kugenggam tanganmu, kucium pipimu dan kubisikan cinta ke hatimu- Asa Jatmiko

05/07/16

Dikelilingi Orang-orang Sederhana yang Hebat

PETUAH TAMPAH DAN SERIBU KISAH YANG TERTUMPAH
Dikelilingi Orang-orang Sederhana yang Hebat 
Oleh: Asa Jatmiko


Seringkali hasrat untuk berkarya dan berpentas lebih besar dibanding melakukan pencarian gagasan atas karya. Paling tidak, begitulah yang saya rasakan. Berkali-kali memainkan naskah lakon karangan orang lain. Dari legenda Rara Jonggrang hingga Nawang Wulan, dari karya-karya Kirdjomuljo, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, Rendra hingga Heru Kesawa Murti, dari karya-karya klasik seperti Julius Caesar, Machbet hingga Sampek Eng Tay, lalu terakhir saya menggarap naskah yang disadur dari novel yang berjudul "Ketika Iblis Menikahi Seorang Perempuan". Hasrat untuk kembali berproses, lalu berpentas, saya rasakan jauh lebih besar ketimbang melakukan pencarian gagasan dalam berproses teater.

Konyolnya, setiap kali hendak mencoba melakukan pencarian-pencarian, saya dihantui ketakutan bahwa itu akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Membutuhkan waktu yang leluasa panjang. Belum lagi bagaimana nanti keberterimaan seluruh rekan dalam setim, jangan-jangan jauh lebih tidak "sronto" untuk segera manggung.

Pencarian gagasan atau ide atas karya, pernah saya lakukan pada awal-awal saya bergabung di Teater Djarum. Di antaranya dengan mengambil tema "Debu Kembali Debu", yang kemudian kami mainkan di perkampungan atas Rahtawu. Sepuluhan tahun lebih. Dan sesudah itu saya lebih banyak "mengambil gagasan" dari naskah-naskah yang sudah jadi.

Di saat hendak memulai untuk mencari kembali ide-ide segar di panggung teater, terlebih sebetulnya menjadi kerinduan yang memilukan karena ingin memainkan naskah buatan sendiri, lagi-lagi harus menemui jalan buntu, ketakutan itu menghantui lagi, dan akhirnya maju-mundur serba ragu.

Berangkat dari apa yang saya sebenarnya tidak punyai, sementara gairah berproses terus mendetak lebih keras di jantung, saya menemukan partner yang cerdas membantu saya, Teresa Rudiyanto.


Secarik Kertas Si Jubir Tampah
Dia melontarkan "tampah" sebagai ide sekaligus subyek dari proses teater. Dalam beberapa sudut pandang menurutnya, tampah yang nampaknya sederhana dan cenderung disepelekan keberadaannya ini, memiliki banyak sekali nilai. Dan itu dipakai, dipatuhi dan dihayati oleh masyarakat kita, terutama Jawa.

Kami juga menyepakati bahwa tampah sempat memiliki arti penting dalam sejarah dan ritme industri kretek Nusantara. Ia pernah menjadi salah satu alat atau perangkat yang menjadi bagian penting dalam industri rokok kretek. Antara lain, menjadi tempat tembakau sebelum dilinting dan tempat rokok yag telah dirapikan siap dikemas. Itu terjadi pada hampir seluruh pabrik rokok di Indonesia sejak awal hingga sekitar tahun 70-an.

Di bagian yang lain, tampah juga menjadi tempat untuk mengeringkan cengkeh. Para pemetik cengkeh membawanya dari panenan dengan karung, dan kemudian digelar-ratakan di tampah. Di situ beberapa ibu kemudian melepas cengkeh dari tangkainya, memilih dan memilah cengkeh berdasarkan ukuran dan kualitasnya, untuk kemudian esok harinya siap dikeringkan.

Masyarakat sangat akrab dengan tampah. Tidak hanya secara fungsional, masyarakat Jawa bahkan menghidup-hidupinya dengan kesenian tradisi dan kebudayaan. Melestarikan tampah di dalam setiap sendi kehidupannya, sejak kelahiran lalu hidup hingga kematian, dari persoalan sakit hingga anak hilang diambil hantu. Juga karena begitu ingin menghargainya, masyarakat memiliki kepercayaan bahwa tampah mesti diperlakukan dengan tidak sembarangan. Cara membawa, tidak boleh sembarangan. Cara menaruh dan menyimpan, tidak boleh sembarangan.

Ini kearifan lokal yang patut "diperdengarkan" kembali hari ini, pikir saya. Dan sungguh, ini ide yang luar biasa dari Tesa, panggilan akrab Teresa Rudiyanto. Saya semakin tertarik dan penasaran pada tampah. Karena saya yakin pula, jika begitu, tampah pasti bukanlah sesutu yang biasa saja. Pasti ada sesuatu nilai yang lebih dalam lagi, dan pastilah ada sesuatu yang luar biasa padanya.

Tesa membuat sketsa yang mendedah fungsi dan nilai tampah pada secarik kertas. Lalu menuliskan catatan-catatan penting lainnya selanjutnya, di bagian-bagian yang masih kosong. Maka secarik kertas "bersejarah" itu, menjadi pijakan penting untuk saya mentransformasikannya ke dalam sebuah naskah. Kalau dibaca sekarang, karena saking penuhnya tulisan, maka mungkin agak sulit dipahami oleh siapapun, kecuali oleh Tesa. Tetapi secarik kertas itu telah menjadi "juru bicara" tampah bagi saya menuliskannya ke dalam sebuah naskah teater.


Ritus Siklus yang Ambisius
Adalah Oey Riwayat Slamet yang menyatakan kepada saya dan Tesa bahwa ide tampah sebagai ide yang menarik dan orisinal. Dia mendukung proses penggarapan untuk dimulai, dan dimainkan keliling ke beberapa kota.

Ini tentu kabar yang membuat hati saya bergembira. Paling tidak, proses penggarapan hingga pementasan-pementasan akan mendapat daya dukung yang memadai. Meskipun, jujur saja, saat itu saya tidak tahu bagaimana akan memulai dan hendak dibuat seperti apa pertunjukannya nanti. Benar-benar blong. Saya hanya punya keyakinan, tampah akan bicara dan mengajari saya, secara langsung sedikit demi sedikit.

Hal ini, sok yakin saya itu, yang barangkali membuat saya dan asisten sutradara, Tesa yang saya tunjuk, seringkali bertengkar. Gagasan-gagasan pada penggarapan saya, seringkali muncul secara spontan dan intuitif. Maka bagi Tesa yang terbiasa berpikiran taktis dan terrencana menurutku, seringkali terkaget-kaget dan merasa tidak diberitahu sebelumnya. Itulah saya. Maksud saya, kelemahan saya.

