mereka tidak akan marah terhadap kita.
RAHWANA         Tentu saja marah. Dan itu yang aku inginkan. Dengan begitu aku bisa segera bertemu dengan Danaraja dan membunuhnya, Di.
KUMBAKARNA Jadi menurut Kakang mereka akan mengirim pasukan ke sini dan mengajak kita dalam pertempuran?
RAHWANA         Aku tidak takut, Di. Berapa mereka akan kerahkan pasukan? Seribu? Sepuluh ribu? Katakan berapa? Aku sendiri yang akan ngidak-idak mereka menjadi bangkai-bangkai berkalang tanah di sini.
KUMBAKARNA Aku pun tidak takut. Sarpakenaka dan Wibisana pun aku yakin tidak takut. Lalu Kakang tahu kapan mereka akan menyerang ke sini?
RAHWANA         Aku bukan bagian dari mereka, Di. Mana mungkin aku tahu!!
KUMBAKARNA Dan aku sebenarnya juga tidak ingin ada pertumpahan darah di Alengka. Alengka adalah tempat tinggal kita, tempat berlindung bagi Ibu Sukesi, satu-satunya tempat yang nyaman yang kita miliki.
RAHWANA         Hei, jangan jadi sentimental begitu. Apa maksudmu sebenarnya?
KUMBAKARNA Kalau boleh usul, kita jangan menunggu. Menunggu hanya buat orang-orang yang tidak kreatif. Menunggu hanya pekerjaan milik orang-orang yang tak berdaya.
RAHWANA         Di, kamu ingin aku menyiapkan pasukan untuk menyerang Lokapala?
KUMBAKARNA (MENGGELENGKAN KEPALA) Patih Prahasta biar di Alengka saja, menggantikanmu untuk sementara. Para panglima dan seluruh pasukan, biar berjaga saja di setiap perbatasan.
RAHWANA         Lalu?
KUMBAKARNA Lagipula kalau kita mengerahkan pasukan, pastilah Lokapala akan segera mendengar dan mereka akan bersiap-siap.
Kita berempat saja. Kita berempat saja yang melabrak Lokapala, Kang. Kita datang diam-diam, dan mengbumihanguskan Lokapala tiba-tiba, dalam keadaan mereka tidak siaga.
WIBISANA          Waah, ini koq jadi gendheng kabeh…. Mbok sudah, to. Di sini saja. Kita kirim utusan untuk menyampaikan permintaan maaf, karena kita telah memenggal kepala para utusan Lokapala.
                                Kalau mereka ndak mau terima, kita ajak rundingan. Rembugan. Itu jauh lebih baik, to? Aku jamin kalau kita berunding, tidak akan jatuh korban di kedua belah pihak, Kang.
KUMBAKARNA Hussh! Ngawur. Kakang Rahwana yo rabakal gelem! Kupingmu ki dijembeng: Ini Balas Dendam!!
RAHWANA         (TERTAWA) Iki yo adiku tenan! Tumben kowe cerdas, Di? Aku setuju. Mangkat saiki! Obrak-obrik Lokapala!!

MAKA MEREKA KEMUDIAN BERANGKAT MENUJU LOKAPALA. DENGAN SATU TUJUAN: MEMBUNUH SANG DANARAJA. KUMBAKARNA, WIBISANA DAN SARPAKENAKA BERJALAN BERTIGA. SEMENTARA RAHWAA TERBANG NGAMBAH JUMANTARA, MELESAT MENUJU LOKAPALA BAGAI KILAT.
PANGGUNG MENGHADIRKAN HUTAN, TAK JAUH DARI SITU ADA PADEPOKAN ARGA DUMILAH. TERLIHAT SEORANG PEREMPUAN MUDA YANG CANTIK JELITA TENGAH MENYERET SETANDAN PISANG. IA NAMPAK AGAK KESUSAHAN. BELUM LAGI KAYU BAKAR DALAM DUA IKATAN, IA MESTI BAWA SERTA.

WIDAWATI MENARI. TARIANNYA MENGGAMBARKAN SEORANG WANITA YANG MENGINJAK DEWASA, DENGAN BERBAGAI AKTIVITASNYA SEHARI-HARI. JUGA MIMPI-MIMPINYA. TARIANNYA JUGA MENGGAMBARKAN IA SEBAGAI SOSOK WANITA YANG KUAT, MANDIRI JUGA ULET MEMPERJUANGKAN DIRINYA MENJADI SEORANG WANITA YANG BERDAYA.
HINGGA SUATU KETIKA TANPA WIDAWATI SADARI, IA TENGAH DIPERHATIKAN OLEH SESEORANG. RAHWANA. IA YANG TENGAH TERBANG DI ANGKASA, TIBA-TIBA MENUKIK, MENCIUM AROMA WANGI SEORANG WIDAWATI. MELIHAT WIDAWATI MENARI, RAHWANA TERPESONA.
WIDAWATI TERGERAGAP  BEGITU SADAR BAHWA SESEORANG YANG TAK DIKENAL TENGAH MEMPERHATIKANNYA. RAHWANA TERSENYUM MELIHAT TINGKAH WIDAWATI. ADA RASA TAKUT, ADA RASA MARAH, TAPI WIDAWATI TAK TAHU HARUS BERBUAT APA.
RAHWANA         (TERSENYUM. LALU BERJALAN MENDEKAT, BERMAKSUD MEMBAWAKAN TANDAN PISANG.) Boleh aku bantu bawakan? Aku lihat kamu agak kesulitan membawanya. Belum lagi kayu-kayu itu.
WIDAWATI         Jangan! Tidak usah.
RAHWANA         Kenapa? Aku hanya ingin membantumu.
WIDAWATI         Tidak usah. Terimakasih.
RAHWANA         Kamu bisa melakukannya sendirian?
WIDAWATI         Iya, aku bisa sendiri. Terimakasih tawaran bantuannya. Silakan, kamu pergilah.
RAHWANA         Ehm. Baiklah. (PERGI KE ARAH BELAKANG. TIDAK KELUAR, TETAPI BERSEMBUNYI SAJA. DIA INGIN BISA MEMPERHATIKAN WIDAWATI)
WIDAWATI BERUSAHA BERJALAN KEMBALI DENGAN MEMBAWA SETANDAN PISANG DAN KAYU BAKAR DENGAN SUSAH PAYAH. BARU BEBERAPA LANGKAH, IA BERHENTI, MENGUSAP KERINGATNYA DAN MENGESAH. TETAPI IA BERUSAHA MEMPERLIHATKAN DIRINYA MAMPU.
KETIKA WIDAWATI KEMBALI BERUSAHA MENGANGKAT SETANDAN PISANG DENGAN CUKUP KESULITAN, RAHWANA MENGHAMPIRI DARI ARAH BELAKANG, MEMBANTU MENGANGKAT PISANG ITU. WIDAWATI TERPAKU.
RAHWANA         Boleh tahu siapa namamu?
WIDAWATI         Buat apa kamu tahu namaku?
RAHWANA         Agar aku bisa memanggilmu dengan lebih sopan.
WIDAWATI         Ndak usah. Kamu boleh memanggilku apa saja.
RAHWANA         Namaku Rahwana.
SONTAK WIDAWATI MUNDUR SEPERTI KETAKUTAN.
RAHWANA         Siapa namamu?
WIDAWATI         (DIAM)
RAHWANA         Siapa namamu cah ayu?
WIDAWATI         (DIAM)
RAHWANA         Aku tengah dalam perjalanan menuju Lokapala. Dari angkasa, aku tiba-tiba mencium aroma wangi. Lalu aku melihatmu. Tengah kesulitan membawa bawaanmu.
WIDAWATI         (DIAM)
RAHWANA         Kamu cantik. Meskipun pakaian yang kamu pakai sederhana, aku bisa melihatmu sejatinya cantik. Meskipun wajahmu tak ber-make up, aku bisa melihat sejatinya wajahmu amat jelita. Aroma wangi yang mengambar, yang kucium dari dirgantara, aku tahu sejatinya adalah aroma pribadimu yang lembut dan baik hati.