Tampah memang menjadi ikon sekaligus idiom yang fenomenal untuk disajikan ke tengah masyarakat hari ini. Tetapi saya merasa, saya perlu "membungkus" tampah agar tidak langsung terbaca di judul. Harapan saya, itu akan menjadi "misteri" yang hanya bisa ditemukan setelah menonton pertunjukan. Karena itulah saya menjuduli "Ritus Siklus" pada mulanya.

Yang berikutnya, saya sebenarnya ingin agar ikon dan idiom tampah tidak hanya sekedar berarti tampah semata. Pikir saya, perlu metafora tertentu agar pemaknaan tampah menjadi lebih luas. Mungkin lingkaran, atau "cakra manggilingan" (kehidupan sebagai roda yang berputar), atau sebagai matahari, sebagai black-hole, sebagai batas luar wilayah pribadi kita, dan sebagainya. Maka saya mantap untuk memilih metafora tampah dengan "Siklus". Sementara "Ritus", adalah proses ritual, upacara atau kegiatan yang diperuntukkan mengangkat nilai-nilai tertentu oleh masyarakat.

Ritus Siklus semakin nampak menjadi kegiatan proses berteater yang cukup ambisius, karena di hari-hari selanjutnya banyak kawan seniman dan budayawan yang suka, dan mendorong bahkan turut membekali dengan materi dan keilmuwan yang dikuasai. Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta berbincang panjang lebar mengenai folosofi tampah, dan juga bambu, pada sebuah kesempatan ia ke Kudus. Sungguh sebuah anugrah bagi saya, semakin diperkaya dan diyakinkan bahwa tampah penting untuk disuarakan melalui teater.

Mencoba merenungi "Ritus Siklus", saya lama-lama merasa kurang sreg. Saya ingin mengganti judulnya. Tambah lagi, seorang penulis dari Semarang, mengatakan bahwa frasa "Ritus Siklus" agak sulit dipahami secara langsung oleh masyarakat luas. Meskipun saat itu Prof Suminto mengatakan judul seperti itu bukan masalah.

Keesokan harinya saya kembali menghubungi Tesa, minta dicarikan pengganti judul Ritus Siklus.
"Judul itu sudah bagus. Kenapa diganti?" tanya Tesa.
"Kayaknya kurang pas. Naskah itu menggarap salah satu idiom tradisi dan kebudayaan kita, mengapa ada kata "siklus". Itu bukan bahasa asli kita," kataku.
Saya mengatakan hal ini sebagai sesuatu yang serius. Terlebih karena saya ingin meyakinkan pada diri saya, bahwa pilihan saya memakai "Ritus Siklus", memang kurang pas.
"Pakai kata "tampah", ya?" ia bertanya setelah kami terdiam cukup lama.
"Boleh," jawabku.
"Sebentar...," lalu Tesa seperti memikirkan sesuatu. "Kita mengangkat nilai-nilai yang ada pada tampah. Untuk apa kita angkat dan suarakan kembali? Untuk mengingatkan kita kembali, kan ya? Untuk menghidupkan lagi nilai-nilai itu. Atau paling tidak, ada yang penting yang ingin disampaikan tampah kepada kita semua," jelasnya.
Aku mengangguk.

Lalu ia melanjutkan dengan beberapa pilihan kata, seperti: kearifan, nasihat, amanat, petuah. "Ya, Petuah saja! Petuah Tampah!" aku bersemangat.

Semenjak hari itu judulnya berubah menjadi "Petuah Tampah". Malam harinya ketika latihan, saya dan Tesa menjelaskan perubahan tersebut. Saya melihat air muka teman-teman, seperti lebih menerima judul ini ketimbang judul "Ritus Siklus".


Revolusi Proses dan Latihan Teater
Awalnya naskah hanya berisi tak lebih duabelas halaman, dengan 70% berupa penjelasan mengenai suasana dan pertumbuhan para karakter yang ada di dalamnya. Itu pun dengan bahasa yang cukup sulit, bersayap dan sangat multi-tafsir. Lalu hanya sekitar 30%-nya berisi dialog para tokoh dan syair tetembangan.

Ini tentu menyulitkan para aktor. Naskah sama sekali tidak memberikan petunjuk yang jelas, kemana aktor bergerak, melangkah atau aktivitas akting tertentu. Saya menyengaja hal ini terjadi, yakni: pertanyaan, dialog, pemahaman dan penghayatan akan karakter, antara pemain dan sutradara juga antara pemain dengan dirinya sendiri.

Tentu saja ini tidak mudah. Aktor diberi kebebasan bergerak dan menafsir, tetapi mereka juga tidak bisa melepaskan diri dari "ring" area dan bangunan suasana yang hendak diangkat. Saya sebagai sutradara dan Tesa sebagai asisten sutradara, menyediakan diri untuk memberikan gambaran-gambaran yang ingin dicapai oleh tiap aktor. Pun memberikan landasan bekal berupa pengetahuan, pemahaman, motivasi dan harapan bagaimana adegan demi adegan akan hidup dan dihidupi para aktor.

Berangkat dari kegelisahan saya ketika melihat proses dan latihan teater selama ini, yang menurut saya, tidak pernah berhasil menjolok kesadaran para aktor untuk dengan sadar pula hanyut pada kesadaran peran. Maka orientasi dan prioritas latihan lebih ditekankan pada upaya membangun "kepekaan" dalam diri tiap aktor.

Tampah yang secara materi, musti dilebur ke dalam diri aktor, dimasukkan ke jiwanya, untuk kemudian biarlah tampah yang bicara. Tampah yang juga diyakini memiliki "magi" dan mitos tertentu, juga musti disapa dan diakrabi, agar apa "yang dimaui" terpahami oleh tiap aktor.

Dari sanalah kemudian semua aktor bersiap memasuki latihan-latihan yang "berbeda" dari biasanya. Berziarah ke makam Sunan Muria dengan jalan kaki berdiam diri, menjalankan meditasi-meditasi malam, mengeksplorasi tubuh menjadi aktor kedua (setelah hati) yang memampukan dirinya berkomunikasi dan berbicara tentang makna dan sesuatu yang lainnya.

Membaca naskah untuk kemudian masuk ke tahap menghapalkan dialog, menjadi tanggungjawab tiap aktor. Demikian juga "olah gerak" yang harus dimainkan. Berada di tempat latihan, semua aktor sudah selesai dengan hapalan. Karena latihan-latihan lebih ditekankan pada galian dan jangkauan estetik agar semakin dalam dan jauh, memaksimalkan energi dalam. Dan semua hari dan jam latihan dilakukan dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi.

Dan berproses bersama mereka, saya semakin menyadari betapa besar potensi mereka, kuatnya daya juang mereka, untuk semakin menjadi diri mereka lebih dari waktu ke waktu. Saya punya Teresa Rudiyanto yang dapat memberi pengamatan lebih detail, memberi masukan atau pertimbangan penting, dan selalu berani menanyakan balik setiap ide kepada sutradara.

Sutrimo, Andreas Teguh Prayoga, Jasmi, Nur Khamidah, Purna Irawan, Masrin Lintang, Ngatini, Murpujiningsih dan Muhammad Hafidl Arifi adalah aktor-aktor cemerlang yang dimiliki Teater Djarum.

Tim Setting dan Tim Musik pun tidak jauh berbeda. Merekalah yang mencari dan menemukan irama, dinamika, ritme dan pilihan-pilihan bunyi. Sementara Tim Rias dan Kostum terus mencari, Teresa Rudiyanto banyak ikut membantu menentukan bentuk, corak dan gaya kostum dan rias hingga menjadi seperti sekarang ini.

Ada Beny Widyantoro, Rofiq Setiawan dan rekan-rekan di timnya (Khairul Anam, Kasmin dan Zamroni), yang selalu siap dan menomorsatukan tugas. Juga Heru Nugroho, Aniek, Sumarlan dan Sriyatun yang tangguh dan ulet menerjemahkan gagasan musik ke dalam komposisi-komposisi sederhana namun memikat.

Acong Sudarmono yang semakin hari semakin mempertajam penglihatannya akan cahaya. Selalu siap diubah sutradara dan segera menyesuaikan sesuai yang dimaui. Lebih kuat lagi dengan adanya Asri di sebelahnya. Menjadi partner yang seiya-sekata, memposisikan lampu mencari fokusnya. Lalu Umi Setiyani yang setia menelusuri relung-relung perjalanan tim, dimana kadang ia sendiri hanya berjalan dan berjalan lalu memetik hikmah.

Sungguh, saya merasa berada di antara orang-orang sederhana, yang mau berproses dengan keras. Mereka semua tim hebat yang saya banggakan dan yang pernah saya miliki. Bersama mereka, Teater Djarum berkeliling menjelajah Indonesia. Menjadi kelompok teater yang tak ingin dianggap remeh dalam blantika perteateran Indonesia.


Menganyam Potensi dan Peluang
Hampir seluruh personel Teater Djarum menyatakan hal yang sama, bahwa mereka merasakan beban berat atas tanggungjawab untuk menampilkan suguhan pentas teater yang menarik, enak ditonton sekaligus memberi "sesuatu" kepada penonton yang hadir di Galeri Indonesia Kaya, pada 8 Mei 2016.

Tentu pernyataan (dan pengakuan) ini mempengaruhi bagaimana kesiapan mental tim Teater Djarum. Dan hal tersebut mengada dan menguat terutama selepas pementasan di Gedung Kesenian Jepara (22/04/16). Kegembiraan akan bermain di salah satu gedung kesenian di Jakarta seolah tertepis oleh beratnya beban tersebut.

Setiap latihan-latihan, diupayakan dipersiapkan sebaik-baiknya. Tempat latihan dibuat semirip mungkin dengan keluasan area panggung yang nantinya dipergunakan. Detail set dan properti "ditapeni" lagi dan dicari bobot artistik dan motivasinya oleh Beny Widyantoro, Rofiq Setiawan, Khoirul Anam, Kasmin dan Zamroni.

Demikian juga komposisi-komposisi musik, tim yang terdiri dari Heru Nugroho, Abdul Munif, Aniek, Sumarlan dan Sriyatun bergerak lebih keras dengan menjalankan latihan-latihan secara mandiri. Tata lampu oleh Acong Sudarmono, mencarikan sudut-sudut dan kemiringannya hingga kami merasa pas. Tata rias dan kostum oleh Umi Setiyani, didiskusikan dan dibongkarpasang kembali hingga menemukan kesepakatan yang diinginkan bersama.

Beberapa hari menjelang berangkat beberapa aktor mulai habis suaranya, radang dan parau. Beberapa tampah sudah mulai robek dan tak karuan bentuknya. Musik, belum juga menemukan greget irama yang diinginkan. Beberapa personel "terganggu" dengan suara-suara minor dari luaran, luluhkan semangat. Beberapa hari menjelang berangkat tim Petuah Tampah justru berada pada stamina yang susut.

Sisanya adalah pemeliharaan semangat, tetap bertandang ke "padang Kurusetra" Galeri Indonesia Kaya Jakarta, hidup atau mati. Itulah satu-satunya bekal keberangkatan tim. Dua hari menjelang berangkat, Putu Wijaya mengirim surel memastikan akan datang menonton, sembari menyisipkan pesan "semangat" untuk tim.

Kami menganyam "tampah" menuju Galeri Indonesia Kaya dengan tertatih tapi pantang menyerah. Di sepanjang perjalanan KA Argo Muria Tawang - Gambir, di antara kami masih berbincang akan panggung, ada juga yang nampak "ditenang-tenangkan" dirinya, ada yang sibuk menunggu kapan kereta api berhenti di stasiun agar bisa turun dan merokok, sementara di sudut antara pintu masuk dan toilet ada juga yang limbung karena mabok perjalanan.

Lesung yang kami usung dari Kudus, telah mendahului sampai di Jakarta. Tetapi tak bisa masuk mendekati lokasi di lantai 8. Terpaksa menunggu tim, untuk kemudian bergotong-royong mengangkut lesung nan berat itu ke lift barang dari lantai dasar hingga lantai 8. Itu pun setelah jam 22. Aturan di West Mall, Grand Indonesia memang begitu. Dari lift lantai 8, dipanggul berramai-ramai menuju gedung pertunjukan yang berjarak beberapa ratus meter.

Begitulah semuanya dilakoni dengan tekun oleh tim Petuah Tampah. Hingga berlangsung gladi bersih dengan lancar.
Di balik semuanya itu, saya melihat masing-masing personel di tim adalah pribadi-pribadi yang baik nan potensial dalam berkarya di kesenian. Potensi mereka yang kuat, telah dibuktikan dari terus berkembangnya riak-riak kreativitas. Proses ber-"Petuah Tampah" seakan menyala dan tak ada matinya, berkembang dan berbiak.

Sutrimo, Andreas Teguh Prayoga, Masrin Lintang, Jasmi, Nur Khamidah, Purna Irawan, Murpujiningsih, Ngatini, M. Hafidl Arifi, Soleh, Asri dan Andhika seolah tak mengenal lelah "mencari" bentuk dan nafas baru dalam eksplorasi permainannya. Saya sebagai sutradara melihat kemajuan-kemajuan penting tersebut. Meskipun langkah-langkah kecil, kemajuan-kemajuan itu dicapai dengan bermakna. Dicatat, diulang, diolah kembali untuk kemudian dimaknai dalam adegan. Untuk mencapai "anyam-anyaman tampah" yang utuh, kuat, teguh dan memiliki makna.