WIDAWATI         (DIAM)
RAHWANA         Namaku Rahwana. Raja muda dari Alengka. Kalau kamu mau, aku bisa memboyongmu ke istana Alengka, menjadi permaisuriku. Di sana kamu akan menjadi satu-satunya yang tercantik di seluruh Alengka. Boleh tahu siapa namamu?
WIDAWATI         Aku sudah mendengar namamu. Namamu memang sudah mendunia. Terkenal dimana-mana. Tidak ada yang tidak pernah mendengar namamu.
RAHWANA         (TERTAWA) Ah, biasa saja. Apa yang kamu dengar tentang namaku, Cah Ayu?
WIDAWATI         Rahwana adalah kerakusan dan kekejaman.
RAHWANA         Ehm, begitu ya?
WIDAWATI         Dan setelah melihatmu sekarang ini, sepertinya memang tidak salah dengan apa yang kudengar. Kamu ndak tahu sopan-santun. Brangasan.
RAHWANA         (TERTAWA)
WIDAWATI         Koq malah tertawa….
RAHWANA         Orang-orang yang tidak mengenalku dengan lebih baik. Seolah-olah Rahwana hanya seonggok kekejaman dan kerakusan. Mereka tidak pernah mengenalku. Mereka hanya tahu Rahwana dari luarnya saja. Dari kulitnya saja.
WIDAWATI         Dan aku tidak ingin mengenalmu dengan lebih baik. Sudah cukup. Apa yang kudengar, apa yang kulihat, tidak ada yang salah. Penilaianku masih sama, tidak berubah.
RAHWANA BERNYANYI – “Jatuh Cinta – P Project”
WIDAWATI BERLARI-LARI PULANG KE PERTAPAAN ARGA DUMILAH. RAHWANA MENGEJARNYA. HINGGA SAMPAILAH MEREKA DI PERTAPAAN ARGA DUMILAH. HARI SUDAH MULAI BERANJAK SENJA.
DI DEPAN PERTAPAAN SUDAH MENUNGGU RESI WERSAPATI DAN RETNO DUMILAH. MEREKA MENDENGAR SUARA TANGIS DI KEJAUHAN.
WERSAPATI                                        Dimana Widawati? Biasanya sore begini dia sudah sampai di rumah.
RETNO DUMILAH            Aku juga sedari tadi sudah mbatin, ini anak koq ndak pulang-pulang. Tadi pamitnya ke hutan mencari kayu bakar.
WERSAPATI                        Lain kali, jangan ijinkan dia pergi sendirian. Belakangan ini di hutan banyak terjadi hal-hal yang tidak masuk akal. Dan juga keganasan binatang-binatang buas, yang semakin merajalela. Hutan yang semakin sempit, berkurangnya populasi hewan, membuat mereka tidak takut lagi kepada manusia. Aku khawatir…
RETNO DUMILAH            Kamu seperti ndak ngerti watak anakmu saja. Widawati itu bandel. Ngeyel nek dikandhanani.
TAK LAMA KEMUDIAN WIDAWATI MASUK DENGAN MENANGIS MENJERIT-JERIT KETAKUTAN. IA LANGSUNG MERANGSEK KE PELUKAN RETNO DUMILAH, IBUNYA.
DI BELAKANGNYA SUDAH TERDENGAR SUARA RAHWANA MEMANGGIL-MANGGIL WIDAWATI.
RAHWANA                          (TERIAKAN DARI LUAR) Cah ayu, tunggu. Tunggu sebentar. Dengarkan dulu kata-kataku. Cah ayu…!
WERSAPATI                       Widawati, suara siapa itu?
WIDAWATI                         Rahwana, Raja Alengka, Bapa.
RETNO DUMILAH            Rahwana? Kamu bertemu dengan dia?
WIDAWATI                         Iya, Ibu. Dia mencegatku dalam perjalanan pulang.
WERSAPATI                       Mencegatmu? Kamu punya masalah apa sama dia? Gawat ini!!
WIDAWATI                         Widawati ndak punya masalah apa-apa, Bapa. Dia yang bikin masalah!
RETNO DUMILAH            Yawis, nduk. Sudah, jangan takut.
SEMENTARA ITU RAHWANA MASUK.
RAHWANA                         Eit! Cah Ayu, rupanya di sini rumahmu. Dan ini kedua orangtuamu? Hahaha…malah kebeneran!
WERSAPATI                       Anak Prabu Rahwana, benar. Aku Wersapati dan ini Retno Dumilah, orangtua bocah ini.
RAHWANA                         Ehm, kamu sudah tahu siapa aku rupanya. Ya, aku Rahwana. Siapa nama anakmu, Wersapati?
WERSAPATI                       Dewi Widawati, Anak Prabu. Mohon maaf, ada keperluan apa sehingga anak prabu pontang-panting hingga sampai di pertapaan Arga Gumilah ini?
RAHWANA                         Anakmu ayu. Aku belum pernah melihat seorang wanita yang begitu cantik, seperti Widawati. Aku jatuh cinta sama Widawati. Aku ingin memboyong Widawati ke Alengka, dan menjadi permaisuriku.  Boleh to?
RETNO DUMILAH            Anak prabu Rahwana. Widawati ini kan cah ndeso. Lahir dan besar di pedesaan, hidup dari kekurangan dan kekurangan. Widawati ndak bakal cocok hidup di lingkungan istana, Anak Prabu.
RAHWANA                         Ah, siapa yang bilang. Aku akan mengajarinya bagaimana hidup di istana. Itu soal mudah, Retno Dumilah. Widawati itu cerdas. Dia akan mampu belajar dengan cepat. Dia akan menjadi permaisuriku, akan banyak membantu pekerjaan-pekerjaanku di Alengka. Tetapi yang paling penting buatku, Widawati akan menjadi dewi yang paling cantik bagi Rahwana dan Alengka.
WERSAPATI                       Rupanya anak prabu sudah mantap dengan keinginan ini. Tetapi, kami tidak memiliki hak untuk memutuskan hal itu. Nantinya, Widawati akan memutuskannya sendiri. Untuk saat ini, mohon berilah sedikit waktu untuk Widawati mempertimbangkannya, Anak Prabu.
RAHWANA                         Yo, aku memberi waktu untuk Widawati mempertimbangkannya.
RETNO DUMILAH            Duuh, terimakasih. Satu dua minggu lagi, kami akan membawa jawaban itu ke hadapan anak prabu.
RAHWANA                         Tidak usah satu dua minggu. Satu dua menit, aku tunggu dari sekarang.
WERSAPATI                       Duh, koq begitu to, Anak Prabu. Berilah sedikit waktu untuk Widawati, ya. Satu atau dua minggu. Kalau kami tidak ke Alengka, anak prabu boleh datang ke sini lagi.
RAHWANA                         Satu atau dua menit saja! Waktuku sekarang mendesak. Dan perlu kukatakan, kalau Widawati menginginkan kalian di Alengka, aku tidak keberatan. Kalian bertiga, tinggallah di istana Alengka. Bagaimana?
WERSAPATI                       Widawati, bagaimana?
WIDAWATI                         Aku tidak mau, Bapa.
WERSAPATI                       Anak Prabu Rahwana, Dewi Widawati belum mau diboyong ke Alengka untuk saat ini. Berilah dia waktu, ya.
RAHWANA                         Moh. Saiki!
RAHWANA BERMAKSUD MERANGSEK MAJU, DAN MERAIH TANGAN WIDAWATI UNTUK DIAJAK PERGI.
WERSAPATI                       Rahwana, jangan kurangajar. Kamu boleh memaksakan kehendakmu kepada siapapun, kecuali kepada kami.