Teresa Rudiyanto memperkuat dengan sabar untuk pembenahan detail-detail adegan, eksplorasi kostum yang simpel namun brilian, dan menjadi penyeimbang dan menerjemahkan antara gairah sutradara yang kadang tak masuk akal ke dalam deskripsi yang mudah diterima oleh tim.

Potensi yang kuat seseorang atau kelompok tertentu, yang telah ada harus diberi tempat dan kelonggaran untuk semakin mengada dan mewujud. Potensi tersebut akan pelan musnah apabila di dalam dirinya tidak mempertahankan dengan latihan-latihan yang tekun.

Sebutir telur ayam yang berisi "kehidupan" (sebagai potensi) akan tumbuh dan muncul sebagai kehidupan yang mengada dan mewujud apabila apa yang ada di dalam telur itu memiliki kehendak dan semangat untuk hidup. Kekuatan dari dalam itulah yang "memecahkan" cangkangnya pada waktunya. Akan sangat berbahaya jika cangkang telur itu pecah karena faktor di luar dirinya. Alih-alih membusuk dan mati, bisa jadi tidak akan menjadi apa-apa.

Dari sanalah kemudian kita membutuhkan "peluang". Tetapi sesungguhnya, peluang itu muncul karena kitalah yang memelihara dan mengembangkan potensi.

Oleh karenanya, bagaimana kita memelihara dan mengembangkan potensi, menjadi dasar untuk kita menciptakan atau membuka masuknya peluang kepada kita. Tim Petuah Tampah menyadari bahwa peluang untuk berpentas di GIK merupakan akumulasi dari kuat dan besarnya potensi kawan-kawan. Saya, tidak ingin kehilangan momentum untuk memberi ruang tim Petuah Tampah untuk "pecah".

Akhir dari perjalanan kali ini adalah kenangan akan tawa dan keryit dahi Putu Wijaya saat menonton. Yudi A. Tajuddin yang menyempatkan menunda keberangkatan ke Kanada hanya untuk menonton Petuah Tampah. Jose Rizal Manua yang  turut berjoget bersama di atas panggung. Ratna Riantiarno yang membawa pemahaman akan kiprah Teater Djarum kepada masyarakat Jakarta. Dan semua penonton yang malam itu merayakan "tampah" dalam teror kegembiraan yang telah diusung tertatih dari Kudus.


Menjadi Masyarakat "Petuah Tampah"
Indera atau indria merupakan alat penghubung/kontak antara jiwa dalam wujud kesadaran rohani diri dengan material lingkungan. Dalam indra yang lima, disebutkan antara lain: mata, telinga, kulit, lidah dan hidung. Dalam indra yang sebelas, dalam Hindu, selain lima yang telah disebutkan masih ada enam yang lain, yakni: tangan, kaki, anus, mulut sampai hidung (bicara - bernafas - makan) dan alat kelamin. Kemudian indra kesebelas adalah pikiran.

Kehadiran Tyas (hati) dalam "Petuah Tampah" disertai kehadiran empat saudara sebagai "sedulur papat" merupakan upaya permenungan kembali akan asal-muasal jati diri setiap pribadi. Dalam kebudayaan Jawa dipahami bahwa kehadiran setiap pribadi selalu diiringi dengan hadirnya "sedulur papat" yang mengasuh bagai ibu, yang membantu bagai ayah, yang menemani bagai sahabat dan yang juga sering memgingatkan bagai saudara.
Representasi atas hidup dan berkembangnya indra pada Tyas memiliki keterkaitan yang khas dengan empat sosok yang mengiringinya.

Dalam konsep "Petuah Tampah", sosok-sosok tersebut menyepuh fungsi mata, telinga, angan (keinginan/kehendak) dan pikiran. Tyas yang pada gilirannya menjadi sentral makna setiap pribadi sebagai "manusia", dapat saja terombang-ambing oleh gelinjang nafsu, angan dan pikiran, namun keberadaanya tetap sebagaimana semula: menjadi sumber kebaikan, kesucian dan kesetiaan bagi setiap pribadi.

Bergulirnya waktu dan proses, empat sosok yang mengiringi Tyas dalam kebaikan, kesucian dan kesetiaan berangsur lumer dan menjelma empat sosok yang menawarkan/memprovokasi Tyas mengabaikan nilai dan janji hati tersebut.
Masyarakat "Petuah Tampah" kemudian menjumpai sosok yang menyertai Tyas berjumlah delapan. Mereka mengepung Tyas dari segala penjuru mata angin: timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara dan timur laut. Mereka membuka sekaligus menutup pintu-pintu kebajikan. Mereka menuntun sekaligus membantai Tyas dalam renungan panjang perjalanan hidup sebagai pribadi yang kuat dan mampu "memimpin" dirinya menyebrangi jembatan derita menuju kekekalan.

Delapan sosok tersebut secara filosofi kemudian dapat ditarik ke dalam pemaknaan bagaimana Tyas sebenarnya tengah "mengamati, mempelajari, menuntut ilmu dan memerangi egoisme dirinya" kepada hastabrata. Delapan "laku hidup" untuk setiap pribadi mencapai pengendalian diri dan memimpin dirinya. Semesta telah menjadi guru paling bijaksana baginya dapat memunguti makna hidup.

Guru yang mengarahkannya kepada Yang Maha Hidup, Sang Guru Sejati, adalah apa yang telah diberikanNya kepada Tyas sejak muasal dia berawal. Ialah Bumi, Matahari, Bulan, Samudra, Bintang, Angin, Api, dan Air, berikut dengan pemaparan kekuatan dan kelemahannya, kelembutan dan keuletannya, kebaikan dan kesetiaannya. Semesta itu sendiri.

Kemudian dari sana tersebutlah sebuah masyarakat sosial: masyarakat "Petuah Tampah". Kita rayakan dan syukuri hidup dan segala kesulitannya, sebagai "jembatan penyebrangan" menuju hari ini dan masa depan dengan lebih baik.


Menampah dalam Peziarahan
Teater Djarum kembali menyajikan "Petuah Tampah", pada Rabu (25 Mei 2016) jam 19:30 WIB di Balaibudaya Rejosari. Sajian ketiga setelah sebelumnya dimainkan di Jepara dan Jakarta ini diharapkan semakin menarik, dengan proses "anyaman" para pemain dari hari ke hari, hingga ihktiar mendekatkan diri kepada "kampung halaman".

Pementasan tersebut menjadi semacam "perhentian" sejenak ketika berjibun masukan dari para sahabat pemerhati teater dan budaya pada umumnya. Saya dan rekan-rekan Teater Djarum membuka seluas mungkin ruang dialog bagi mekar-suburnya gairah eksplorasi, terutama mengenai tampah.