RAHWANA                         Keinginan-keinginanku tak tertolak oleh siapapun, Wersapati. Cita-citaku selalu tercapai, Wersapati. Kamu jangan jadi penghalang!
WERSAPATI                       Kalau begitu, kamu akan bisa mendapatkan keinginanmu, setelah melewati jasadku.
RAHWANA                         Ee, malah nantang. Ya, majulah!
MEREKA BERTEMPUR. KEMUDIAN LAYAR BELAKANG MENJADI SILUET PERTEMPURAN MEREKA. WERSAPATI TERBUNUH.
MELIHAT AYAHNYA TERBUNUH, RETNO DUMILAH LANGSUNG BERLARI KE ARAH SUAMINYA YANG TERGELETAK. DAN MENANGIS SESENGGUKAN DI  DEKAT MAYAT WERSAPATI.
SEMENTARA DI ATAS PANGGUNG, WIDAWATI MENGAMBIL GENTONG BERISI MINYAK  JARAK YANG BIASA DIPAKAI UNTUK PENERANGAN MINYAK OBOR DI LINGKUNGAN PERTAPAAN. KEMUDIAN IA MENGGUYURKAN GENTONG TERSEBUT, LALU MENGAMBIL SEBUAH OBOR YANG BERIDIRI DI SUDUT HALAMAN DAN MEMBAKAR DIRINYA.
SESUDAH ITU TERLIHAT KOBARAN API MENYELIMUTI WIDAWATI YANG KEMUDIAN BERGULING-GULING DI TANAH. RAHWANA MELIHAT ITU DARI SILUET, LANGSUNG BERTERIAK MEMANGGIL WIDAWATI. NAMUN NYAWANYA SUDAH TIDAK TERTOLONG LAGI. WIDAWATI MATI. RAHWANA TERTEGUN, TERISAK SEPERTI KECEWA PADA DIRINYA SENDIRI.
RAHWANA          Widawati, matahari belum lagi tinggi
Arga Dumilah belum sempurna tersiram cahaya
dan ibundamu mestinya rindu memeluk bahagia
mengapa Nimas tega lakukan ini?
membakar diri dalam lautan api
tanpa sudi untuk sebentar saja nyawang hati
kucium wangimu sejak kutinggalkan Alengka
seperti hangat kasih Bunda Sukesi
terngiang saat aku remaja di Girijembangan
saat terlunta dan jauh dari pelukan Bapa
dan wajahmu meluruhkan dendam
sepasang mripatmu menyejukkan
amarah pada Danaraja, sementara kupendam
Widawati, mengapa kau pergi tanpa jejak
dalam jilatan lidahlidah api yang menggelegak
kau meninggalkan rasa cinta tanpa belas kasih
kau menampik semua rencana baik
mengapa si buruk rupa selalu harus menghiba
mengapa tak kau dengar sebentar saja,
ada yang luput kau cerna atas apa yang teraba
Nimas, hanya dengan kata bisa kuubah semua
tetapi kata indah yang terbata untukmu terlunta jadi sampah
hanya dengan tatapan mata aku bisa leburratakan Lokapala
tetapi di hadapanmu mataku pejam tak mampu bercahaya
Nimas, mengapa aku menjadi salah
ketiku aku memperjuangkan cintaku sendiri?
LAMPU BERANGSUR PADAM.
PANGGUNG LANGSUNG BERUBAH SUASANA PERTEMPURAN DI LOKAPALA. TERLIHAT KUMBAKARNA, SARPAKENAKA DAN WIBISANA TENGAH MELAWAN PARA PRAJURIT LOKAPALA.
KEMUDIAN NAMPAK RAHWANA YANG MENYERANG MEMBABI-BUTA. HINGGA SAMPAILAH IA DI HADAPAN PANGLIMA PERANG LOKAPALA.
RAHWANA         Lokapala sudah rata. Tidak ada lagi yang tersisa. Kalian siapa? Menyerah saja!
PANGLIMA         Kami panglima perang Lokapala.
RAHWANA         Minggir, kalau pengin hidup!
PANGLIMA                         Meskipun pada akhirnya kami berkalangtanah, tetapi kami tidak akan mundur satu langkah pun.
RAHWANA         Hahaha…baik! Nyalimu besar juga ya! Tapi kamu buta! Kamu lihat sekelilingmu, semua sudah jadi bangkai. Kamu berdiri di sini untuk mbela siapa?
PANGLIMA         Membela harga diri kami.
KUMBAKARNA MASUK.
KUMBAKARNA Kang! Kakang Rahwana!!
                                Seluruh Lokapala sudah habis. Sudah rata tanah. Semua prajurit kocar-kacir. Banyak yang mati terbunuh, dan sisanya lari terbirit-birit kea rah pegunungan.
                                Tapi aku belum menemukan Danaraja?
RAHWANA         Danaraja tidak ada?!
                                He, dimana Danaraja? Dia melarikan diri? Asem, dasar pengecut!!
                                Katakan, dia bersembunyi dimana?
PANGLIMA         Aku tidak akan mengatakannya.
RAHWANA         Bangsat!
RAHWANA LALU MELABRAK PANGLIMA ITU. DAN PADA SAAT DIA AKAN MEMUNTIR KEPALANYA, PANGLIMA ITU BICARA.
PANGLIMA         Prabu Danaraja diselamatkan para dewa, dibawa ke Kahyangan.
RAHWANA         Apa?!  (DIA KEMUDIAN MEMUNTIR KEPALA PANGLIMA ITU, DAN MATILAH PANGLIMA ITU.)
                                Tidak bisa diterima, kenapa kalian selalu ngrusuhi urusanku!
                                Hei, para dewa, aku tidak terima cara kalian. Kalian licik. Sok penguasa. Keminter. Kalian selalu ingin menang dan bener sendiri!  Aku protes! Aku tidak terima!
                                Tetap akan kucari Danaraja sampai kemanapun! Tunggu aku, Para Dewa! Akan kuhancurkan Kahyangan kalau kalian berkomplot dengan Danaraja! Akan kuhancurkan!!
LAMPU PADAM.









Babak 3: ANAK RAHWANA  – Alengka
TAMANSARI DI ISTANA KERAJAAN ALENGKA. TERLIHAT DEWI TARI YANG TERLIHAT HAMIL, IBU SUKESI DAN EMBAN. TARI TERLIHAT SEDIH.
EMBAN                                Mbok sudah, Den Ayu, jangan dibawa sedih terus. Kasihan jabang bayi di kandungan Den Ayu, pasti ikut merasakan kesedihan terus-menerus.
SUKESI                 Betul apa yang dikatakannya, Tari. Sudahlah. Rahwana memang begitu wataknya: keras. Tidak ada yang bisa menghentikan langkahnya kalau dia sudah punya karep.
TARI                      Ibu, mosok setiap Tari mau melahirkan, Kangmas Rahwana selalu tidak ada di dekatku. Kurang beberapa hari saja, dan dia pergi juga entah kemana.
SUKESI                 Kamu sudah tahu, Rahwana memang begitu. Sejak kelahiran anak pertamamu, hingga tiga anakmu lahir, Rahwana ngepasi lagi pergi.
TARI                      Apa lagi to yang dia cari? Tari itu kurang apa, coba?
EMBAN                Den Ayu tidak ada kekurangan satu hal pun. Den Ayu seorang putri dari kahyangan yang sempurna. Sempurna sebagai permaisuri, sempurna sebagai istri, sempurna sebagai ibu. Istimewa, Den Ayu…
TARI                      Tapi aku tidak merasakan hal itu. Di depan kangmas Rahwana, Tari merasa tidak pernah merasa istimewa.
EMBAN                Ah, itu hanya perasaan Den Ayu saja. Bagi kami semua, warga Alengka, Den Ayu adalah segalanya. Semenjak Den Ayu diperistri Kanjeng Prabu, Alengka itu jadi lebih adem.
TARI                      Maksudnya?