Tentu, bahwa Teater Djarum memiliki cara ungkap estetika sendiri, namun wacana dan pemikiran serta perhatian kepada kebudayaan tetap menjadi salah satu tanggungjawab moral kita semua, sehingga karenanya tidak ada kata lain selain saya dan rekan-rekan "menampah".

"Menampah" menjadi satu kata yang harus saya pilih, untuk menyingkat pengertian panjang tentang sikap atau laku untuk selalu mau menerima - mengayaki/napeni - memilih dan memilah - hingga menemukan "wos".

Di Teater Djarum sendiri, tampah menjadi peziarahan hidup. Nilai-nilai yang hidup dan menyuburkan kita sebagai pribadi tangguh dan masyarakat yang digdaya dari keberadaannya di masa lalu, menjadi referensi yang terbarukan. Oleh karena silang budaya yang harus disikapi dengan bijak.

Senada dengan hal tersebut, tempat pertunjukan juga dihiasi dengan "lorong" waktu peziarahan akan tampah tersebut. Tim artistik menggagas adanya karya-karya instalasi yang mencoba menunjukan hal ini. Wisnu Dudu Dewo juga tampak menghadirkan karyanya, buah perenungannya selama ini.

Kita menjamahnya. Kita berinteraksi dengannya. Kita diberi kisah tragisnya. Kita juga bermimpi bersamanya. Dan mungkin kita telah diajak melakukan renungan bersamanya: pada dimensi mana "kita" saat ini.


Menerima Segala dengan Sukacita
Tampah telah membuka dirinya untuk kami masuki, dan sesekali kami diperbolehkan bercengkrama dengannya. Di balik penggambaran fisiknya yang sederhana, saya bersama tim Teater Djarum menemukan kembali doa dan mantra yang nyaris terlupa, mendengar kembali suara-suara kebijaksanaan, mendapatkan kembali ajaran dan petuah mengenai hidup dan kehidupan.

Keberterimaan yang tanpa syarat, menerima segala dengan sukacita apa yang ada dan kami dapatkan. Memperkecil penolakan-penolakan, pun berangsur lebih sungkan untuk meminta-minta. Kami ingin seperti tampah, menerima segala dengan sukacita dan mengolahnya dengan segenap kemurnian rasa.

Petuah yang terpapar dari kearifan lokal inilah yang ingin kami suarakan kembali. Tampahlah yang berpetuah kepada kita semua. Kami menjadi alatnya, menjadi helai-helai anyamannya, menjadi tali-temali pengikatnya, menjadi apapun bentuknya sedemikian rupa sehingga petuah dari tampah itu bisa terdengar oleh siapapun juga.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mempersembahkan karya "Petuah Tampah" ini bagi Tuhan dan kekasih sejati saya. Terimakasih.

Salam budaya.
asa jatmiko
#berteateritukeren

Dikelilingi Orang-orang Sederhana yang Hebat

PETUAH TAMPAH DAN SERIBU KISAH YANG TERTUMPAH
Dikelilingi Orang-orang Sederhana yang Hebat 
Oleh: Asa Jatmiko


Seringkali hasrat untuk berkarya dan berpentas lebih besar dibanding melakukan pencarian gagasan atas karya. Paling tidak, begitulah yang saya rasakan. Berkali-kali memainkan naskah lakon karangan orang lain. Dari legenda Rara Jonggrang hingga Nawang Wulan, dari karya-karya Kirdjomuljo, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, Rendra hingga Heru Kesawa Murti, dari karya-karya klasik seperti Julius Caesar, Machbet hingga Sampek Eng Tay, lalu terakhir saya menggarap naskah yang disadur dari novel yang berjudul "Ketika Iblis Menikahi Seorang Perempuan". Hasrat untuk kembali berproses, lalu berpentas, saya rasakan jauh lebih besar ketimbang melakukan pencarian gagasan dalam berproses teater.

Konyolnya, setiap kali hendak mencoba melakukan pencarian-pencarian, saya dihantui ketakutan bahwa itu akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Membutuhkan waktu yang leluasa panjang. Belum lagi bagaimana nanti keberterimaan seluruh rekan dalam setim, jangan-jangan jauh lebih tidak "sronto" untuk segera manggung.

Pencarian gagasan atau ide atas karya, pernah saya lakukan pada awal-awal saya bergabung di Teater Djarum. Di antaranya dengan mengambil tema "Debu Kembali Debu", yang kemudian kami mainkan di perkampungan atas Rahtawu. Sepuluhan tahun lebih. Dan sesudah itu saya lebih banyak "mengambil gagasan" dari naskah-naskah yang sudah jadi.

Di saat hendak memulai untuk mencari kembali ide-ide segar di panggung teater, terlebih sebetulnya menjadi kerinduan yang memilukan karena ingin memainkan naskah buatan sendiri, lagi-lagi harus menemui jalan buntu, ketakutan itu menghantui lagi, dan akhirnya maju-mundur serba ragu.

Berangkat dari apa yang saya sebenarnya tidak punyai, sementara gairah berproses terus mendetak lebih keras di jantung, saya menemukan partner yang cerdas membantu saya, Teresa Rudiyanto.


Secarik Kertas Si Jubir Tampah
Dia melontarkan "tampah" sebagai ide sekaligus subyek dari proses teater. Dalam beberapa sudut pandang menurutnya, tampah yang nampaknya sederhana dan cenderung disepelekan keberadaannya ini, memiliki banyak sekali nilai. Dan itu dipakai, dipatuhi dan dihayati oleh masyarakat kita, terutama Jawa.

Kami juga menyepakati bahwa tampah sempat memiliki arti penting dalam sejarah dan ritme industri kretek Nusantara. Ia pernah menjadi salah satu alat atau perangkat yang menjadi bagian penting dalam industri rokok kretek. Antara lain, menjadi tempat tembakau sebelum dilinting dan tempat rokok yag telah dirapikan siap dikemas. Itu terjadi pada hampir seluruh pabrik rokok di Indonesia sejak awal hingga sekitar tahun 70-an.

Di bagian yang lain, tampah juga menjadi tempat untuk mengeringkan cengkeh. Para pemetik cengkeh membawanya dari panenan dengan karung, dan kemudian digelar-ratakan di tampah. Di situ beberapa ibu kemudian melepas cengkeh dari tangkainya, memilih dan memilah cengkeh berdasarkan ukuran dan kualitasnya, untuk kemudian esok harinya siap dikeringkan.