EMBAN                Kanjeng Prabu jadi semakin jarang marah-marah. Tidak uring-uringan terus. Kanjeng Prabu jadi semakin dewasa. Tidak grusa-grusu lagi kalau mengambil keputusan. Beda dengan sebelumnya, Den Ayu. Begitu juga kalau ada laporan-laporan yang kurang berkenan, Kanjeng Prabu tidak langsung marah sebagaimana biasanya.
TARI                      Benarkah itu, Emban?
SUKESI                 Itu benar, anakku Tari. Kalau Rahwana itu memiliki jiwa yang keras, hanya kamulah yang mampu melembutkannya. Jika ada saatnya Rahwana menjadi api yang tak siapapun mampu meredam, kamulah jiwa yang sejuk yang mampu meredakannya. Kehadiranmu di sini, melengkapi Rahwana menjadi pribadi yang seimbang.
TARI                      Ah Ibu ini bisa saja.
Tapi kadang, Tari merasa bahwa Kangmas Rahwana tidak sepenuhnya mencintai Tari. Ibu tahu sendiri, kami dipertemukan oleh Para Dewa di Kahyangan. Oleh para dewa, Tari adalah pengganti bagi Danaraja yang dicari-cari Kangmas Rahwana. Sampai hari ini pun perhatian dan pikirannya hanya balasdendam kepada Danaraja yang belum kesampaian. Tari sungguh merasa tidak berarti sama sekali bagi dia.
SUKESI                                  Ibu tahu. Tapi apakah Tari juga tahu, mengapa Rahwana mau menerimamu menjadi pendampingnya? Karena kamulah Widawati, cinta sejati bagi Rahwana. Bagaimana pun berartinya, Rahwana akan memperjuangkan cintanya demi Widawati.
                                Apakah kamu juga tahu, Rahwana menerimamu sebagai permaisuri juga dengan memanggul resiko yang tidak main-main?
TARI                      Ya, Ibu. Aku tahu.
                                Kangmas Rahwana menerimaku sebagai permaisuri, adalah pilihan yang berat. Di satu sisi dia menguasai banyak ilmu bahkan untuk mencapai kehidupan abadi. Di lain sisi, menerima Tari sebagai istri tidak lain adalah menerima kematiannya sendiri. Kangmas Rahwana menyadari hal itu, dan tetap memilihku.
SUKEASI              Mengawinimu, berarti ia hanya punya kesempatan 10 kali untuk bisa hidup kembali. Kamu telah menjulukinya Dasamuka sebagai panggilan sayangmu, bukan?
TARI                      Iya, Ibu.
SUKESI                 Nah, maka janganlah kamu ragu sedikit pun bagaimana cintanya kepadamu.
TARI                      Tapi saat ini Tari kepengin Kangmas Rahwana ada di sini. (LALU TIBA-TIBA IA MERASAKAN KESAKITAN PADA BAGIAN PERUTNYA. SEPERTI HENDAK MELAHIRKAN.)
SUKESI                 Emban, kamu antar Den Ayu Tari ke kamarnya. Kasih tahu emban lain untuk memanggil dukun bayi kerajaan. Sementara itu kamu temani Den Ayu.
EMBAN                Baik.
SETELAH TARI DAN EMBAN MASUK, KELUARLAH WIBISANA YANG BERSUNGUT-SUNGUT.
WIBISANA           Wah, jian. Kebangeten tenan si Indrajit.
SUKESI                  Ada apa, ngger Wibisana? Indrajit kenapa?
WIBISANA           Kalau saja Indrajit itu bukan Putra Kang Rahwana, wis takremuk wingi-wingi, Bu.
SUKESI                  Husshh!! Ada apa ini?
WIBISANA          Kurangajar. Tadi itu gladi perang. La koq njur temenanan dia mukul saya, Bu. Loro, je… Namanya latihan yo latihan, ora ngantem temenanan. Asem oq!
SUKESI                 Walah, Cuma kayak gitu. Sudah sana, bantu mbakyumu Tari, siapa tahu butuh pertolongan.
WIBISANA          Mbakyu kenapa, Bu?
SUKESI                 Mungkin ini harinya melahirkan. Tadi sudah mulai krasa kesakitan perutnya.
WIBISANA          Walaah, Bu. MBok jangan saya lagi. Tiap mbakyu melahirkan, kan mesti saya yang membantu. Sekali ini saja, Bu, coba mbakyu Sarpakenaka atau Kakang Kumbakarna. Ya, Bu?
SUKESI                 Mereka semua ndak ada.
WIBISANA          Ya, sudah. Rahwana saja, biar saya cari, Bu.
SUKESI                 Ndak usah, Rahwana lagi pergi. Ndak tahu kemana. yawis ben, Ibu saja yang jaga di sana, kalau kamu ndak mau.
WIBISANA          Wadduh… Bu. Ya, sudah biar Wibisana saja. Sudah Ibu di sini saja.
                                Wibisana itu ndak mau terlibat soal-soal seperti ini sakjane, Bu.
SUKESI                 Eit, tunggu Wibisana. Apa maksudmu?
WIBISANA          Ndak Bu, maaf. Sudah ndak apa-apa. Wibisana akan membantu persalinan Mbakyu.
SUKESI                 Ndak bisa. Ibu melihat kamu menyembunyikan sesuatu. Kamu akan cerita sama ibu, atau Ibu yang akan mencari tahu sendiri?
WIBISANA MENJADI BIMBANG. IA GELISAH.
WIBISANA          Saya sebenarnya diminta merahasiakan hal ini, Ibu.
SUKESI                 Siapa yang menyuruh?
WIBISANA          Betara Narada.
SUKESI                 Ikut campur urusan Rahwana lagi, ya para Dewa itu. Katakan, apa yang kamu rahasiakan.
WIBISANA          Malam sebelum Mbakyu melahirkan anaknya yang pertama, Eyang Pukulun Betara Narada menghampiri Wibisana lewat mimpi. Ia berpesan, agar nanti membawa anak yang baru dilahirkan Mbakyu Tari, ke padanya.
Dan benar, Bu. Anak yang baru dilahirkan Mbakyu Tari menangis terus-terusan. Sementara Ibu tahu, Mbakyu Tari waktu itu pingsan beberapa hari sesaat setelah melahirkan.
SUKESI                                  Lalu kamu menggendongnya ke luar. Kamu bilang hendak mencari susu untuk anak itu, kan?
WIBISANA          Wibisana menggendong anak itu. Menyisir lorong di belakang istana, menuju tempat yang dijanjikan Eyang Pukulun Batara Narada. Sampai di belakang istana, Wibisana tiba-tiba berada seperti di tengah awan-awan di langit, Bu.
DI SUDUT DEPAN, TERJADILAH ADEGAN YANG SEDANG DICERITAKAN WIBISANA.
NARADA             Kamu pinter, Nak. Sekarang anak itu berikan kepadaku. Dia akan menangis terus selama dalam gendonganmu. Maka bawalah kepadaku.
                               Dan, tolong bawakan anak ini. Gendonglah.
MAKA WIBISANA MEMBERIKAN BAYI YANG DIGENDONGNYA KEPADA NARADA. DAN SEKALIGUS MENERIMA BAYI YANG DIBERIKAN NARADA KEPADANYA, DAN LALU DIGENDONGNYA. DAN SEJAK SAAT ITU, TIDAK TERDENGAR LAGI TANGIS BAYI.
WIBISANA          Dia tenang dalam gendongan, Eyang Pukulun Betara Narada?
NARADA             (TERKEKEH) Iya. Biarlah ia bersama Eyang. Bayi yang tengah kamu gendong, akan menjadi anak Rahwana dan Dewi Tari. Ia laki-laki. Pasti Rahwana akan bangga kepadanya.
WIBISANA          Bayi itu, perempuan Eyang?
NARADA             Betul. Perempuan.
                               Nah, ingat-ingatlah. Karena bayi laki-laki yang kamu gendong itu kamu terima di atas awan, berilah ia nama MEGANANDA. Artinya, terlahir di antara awan.
WIBISANA          Lalu bayi perempuan itu akan diapakan, Eyang?
NARADA             Kamu tidak usah khawatir, Ngger. Dia akan berada dalam pelukan dan perhatian seorang Ibu yang penuh kasih. Kamu tidak usah mencemaskannya. Dia akan baik-baik bersama wanita itu. Suatu saat kamu akan mengetahuinya juga, Ngger.
                               Sudah ya. Eyang harus segera pergi.
LALU NARADA HILANG DARI HADAPAN WIBISANA.
SUKESI                 Megananda itu Indrajit?
WIBISANA          Iya, Bu.
SUKESI                 Ngger. Ibu tidak mengerti, kenapa Dewa-dewa berbuat seperti itu. Kalau dia perempuan, pasti sudah besar dia sekarang. Tapi dimana anak itu?
WIBISANA          Saya tidak tahu, Ibu.
MEREKA BERDUA TERPAKU. LALU PANGGUNG BERANGSUR GELAP. DI SUDUT ATAS, BERANGSUR NAMPAK WAJAH RAHWANA TENGAH MEMPERHATIKAN DAN MENDENGARKAN DENGAN SEKSAMA. WAJAHNYA MARAH DAN MENGERIKAN.







Babak 4: RAHWANA MENGGUGAT - Hutan Dandaka – Argasoka
PANGGUNG TERDIRI DARI DUA BAGIAN, ATAS DAN BAWAH. BAGIAN ATAS TERLETAK DI BAGIAN BELAKANG, SEMENTARA BAGIAN BAWAH ADA DI PANGGUNG UTAMA.
DI BAGIAN ATAS, ADA DUA SOSOK: RAHWANA DAN KALAMARICA. SEMENTARA DI BAGIAN BAWAH TERLIHAT RAMA, SHINTA DAN LAKSMANA.
KALAMARICA                    Ndak ada orang di situ, gitu koq. Mana perempuan yang Sampeyan maksud?
RAHWANA                         Masih di dalam pondok bambu itu. Kita tunggu saja. Mudah-mudahan sebentar lagi keluar.
KALAMARICA                    Dia cantik?
RAHWANA                          Yo jelas. Rahwana tak pernah salah menilai perempuan, mana yang cantik yang yang tidak.
KALAMARICA                    Aku juga bisa. Wong tinggal dilihat wajahnya.
RAHWANA                         Ah, bukan dari wajahnya saja. Aku bahkan bisa tahu wanita itu cantik dan tidak dari baunya.
KALAMARICA                    Ah, bisa saja. Kalau dia pakai parfum, Sampeyan berarti akan ketipu!
RAHWANA                         Aku bisa mencium jasad manusia, Kalamarica. Dan dari baunya aku bisa tahu hatinya.
KALAMARICA                    Hahaha…kalau bauku, bagaimana?
RAHWANA                         Baumu….rakaruan! Apek, amis…
KALAMARICA                    (TERTAWA SEMAKIN KERAS)
RAHWANA                         Huusssshhh! Pelan-pelan! Lihat, ada yang keluar dari pondok.
RAMA DAN LAKSMANA TERLIHAT KELUAR DARI PONDOK.
LAKSMANA                        Kita akan di tengah hutan Dandaka sampai berapa lama, Kangmas? Semakin lama aku kasihan melihat Mbakyu Shinta di sini. Selayaknya Mbakyu bertempattinggal di dalam keputren. Di sini kotor.
RAMA                                  Aku tidak tahu, Laksamana. Memang berat. Tapi harus bagaimana lagi? Kita akan menjalaninya sampai Dewata sendiri yang memberikan jalan buat kita. Aku percaya Dewata tidak akan membiarkan kita selamanya di sini.
LAKSMANA                        Kangmas sudah terlalu banyak mengalah selama ini.
RAMA                                  Tidak, Laksmana. Semata-mata aku hanya ingin menjalankan apa yang diperintahkan Dewata. Bagi kita, yang penting adalah menjalankannya. Berat maupun ringan. Karena seberapapun besar kekuatan, itu hanya kekuatan yang diberikan oleh Dewa. Demikian juga ketika kita dalam keadaan lemah, Dewa tidak akan meninggalkan kita.
LAKSMANA                        Ya, Kangmas.
DARI DALAM TERDENGAR TERIAKAN SHINTA.
SHINTA                                Kanda! Kakandaaa!
RAMA                                  Sebentar, Laksmana. (IA BERGEGAS MASUK MENGHAMPIRI SHINTA)
DI PANGGUNG ATAS, RAHWANA DAN KALAMARICA TELAH MENEMUKAN STRATEGI BARU.
RAHWANA                         Kalamarica, kamu punya ilmu kesaktian Salin Raga. Sekarang saatnya kamu pergunakan.
KALAMARICA                    Maksud Sampeyan, aku gunakan buat apa?
RAHWANA                         Bawa pergi Rama dan Laksmana ke bagian lain hutan ini. Aku sangat yakin, bau wangi perempuan di dalam pondok itu adalah perempuan yang aku cari-cari selama ini.
KALAMARICA                    Maksud Sampeyan Shinta?
RAHWANA                         Iya, siapa lagi?
KALAMARICA                    La kalau ternyata bukan dia orangnya?
RAHWANA                         Makanya, aku ingin melihat dari dekat. Kalau Rama dan Laksmana selalu bersama, aku ndak bakal bisa melihat dari dekat. Sudah, kamu bujuk mereka agar pergi….
KALAMARICA                    Caranya?
RAHWANA                         Wahjan, guoblok! Ilmu Salin Raga yang kamu punya buat apa?
KALAMARICA                    Owh, ya!
KEMUDIAN KALAMARICA MEMPERGUNAKAN ILMU SALIN RAGA, BERUBAH BENTUK MENJADI SEEKOR KIJANG. KIJANG KESETELAH KALAMARICA BERUBAH BENTUK MENJADI KIJANG, RAHWANA PERGI.  
SEMENTARA ITU, DI PANGGUNG BAWAH TERLIHAT RAMA DAN SHINTA MASUK PANGGUNG. LAKSMANA BERDIRI, BERSIKAP SIAP MENERIMA DHAWUH.
SHINTA                                 Kanda! Kakanda, lihat itu!
RAMA                                   Kijang itu?
SHINTA                                 Ho’o…. Itu kayaknya bukan kijang biasa, Kanda. Warnanya keemasan. Aku pengin….
LAKSMANA                        Mbakyu, biar Laksmana yang kejar kijang itu, ya…
RAMA                                  Jangan! Aku saja!
LAKSMANA                        Kangmas di sini saja, menunggui Mbakyu. Lagipula ini hal mudah, Cuma menangkap seekor kijang. Sudah, kangmas di sini saja.
RAMA                                  Bagaimana Shinta?
SHINTA                                Jadi Laksmana yang akan membawakan kijang itu untukku?
RAMA                                  Laksmana, biar aku saja. Kamu tunggu di sini. Jaga Mbakyumu, ya…
RAMA LANGSUNG BERGEGAS KELUAR.
LAKSMANA                        Lah, ini gimana to? Mbakyu,  nanti kalau ada apa-apa sama Kangmas Rama, bagaimana?
SHINTA                                Loh, koq nanya aku?
LAKSMANA                        Hatiku koq ndak kepenak rasanya. Sudah, begini saja, mbakyu.
                                               Saya akan menyusul Kangmas Rama, membantu menangkap kijang itu. Mbakyu di sini saja. Saya akan membuat tabir perlindungan di sekeliling tempat ini. Tabir ini akan melindungi Mbakyu dari segala marabahaya.  (KEMUDIAN LAKSMANA BERJALAN MELINGKARI SHINTA, MEMASANG TABIR PERLINDUNGAN YANG KASAT MATA)
SHINTA                                Iya, Laksmana.