Masyarakat sangat akrab dengan tampah. Tidak hanya secara fungsional, masyarakat Jawa bahkan menghidup-hidupinya dengan kesenian tradisi dan kebudayaan. Melestarikan tampah di dalam setiap sendi kehidupannya, sejak kelahiran lalu hidup hingga kematian, dari persoalan sakit hingga anak hilang diambil hantu. Juga karena begitu ingin menghargainya, masyarakat memiliki kepercayaan bahwa tampah mesti diperlakukan dengan tidak sembarangan. Cara membawa, tidak boleh sembarangan. Cara menaruh dan menyimpan, tidak boleh sembarangan.

Ini kearifan lokal yang patut "diperdengarkan" kembali hari ini, pikir saya. Dan sungguh, ini ide yang luar biasa dari Tesa, panggilan akrab Teresa Rudiyanto. Saya semakin tertarik dan penasaran pada tampah. Karena saya yakin pula, jika begitu, tampah pasti bukanlah sesutu yang biasa saja. Pasti ada sesuatu nilai yang lebih dalam lagi, dan pastilah ada sesuatu yang luar biasa padanya.

Tesa membuat sketsa yang mendedah fungsi dan nilai tampah pada secarik kertas. Lalu menuliskan catatan-catatan penting lainnya selanjutnya, di bagian-bagian yang masih kosong. Maka secarik kertas "bersejarah" itu, menjadi pijakan penting untuk saya mentransformasikannya ke dalam sebuah naskah. Kalau dibaca sekarang, karena saking penuhnya tulisan, maka mungkin agak sulit dipahami oleh siapapun, kecuali oleh Tesa. Tetapi secarik kertas itu telah menjadi "juru bicara" tampah bagi saya menuliskannya ke dalam sebuah naskah teater.


Ritus Siklus yang Ambisius
Adalah Oey Riwayat Slamet yang menyatakan kepada saya dan Tesa bahwa ide tampah sebagai ide yang menarik dan orisinal. Dia mendukung proses penggarapan untuk dimulai, dan dimainkan keliling ke beberapa kota.

Ini tentu kabar yang membuat hati saya bergembira. Paling tidak, proses penggarapan hingga pementasan-pementasan akan mendapat daya dukung yang memadai. Meskipun, jujur saja, saat itu saya tidak tahu bagaimana akan memulai dan hendak dibuat seperti apa pertunjukannya nanti. Benar-benar blong. Saya hanya punya keyakinan, tampah akan bicara dan mengajari saya, secara langsung sedikit demi sedikit.

Hal ini, sok yakin saya itu, yang barangkali membuat saya dan asisten sutradara, Tesa yang saya tunjuk, seringkali bertengkar. Gagasan-gagasan pada penggarapan saya, seringkali muncul secara spontan dan intuitif. Maka bagi Tesa yang terbiasa berpikiran taktis dan terrencana menurutku, seringkali terkaget-kaget dan merasa tidak diberitahu sebelumnya. Itulah saya. Maksud saya, kelemahan saya.

Tampah memang menjadi ikon sekaligus idiom yang fenomenal untuk disajikan ke tengah masyarakat hari ini. Tetapi saya merasa, saya perlu "membungkus" tampah agar tidak langsung terbaca di judul. Harapan saya, itu akan menjadi "misteri" yang hanya bisa ditemukan setelah menonton pertunjukan. Karena itulah saya menjuduli "Ritus Siklus" pada mulanya.

Yang berikutnya, saya sebenarnya ingin agar ikon dan idiom tampah tidak hanya sekedar berarti tampah semata. Pikir saya, perlu metafora tertentu agar pemaknaan tampah menjadi lebih luas. Mungkin lingkaran, atau "cakra manggilingan" (kehidupan sebagai roda yang berputar), atau sebagai matahari, sebagai black-hole, sebagai batas luar wilayah pribadi kita, dan sebagainya. Maka saya mantap untuk memilih metafora tampah dengan "Siklus". Sementara "Ritus", adalah proses ritual, upacara atau kegiatan yang diperuntukkan mengangkat nilai-nilai tertentu oleh masyarakat.

Ritus Siklus semakin nampak menjadi kegiatan proses berteater yang cukup ambisius, karena di hari-hari selanjutnya banyak kawan seniman dan budayawan yang suka, dan mendorong bahkan turut membekali dengan materi dan keilmuwan yang dikuasai. Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta berbincang panjang lebar mengenai folosofi tampah, dan juga bambu, pada sebuah kesempatan ia ke Kudus. Sungguh sebuah anugrah bagi saya, semakin diperkaya dan diyakinkan bahwa tampah penting untuk disuarakan melalui teater.

Mencoba merenungi "Ritus Siklus", saya lama-lama merasa kurang sreg. Saya ingin mengganti judulnya. Tambah lagi, seorang penulis dari Semarang, mengatakan bahwa frasa "Ritus Siklus" agak sulit dipahami secara langsung oleh masyarakat luas. Meskipun saat itu Prof Suminto mengatakan judul seperti itu bukan masalah.

Keesokan harinya saya kembali menghubungi Tesa, minta dicarikan pengganti judul Ritus Siklus.
"Judul itu sudah bagus. Kenapa diganti?" tanya Tesa.
"Kayaknya kurang pas. Naskah itu menggarap salah satu idiom tradisi dan kebudayaan kita, mengapa ada kata "siklus". Itu bukan bahasa asli kita," kataku.
Saya mengatakan hal ini sebagai sesuatu yang serius. Terlebih karena saya ingin meyakinkan pada diri saya, bahwa pilihan saya memakai "Ritus Siklus", memang kurang pas.
"Pakai kata "tampah", ya?" ia bertanya setelah kami terdiam cukup lama.
"Boleh," jawabku.
"Sebentar...," lalu Tesa seperti memikirkan sesuatu. "Kita mengangkat nilai-nilai yang ada pada tampah. Untuk apa kita angkat dan suarakan kembali? Untuk mengingatkan kita kembali, kan ya? Untuk menghidupkan lagi nilai-nilai itu. Atau paling tidak, ada yang penting yang ingin disampaikan tampah kepada kita semua," jelasnya.
Aku mengangguk.

Lalu ia melanjutkan dengan beberapa pilihan kata, seperti: kearifan, nasihat, amanat, petuah. "Ya, Petuah saja! Petuah Tampah!" aku bersemangat.

Semenjak hari itu judulnya berubah menjadi "Petuah Tampah". Malam harinya ketika latihan, saya dan Tesa menjelaskan perubahan tersebut. Saya melihat air muka teman-teman, seperti lebih menerima judul ini ketimbang judul "Ritus Siklus".


Revolusi Proses dan Latihan Teater
Awalnya naskah hanya berisi tak lebih duabelas halaman, dengan 70% berupa penjelasan mengenai suasana dan pertumbuhan para karakter yang ada di dalamnya. Itu pun dengan bahasa yang cukup sulit, bersayap dan sangat multi-tafsir. Lalu hanya sekitar 30%-nya berisi dialog para tokoh dan syair tetembangan.

Ini tentu menyulitkan para aktor. Naskah sama sekali tidak memberikan petunjuk yang jelas, kemana aktor bergerak, melangkah atau aktivitas akting tertentu. Saya menyengaja hal ini terjadi, yakni: pertanyaan, dialog, pemahaman dan penghayatan akan karakter, antara pemain dan sutradara juga antara pemain dengan dirinya sendiri.

Tentu saja ini tidak mudah. Aktor diberi kebebasan bergerak dan menafsir, tetapi mereka juga tidak bisa melepaskan diri dari "ring" area dan bangunan suasana yang hendak diangkat. Saya sebagai sutradara dan Tesa sebagai asisten sutradara, menyediakan diri untuk memberikan gambaran-gambaran yang ingin dicapai oleh tiap aktor. Pun memberikan landasan bekal berupa pengetahuan, pemahaman, motivasi dan harapan bagaimana adegan demi adegan akan hidup dan dihidupi para aktor.

Berangkat dari kegelisahan saya ketika melihat proses dan latihan teater selama ini, yang menurut saya, tidak pernah berhasil menjolok kesadaran para aktor untuk dengan sadar pula hanyut pada kesadaran peran. Maka orientasi dan prioritas latihan lebih ditekankan pada upaya membangun "kepekaan" dalam diri tiap aktor.

Tampah yang secara materi, musti dilebur ke dalam diri aktor, dimasukkan ke jiwanya, untuk kemudian biarlah tampah yang bicara. Tampah yang juga diyakini memiliki "magi" dan mitos tertentu, juga musti disapa dan diakrabi, agar apa "yang dimaui" terpahami oleh tiap aktor.

Dari sanalah kemudian semua aktor bersiap memasuki latihan-latihan yang "berbeda" dari biasanya. Berziarah ke makam Sunan Muria dengan jalan kaki berdiam diri, menjalankan meditasi-meditasi malam, mengeksplorasi tubuh menjadi aktor kedua (setelah hati) yang memampukan dirinya berkomunikasi dan berbicara tentang makna dan sesuatu yang lainnya.

Membaca naskah untuk kemudian masuk ke tahap menghapalkan dialog, menjadi tanggungjawab tiap aktor. Demikian juga "olah gerak" yang harus dimainkan. Berada di tempat latihan, semua aktor sudah selesai dengan hapalan. Karena latihan-latihan lebih ditekankan pada galian dan jangkauan estetik agar semakin dalam dan jauh, memaksimalkan energi dalam. Dan semua hari dan jam latihan dilakukan dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi.

Dan berproses bersama mereka, saya semakin menyadari betapa besar potensi mereka, kuatnya daya juang mereka, untuk semakin menjadi diri mereka lebih dari waktu ke waktu. Saya punya Teresa Rudiyanto yang dapat memberi pengamatan lebih detail, memberi masukan atau pertimbangan penting, dan selalu berani menanyakan balik setiap ide kepada sutradara.

Sutrimo, Andreas Teguh Prayoga, Jasmi, Nur Khamidah, Purna Irawan, Masrin Lintang, Ngatini, Murpujiningsih dan Muhammad Hafidl Arifi adalah aktor-aktor cemerlang yang dimiliki Teater Djarum.

Tim Setting dan Tim Musik pun tidak jauh berbeda. Merekalah yang mencari dan menemukan irama, dinamika, ritme dan pilihan-pilihan bunyi. Sementara Tim Rias dan Kostum terus mencari, Teresa Rudiyanto banyak ikut membantu menentukan bentuk, corak dan gaya kostum dan rias hingga menjadi seperti sekarang ini.

Ada Beny Widyantoro, Rofiq Setiawan dan rekan-rekan di timnya (Khairul Anam, Kasmin dan Zamroni), yang selalu siap dan menomorsatukan tugas. Juga Heru Nugroho, Aniek, Sumarlan dan Sriyatun yang tangguh dan ulet menerjemahkan gagasan musik ke dalam komposisi-komposisi sederhana namun memikat.

Acong Sudarmono yang semakin hari semakin mempertajam penglihatannya akan cahaya. Selalu siap diubah sutradara dan segera menyesuaikan sesuai yang dimaui. Lebih kuat lagi dengan adanya Asri di sebelahnya. Menjadi partner yang seiya-sekata, memposisikan lampu mencari fokusnya. Lalu Umi Setiyani yang setia menelusuri relung-relung perjalanan tim, dimana kadang ia sendiri hanya berjalan dan berjalan lalu memetik hikmah.

Sungguh, saya merasa berada di antara orang-orang sederhana, yang mau berproses dengan keras. Mereka semua tim hebat yang saya banggakan dan yang pernah saya miliki. Bersama mereka, Teater Djarum berkeliling menjelajah Indonesia. Menjadi kelompok teater yang tak ingin dianggap remeh dalam blantika perteateran Indonesia.


Menganyam Potensi dan Peluang
Hampir seluruh personel Teater Djarum menyatakan hal yang sama, bahwa mereka merasakan beban berat atas tanggungjawab untuk menampilkan suguhan pentas teater yang menarik, enak ditonton sekaligus memberi "sesuatu" kepada penonton yang hadir di Galeri Indonesia Kaya, pada 8 Mei 2016.

Tentu pernyataan (dan pengakuan) ini mempengaruhi bagaimana kesiapan mental tim Teater Djarum. Dan hal tersebut mengada dan menguat terutama selepas pementasan di Gedung Kesenian Jepara (22/04/16). Kegembiraan akan bermain di salah satu gedung kesenian di Jakarta seolah tertepis oleh beratnya beban tersebut.

Setiap latihan-latihan, diupayakan dipersiapkan sebaik-baiknya. Tempat latihan dibuat semirip mungkin dengan keluasan area panggung yang nantinya dipergunakan. Detail set dan properti "ditapeni" lagi dan dicari bobot artistik dan motivasinya oleh Beny Widyantoro, Rofiq Setiawan, Khoirul Anam, Kasmin dan Zamroni.

Demikian juga komposisi-komposisi musik, tim yang terdiri dari Heru Nugroho, Abdul Munif, Aniek, Sumarlan dan Sriyatun bergerak lebih keras dengan menjalankan latihan-latihan secara mandiri. Tata lampu oleh Acong Sudarmono, mencarikan sudut-sudut dan kemiringannya hingga kami merasa pas. Tata rias dan kostum oleh Umi Setiyani, didiskusikan dan dibongkarpasang kembali hingga menemukan kesepakatan yang diinginkan bersama.

Beberapa hari menjelang berangkat beberapa aktor mulai habis suaranya, radang dan parau. Beberapa tampah sudah mulai robek dan tak karuan bentuknya. Musik, belum juga menemukan greget irama yang diinginkan. Beberapa personel "terganggu" dengan suara-suara minor dari luaran, luluhkan semangat. Beberapa hari menjelang berangkat tim Petuah Tampah justru berada pada stamina yang susut.