LAKSMANA                        Asal Mbakyu tidak keluar dari tabir ini, mbakyu akan selamat tidak kurang suatu apa.
SHINTA                                Iya… sudah sana susul kangmasmu…
LAKSMANA                        Baik, mbakyu. Jangan lupa loh…
LALU LAKSMANA PERGI MENYUSUL RAMA.
TIDAK BERAPA LAMA, TERDENGAR SUARA SEPERTI SUARA SEORANG KAKEK. DI BERADA DI BELAKANG SEBUAH POHON. KAKEK ITU TIDAK LAIN PENJELMAAN RAHWANA.
KAKEK TERSEBUT MERINTIH-RINTIH KESAKITAN MEMINTA TOLONG. SHINTA TERGERAGAP.
RAHWANA                         Tolong…..tolonglah hamba…
SHINTA                                Siapa itu? Hei, kemarilah… Aku tidak bisa mendekat ke tempatmu.
RAHWANA                         Tolong hamba… Saya sakit. Seperti mau mati rasanya. Tubuh saya tidak bisa saya gerakkan. Sakit semua rasanya. Duuh….tolong hamba…
SHINTA                                Iya…iya… pasti saya tolong. Tetapi saat ini saya ndak boleh mendekat ke tempatmu. Kemarilah…pelan-pelan…
RAHWANA                         (SEPERTI BERUSAHA MENGGERAKKAN TUBUHNYA DAN BERMAKSUD MENDEKATI SHINTA. TETAPI IA MALAH TERJATUH). Ahhh….sakiiit…!
SHINTA                                Cukup…ya sudah di situ saja! Apa yang bisa aku bantu? Duh, kasihan sekali kamu, Kek!
RAHWANA                         Apapun. Saya sudah seminggu ini belum makan belum minum…sakitku tambah parah saja rasanya… aku sudah hampir mati… aku tidak berdaya sama sekali.
SHINTA                                (SHINTA SEMAKIN BINGUNG) Sebentar, Kek. Jangan bilang aneh-aneh seperti itu. Kamu akan kembali sehat… Tunggu di situ, aku ambilkan air untuk bisa kamu minum segera, ya…
SHINTA SETENGAH BERLARI MASUK UNTUK MENGAMBIL SEGENTONG KECIL BERISI AIR. KEMUDIAN TAK LAMA IA KELUAR LAGI DAN LANGSUNG MEMBERIKANNYA KEPADA RAHWANA.
SAAT ITU JUGA RAHWANA MERAIH TANGAN SHINTA DAN MEMBAWANYA TERBANG, HENDAK DIBAWA PULANG KE ALENGKA.
DARI ARAH SEBERANG, MASUK RAMA DAN LAKSMANA. MEMANGGIL-MANGGIL SHINTA. TETAPI SHINTA TIDAK ADA.
RAMA                                   Bukankah kamu yang aku suruh menjaga Shinta?
LAKSMANA                        Maaf, Kangmas. Ini kesalahan saya.
RAMA                                   Kemana kita harus mencarinya? Tidak ada tanda sama sekali. (RAMA TERTEGUN, SEDIH DAN PANDANGANNYA MENYAYAT)
LAKSMANA MENCOBA MENGHIBUR RAMA. IA BERNYANYI.
SELESAI BERNYANYI, TIBA-TIBA TEERDENGAR RINTIH KESAKITAN. JATAYU YANG TERLUKA DIKALAHKAN OLEH RAHWANA. MEREKA BERDUA MENGHAMPIRI JATAYU YANG TERONGGOK SEPERTI SEEKOR BURUNG YANG HAMPIR MATI.
RAMA                                   Jatayu?!
JATAYU                                                Benar, Pangeran.
RAMA                                   Kamu terluka? Kenapa bisa begini? Siapa yang telah menyerangmu? Laksmana, cepat ambilkan beberapa obat dan kain, untuk mengobati luka-lukanya.
LAKSMANA                        Baik, Kangmas.
JATAYU                                                Tidak usah. Lagipula ini mungkin sudah waktuku.
                                                Aku mendengar tangisan Shinta di angkasa. Dan aku mencarinya. Rupanya ia tengah dibawa Rahwana. Aku berusaha menghentikannya. Tetapi aku gagal. Rahwana telah berhasil mengalahkanku. Aku minta maaf Pangeran, tidak bisa menyelamatkan Shinta.
RAMA                                  Jatayu, sudahlah. Aku sungguh berterimakasih atas bantuanmu. Sekarang Shinta dimana?
JATAYU                                (DENGAN NYAWA YANG MASIH TERSISA IA MENCOBA MEMBERITAHU RAMA) Rahwana membawanya ke Alengka, Pangeran. (SESUDAH ITU, JATAYU MATI DI PANGKUAN LAKSMANA)
MUSIK MENGHARUBIRU. PANGGUNG BERANGSUR GELAP.



Babak 5: Kematian Rahwana
TAMAN ARGASOKA. DI SANA SUDAH ADA SHINTA BERSAMA TRIJATA. KEMUDIAN  BEBERAPA EMBAN.
SHINTA                                 Indah sekali Taman Argasoka ini, ya Trijata? Berapa lama membangunnya?
TRIJATA                                Wah, aku tidak begitu tahu berapa lamanya. Tapi yang aku tahu, pembangunannya selalu berubah terus. Dan berkembang. Tahu sendiri, Pakdhe itu kalau punya karep, harus dilakukan. Ndak ada yang berani membantah.
SHINTA                                Aku merasa nyaman di sini, dengan tempat yang indah seperti ini. Tidak ada bedanya dengan keputren yang ada di kahyangan.
TRIJATA                               Iya, betul. Kamu itu perempuan yang pinilih. Beruntung. Tidak semua orang mendapatkan kebaikan hati dari Pak Dhe.
SHINTA                                Iya, aku tahu. Tetapi…
TRIJATA                               Tetapi kenapa, Shinta?
SHINTA                                Aku juga ndak bisa begitu saja melupakan Kanda Rama. Dia pasti bingung, mencari-cari aku. Dia pasti menderita karena kepergianku, Trijata.
TRIJATA                               Sudahlah. Tidak ada salahnya mempergunakan hidup yang singkat ini untuk bersenang-senang memanjakan diri sesekali. Iya to?
SHINTA                                Aku ndak bisa, Trijata.
TRIJATA                               Kamu di sini juga ndak disiksa. Pak Dhe sangat menyayangimu. Orang-orang di sini juga siap melayani semua kebutuhanmu. Kamu tinggal bilang, dan sebentar kemudian akan ada di hadapanmu. Aku sebenarnya agak heran, kenapa Pakdhe begitu menyayangimu.
SHINTA                                Menurutmu kenapa, Trijata?
                                               Memang benar, aku tidak pernah mendapatkan hal buruk di sini. Prabu Rahwana menghormatiku sebagai seorang perempuan. Tidak sedikit pun ia berani colak-colek, brangasan, di depanku. Aku merasa terhormat apabila di depan Prabu Rahwana. Entah kenapa…
TRIJATA                               Apakah ia pernah mengatakan kepadamu, hal-hal rahasia?
SHINTA                                Hal-hal rahasia?
TRIJATA                               Iya. Seperti, apa keinginan Pakdhe sebenarnya dengan menculikmu dari alas Dandaka? Atau, kenapa Pakdhe memperlakukanmu dengan baik seperti itu.
SHINTA                                Endak iq….
TRIJATA                               Aneh ya….
                                               Aku juga tidak mengerti. Tiba-tiba Bapak menyuruhku untuk menemuimu, menemani kamu di Argasoka ini. Katanya, itu perintah Pakdhe. Dan Pakdhe pesan, untuk melayani kamu sebaik mungkin.
SHINTA                                Trijata, kamu baik. Kamu sudah melayani aku di sini dengan sangat baik. Kamu bebas saja, tidak usah merasa kaku seperti ini. Ah, kamu ini lo…
TRIJATA                               Iya…
SUKESI MASUK.
TRIJATA                               Eyang Sukesi…
SUKESI                                 Apa yang tengah kalian bicarakan. Sepertinya koq serius sekali.
TRIJATA                               Ndak serius, Eyang. Shinta ini lo, kangen sama Prabu Rama, katanya.
SUKESI                                 Ehm…ya, Eyang mengerti, nduk Shinta. Kalian itu sudah ditakdirkan menjadi pasangan cinta sejati. Semua peristiwa dan yang dialami saat ini, tidak lain adalah jalan menuju ke sana. Kuatkan hatimu, ya Nduk…
SHINTA                                Iya, Eyang. Meskipun saya juga ndak mudheng apa yang Eyang maksudkan.
SUKESI                                 Rahwana, adalah jalan.
                                               Dia memisahkan kalian justru untuk mempersatukan. Rahwana sangat menyadari akan hal itu.
SHINTA                                Jadi saya akan dikembalikan kepada Kanda Rama pada akhirnya, Eyang?
SUKESI                                 Tentu tidak akan semudah kita bicara, Nduk. Namun Eyang mempercayai itu.
SHINTA                                Kapan Eyang?
SUKESI                                 Eyang tidak tahu. Sungguh, eyang tidak tahu. Eyang hanya percaya itu yang akan terjadi, sayangku.
TRIJATA                               Kenapa jalan itu tidak mudah, Eyang? Pakdhe bisa membawa Shinta ke sini dengan mudah. Tentu mudah pula untuk mengembalikan.
SUKESI                                 Kalau kamu berani, tanyakan sendiri kepada Pakdhe….
TRIJATA                               Ah, eyang ini. Mana mungkin aku berani….
RAHWANA MASUK.
RAHWANA                         Sembah sungkem Kanjeng Ibu.
SUKESI                                 Iya, Ngger. Kamu dari mana?
RAHWANA                         Rahwana pergi ke perbatasan. Mencari informasi, siapa tahu ada sisik melik yang berguna. Setelah Rahwana membawa pulang Shinta, rasanya ada yang tidak beres di perbatasan. Hampir setiap hari ada prajuritku yang mati.
Rahwana khawatir akan ada apa-apa dengan Shinta, makanya langsung ke Argasoka.
SHINTA                                 Saya baik-baik saja di sini, Prabu.
RAHWANA                          Syukurlah. Aku senang mendengarnya.
                                                Puluhan tahun aku memimpikan peristiwa ini, Shinta. Rahwana bisa membahagiakan Shinta. Hiduplah di sini, dan merasa bebaslah. Argasoka milikmu, Alengka adalah negaramu.
SHINTA                                Iya. Tetapi aku ingin bertemu dengan Kanda Rama. Apakah juga diperbolehkan? Aku kasihan, dia akan menderita tanpa ada aku di dekatnya.
RAHWANA                         Shinta, tentu. Tentu boleh. Tapi mohon mengertilah, jangan  dalam waktu dekat ini, ya?
SHINTA                                Kenapa?
RAHWANA                         Ijinkan Rahwana melunaskan hutang sepanjang hidup yang tidak mungkin terlunaskan, Shinta.
SHINTA                                Prabu sudah memberikan yang terbaik buatku. Tidak menyakiti, tidak melukai, memberi yang aku butuhkan…itu semua terbaik yang pernah aku terima, Prabu.
RAHWANA                         Oh, Shinta…
SUKESI                                 Trijata, sebaiknya kita beres-beres ruang makan untuk nanti malam. Yuk…
TRIJATA                               (MENGANGGUK) Baik, Eyang…
MEREKA BERDUA PERGI.
RAHWANA                         Sepanjang hidup Rahwana melewatinya dengan keras. Dengan perjuangan yang seringkali mematikan. Rahwana selalu menghadapinya dengan gagah. Rahwana sakit hati kalau masih ada yang berani melawanku.
                                               Rahwana memang angkuh. Sombong. Egois. Dan terlebih Rahwana tidak mampu menghadirkan kebahagiaan di tengah keluarga.
                                               Ayahku tewas dibunuh Danaraja, di depan mataku sendiri. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku menuntut keadilan dan menggugat kahyangan, tetapi mereka dengan licik justru mempermainkanku seperti anak kecil. Dewi Tari yang kusayangi, harus mati di depan mataku sendiri. Pun aku tidak mampu berbuat apa-apa.
                                               Shinta, kamu lihatlah Rahwana saat ini, tak ubahnya sosok lemah tidak berdaya.
                                               Orang-orang yang kucintai, satu demi satu mati di depan mataku. Dan para dewa tertawa karena aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mengapa cinta, selalu harus membuat Rahwana terluka?
SHINTA                                Prabu Rahwana, mohon maaf. Menurut Shinta, Prabu adalah sosok pengayom, bagi orang-orang tercinta. Juga bagi seluruh rakyat Alengka. Prabu orang yang luar biasa, menurut Shinta.
                                               Prabu menyelamatkan Alengka dari segala ancaman. Prabu menjunjung tinggi dan menghormati Eyang Sukesi, sebagai ibu di tempat yang paling terhormat di hati Prabu.
RAHWANA                         Tidak, Shinta. Semua itu tidak ada artinya sama sekali, ketika Rahwana justru menelantarkan buah hati tercintanya puluhan tahun lamanya. Saking gobloknya Rahwana. Saking gendhengnya aku!!
SHINTA                                Prabu….
RAHWANA                         Aku mencium darah Widawati di dalam dirimu, Shinta.
                                               Sebentar. Tapi aku juga tidak mau melihat lagi orang-orang yang kucintai meninggalkanku, atau tewas di depan mataku sendiri.
(TIBA-TIBA SEPERTI TERINGAT SESUATU YANG MENGKHAWATIRKAN ) Bisa jadi dengan kuboyong Shinta, justru menjadi jalan bagi sedulur-sedulurku menjemput ajal. Oh…jagat! Edian! Sarpakenaka! Kumbakarna! Indrajit!!
RAHWANA LANGSUNG BERLARI KELUAR.
BEBERAPA SAAT SETELAH RAHWANA KELUAR, MASUKLAH HANOMAN.
SHINTA                                 Hei, siapa kamu?
HANOMAN                         Mohon maaf, saya utusan Prabu Rama. Saya Hanoman. Saya datang dengan sembunyi-sembunyi, diutus Prabu Rama untuk mencari tahu keberadaan Dewi Shinta.
SHINTA                                Kanda Prabu Rama? Dimana dia sekarang?
HANOMAN                        Prabu Rama dan Laksmana, bersama pasukan saya, ada di hutan dekat perbatan, Dewi.
SHINTA                                Baiklah, Hanoman. Katakan kepada Kanda Prabu Rama, aku baik-baik saja.
HANOMAN                        Baik, Dewi. Saya akan segera mengabarkan ini kepada Prabu Rama.
TIBA-TIBA DATANG ROMBONGAN RAHWANA, KUMBAKARNA, SARPAKENAKA, INDRAJIT DAN PARA PRAJURIT LAINNYA.
RAHWANA                          Hei, maling! Sopo kowe! Blusukan ke taman argasoka tanpa ijin, karepmu opo?!
HANOMAN                         Tidak akan aku pungkiri, aku Hanoman, utusan Prabu Rama.
RAHWANA                          Oh, utusan edan! Sarpakenaka, hadapi Hanoman. Kalau bertekuklutut, bawa kepadaku. Kalau tidak mau menyerah, bunuh saja!!
SARPAKENAKA LANGSUNG MAJU MENGHADAPI HANOMAN. DAN BERANGSUR PERTEMPURAN KELUAR. SEMENTARA DI PANGGUNG, RAHWANA MASIH TERLIHAT BERSAMA KUMBAKARKA DAN ANAK-ANAKNYA, JUGA PARA PRAJURIT.
KUMBAKARNA                 Kang, mbok sudah, Mbakyu Shinta dikembalikan saja ke Prabu Rama. Arep nggo opo to ngepek Mbakyu Shinta? Kurang opo Mbakyu Dewi Tari buatmu?
RAHWANA                         Ngepek Shinta raimu! Kowe ra ngerti opo-opo, Di! Nek kowe emoh mbantu aku, pulang sana ke Pangleburgangsa! Asem!! Iki Alengka diserang musuh, malah ceramah!
KUMBAKARNA                 Ya, Kang. Aku pancen bodo! Aku gelem melu perang, tapi bukan membelamu. Aku membela negaraku, Alengka!
RAHWANA                          Mangkat!!
                                               Jit! Indrajit! Kamu membawa pasukan utama, berjaga di depan alun-alun. Hadapi mereka, jangan sampai masuk istana. Apalagi merangsek taman Argasoka. Awas nek sampai mereka bisa membawa Shinta, kowe sing takjur!!
INDRAJIT                             Sendhika!
RAHWANA                         Mangkat saiki! Bubar! Bubar kabeh!!
SEMUA BUBAR. PANGGUNG GEMURUH PERTEMPURAN. PASUKAN ALENGKA MELAWAN PASUKAN KERA PIMPINAN  HANOMAN. HANOMAN SENDIRI MASIH BERGELUT DENGAN SARPAKENAKA. DAN KUMBAKARNA PASUKAN-PASUKAN KERA YANG SEMAKIN MERAJALELA MENGHANCURKAN ALENGKA.
DI LAYAR BELAKANG MERAH MEMBARA. SEPERTI MERAH API YANG MEMBAKAR NEGARA ALENGKA. ORANG-ORANG YANG BERPERANG DIPANGGUNG TERLIHAT SEPERTI SILUET HITAM. TERIAKAN, JERITAN, TANGIS, SUARA TERTAWA, SEMUA BERCAMPUR DENGAN DENTING PEDANG, LESATAN PANAH.
HINGGA PADA SUATU KETIKA, PANGGUNG BERANGSUR TERANG. SARPAKENAKA YANG TENGAH MENGHADAPI HANOMAN, AKHIRNYA KALAH. KEPALANYA PECAH DAN DARAHNYA YANG MUNCRAT KEMANA-MANA. ORANG, BINATANG DAN TANAMAN YANG KENA DARAHNYA YANG HITAM, LANGSUNG MATI.
RAHWANA MELIHAT HAL ITU, LANGSUNG MENGHAMPIRI SARPAKENAKA. HANOMAN LANGSUNG BERSIJINGKAT PERGI MELIHAT KEDATANGAN RAHWANA.
RAHWANA                          Sarpakenaka! Adikku! Sarpakenaka!!
RAHWANA BERTERIAK-TERIAK, NGAMUK. MENGUTUKI HANOMAN DAN PRABU RAMA. LALU IA BERSEGERA BERLARI KE ARAH LARINYA HANOMAN.
SEMENTARA DI PANGGUNG ATAS, PRABU RAMA TENGAH MEMBIDIKKAN PANAHNYA. DI PANGGUNG BAWAH, BEGITU RAHWANA KELUAR LANGSUNG TERLIHAT KUMBAKARNA. MAKA KETIKA KUMBAKARNA TERLIHAT, PRABU RAMA LANGSUNG MENGHEMPASKAN PANAH GUNAWIJAYA, PANAH PUSAKA MILIKNYA. TEPAT MENGENAI PERUT KUMBAKARNA.
BELUM TUMBANG JUGA, RAMA KEMBALI MELESATKAN SATU ANAK PANAH LAGI DAN MENGENAI LEHERNYA. KUMBAKARNA GUGUR.
RAHWANA BERLARI KEMBALI MASUK, DAN MEMANGKU TUBUH KUMBAKARNA.
RAHWANA                          Adikku, Kumbakarna, jangan tinggalkan aku. Jangan mati, Kumbakarna! Jangan!
RAHWANA MENANGIS KERAS. TERLIHAT DIA SANGAT MARAH.
LALU PANGGUNG BERANGSUR TEMARAM DAN GELAP.
TAMAN ARGASOKA. DI SANA SUDAH ADA SUKESI, SHINTA, TRIJATA DAN BEBERAPA EMBAN. LALU MASUKLAH RAHWANA. RAHWANA BERJALAN SEMPOYONGAN, BERSIMPUH DI DEPAN SUKESI, IBUNYA.
RAHWANA                          Kanjeng Ibu, Rahwana minta maaf. Semua sudah hancur, Ibu. Rahwana tidak bisa menyelamatkan Alengka lagi.
SUKESI                                 Ya, Ngger. Tidak apa-apa. aku mengerti kamu sudah memperjuangkan dengan sekuat tenaga, apa yang menjadi keyakinan dan kebenaranmu.
RAHWANA                         Sarpakenaka gugur di medan laga. Kumbakarna juga telah menyusul, Ibu. Rahwana sekarang tidak ada apa-apanya lagi. Rahwana merasa bersalah, Rahwana minta maaf, Ibu. Rahwana tidak bisa menyelamatkan adik-adik.
SUKESI                                 Ngger, semua adik-adikmu tidak pernah membencimu. Sebagaimana kamu pun tidak pernah membenci adik-adikmu. Ibu tahu itu. Kalian hidup dengan saling menyayangi.
RAHWANA                         Tetapi di menit-menit terakhir, semua menentangku, Ibu. Mereka membela kebenarannya sendiri.
SUKESI                                 Tidak, Ngger.
                                               Wibisana adalah akal dari keberanianmu. Kumbakarna adalah perasaan dari kekuatanmu. Sarpakenaka adalah jiwa dari keliaranmu.
                                               Semua melengkapi keberadaan dirimu, Ngger.
RAHWANA                         Ibu…
SUKESI                                 Sekarang bersiaplah. Hadapi mereka semua, dan selamatkan Alengka, meskipun harus gugur di medan laga. Ibu merestuimu.
RAHWANA                         Ibu…
                                               Satu-satunya yang aku inginkan saat ini adalah nggulawenthah Shinta. Dia darah dagingku, dan aku telah menelantarkannya. Rahwana ingin membahagiakannya. Betapapun berat perjuangannya, Rahwana akan hadapi. Asal Shinta bahagia. Dan Shinta tahu, ayahnya adalah orang yang berjuang demi dirinya.
SUKESI                                 Shinta akan selalu bersama Ibu.
WIBISANA TIBA-TIBA MASUK. LANGSUNG BERSIMPUH DI KAKI SUKESI.
WIBISANA                          Maafkan saya, Ibu.
                                               Kang, Prabu Rama sudah di gerbang istana, menunggumu. Mumpung masih ada kesempatan, segeralah kamu menyelamatkan diri, Kang.
RAHWANA                         Aku bukan pengkhianat sepertimu, dengan membela Rama. Akan kuhadapi Rama. (LANGSUNG KELUAR)
SUKESI                                 (MENDEKAT WIBISANA. LALU IA MENAMPAR WAJAH WIBISANA. KEMUDIAN LANGSUNG PERGI.)
RAHWANA PERGI KELUAR. PANGGUNG KEMUDIAN BERANGSUR GELAP.  
PANGGUNG BERUBAH TERANG DAN MEMPERLIHATKAN RAHWANA SUDAH BERADA DI TENGAH-TENGAH. SEMENTARA PRABU RAMA DAN LAKSMANA ADA DI PANGGUNG ATAS, DI BAWAH, RAHWANA DALAM POSISI SUDAH DIKEPUNG PASUKAN HANOMAN.
TANPA BASA-BASI LAGI, PRABU RAMA BERISAP MEMBIDIKKAN PANAH GUNAWIJAYA-NYA.
-TAMAT-