Sisanya adalah pemeliharaan semangat, tetap bertandang ke "padang Kurusetra" Galeri Indonesia Kaya Jakarta, hidup atau mati. Itulah satu-satunya bekal keberangkatan tim. Dua hari menjelang berangkat, Putu Wijaya mengirim surel memastikan akan datang menonton, sembari menyisipkan pesan "semangat" untuk tim.

Kami menganyam "tampah" menuju Galeri Indonesia Kaya dengan tertatih tapi pantang menyerah. Di sepanjang perjalanan KA Argo Muria Tawang - Gambir, di antara kami masih berbincang akan panggung, ada juga yang nampak "ditenang-tenangkan" dirinya, ada yang sibuk menunggu kapan kereta api berhenti di stasiun agar bisa turun dan merokok, sementara di sudut antara pintu masuk dan toilet ada juga yang limbung karena mabok perjalanan.

Lesung yang kami usung dari Kudus, telah mendahului sampai di Jakarta. Tetapi tak bisa masuk mendekati lokasi di lantai 8. Terpaksa menunggu tim, untuk kemudian bergotong-royong mengangkut lesung nan berat itu ke lift barang dari lantai dasar hingga lantai 8. Itu pun setelah jam 22. Aturan di West Mall, Grand Indonesia memang begitu. Dari lift lantai 8, dipanggul berramai-ramai menuju gedung pertunjukan yang berjarak beberapa ratus meter.

Begitulah semuanya dilakoni dengan tekun oleh tim Petuah Tampah. Hingga berlangsung gladi bersih dengan lancar.
Di balik semuanya itu, saya melihat masing-masing personel di tim adalah pribadi-pribadi yang baik nan potensial dalam berkarya di kesenian. Potensi mereka yang kuat, telah dibuktikan dari terus berkembangnya riak-riak kreativitas. Proses ber-"Petuah Tampah" seakan menyala dan tak ada matinya, berkembang dan berbiak.

Sutrimo, Andreas Teguh Prayoga, Masrin Lintang, Jasmi, Nur Khamidah, Purna Irawan, Murpujiningsih, Ngatini, M. Hafidl Arifi, Soleh, Asri dan Andhika seolah tak mengenal lelah "mencari" bentuk dan nafas baru dalam eksplorasi permainannya. Saya sebagai sutradara melihat kemajuan-kemajuan penting tersebut. Meskipun langkah-langkah kecil, kemajuan-kemajuan itu dicapai dengan bermakna. Dicatat, diulang, diolah kembali untuk kemudian dimaknai dalam adegan. Untuk mencapai "anyam-anyaman tampah" yang utuh, kuat, teguh dan memiliki makna.

Teresa Rudiyanto memperkuat dengan sabar untuk pembenahan detail-detail adegan, eksplorasi kostum yang simpel namun brilian, dan menjadi penyeimbang dan menerjemahkan antara gairah sutradara yang kadang tak masuk akal ke dalam deskripsi yang mudah diterima oleh tim.

Potensi yang kuat seseorang atau kelompok tertentu, yang telah ada harus diberi tempat dan kelonggaran untuk semakin mengada dan mewujud. Potensi tersebut akan pelan musnah apabila di dalam dirinya tidak mempertahankan dengan latihan-latihan yang tekun.

Sebutir telur ayam yang berisi "kehidupan" (sebagai potensi) akan tumbuh dan muncul sebagai kehidupan yang mengada dan mewujud apabila apa yang ada di dalam telur itu memiliki kehendak dan semangat untuk hidup. Kekuatan dari dalam itulah yang "memecahkan" cangkangnya pada waktunya. Akan sangat berbahaya jika cangkang telur itu pecah karena faktor di luar dirinya. Alih-alih membusuk dan mati, bisa jadi tidak akan menjadi apa-apa.

Dari sanalah kemudian kita membutuhkan "peluang". Tetapi sesungguhnya, peluang itu muncul karena kitalah yang memelihara dan mengembangkan potensi.

Oleh karenanya, bagaimana kita memelihara dan mengembangkan potensi, menjadi dasar untuk kita menciptakan atau membuka masuknya peluang kepada kita. Tim Petuah Tampah menyadari bahwa peluang untuk berpentas di GIK merupakan akumulasi dari kuat dan besarnya potensi kawan-kawan. Saya, tidak ingin kehilangan momentum untuk memberi ruang tim Petuah Tampah untuk "pecah".

Akhir dari perjalanan kali ini adalah kenangan akan tawa dan keryit dahi Putu Wijaya saat menonton. Yudi A. Tajuddin yang menyempatkan menunda keberangkatan ke Kanada hanya untuk menonton Petuah Tampah. Jose Rizal Manua yang  turut berjoget bersama di atas panggung. Ratna Riantiarno yang membawa pemahaman akan kiprah Teater Djarum kepada masyarakat Jakarta. Dan semua penonton yang malam itu merayakan "tampah" dalam teror kegembiraan yang telah diusung tertatih dari Kudus.


Menjadi Masyarakat "Petuah Tampah"
Indera atau indria merupakan alat penghubung/kontak antara jiwa dalam wujud kesadaran rohani diri dengan material lingkungan. Dalam indra yang lima, disebutkan antara lain: mata, telinga, kulit, lidah dan hidung. Dalam indra yang sebelas, dalam Hindu, selain lima yang telah disebutkan masih ada enam yang lain, yakni: tangan, kaki, anus, mulut sampai hidung (bicara - bernafas - makan) dan alat kelamin. Kemudian indra kesebelas adalah pikiran.

Kehadiran Tyas (hati) dalam "Petuah Tampah" disertai kehadiran empat saudara sebagai "sedulur papat" merupakan upaya permenungan kembali akan asal-muasal jati diri setiap pribadi. Dalam kebudayaan Jawa dipahami bahwa kehadiran setiap pribadi selalu diiringi dengan hadirnya "sedulur papat" yang mengasuh bagai ibu, yang membantu bagai ayah, yang menemani bagai sahabat dan yang juga sering memgingatkan bagai saudara.
Representasi atas hidup dan berkembangnya indra pada Tyas memiliki keterkaitan yang khas dengan empat sosok yang mengiringinya.

Dalam konsep "Petuah Tampah", sosok-sosok tersebut menyepuh fungsi mata, telinga, angan (keinginan/kehendak) dan pikiran. Tyas yang pada gilirannya menjadi sentral makna setiap pribadi sebagai "manusia", dapat saja terombang-ambing oleh gelinjang nafsu, angan dan pikiran, namun keberadaanya tetap sebagaimana semula: menjadi sumber kebaikan, kesucian dan kesetiaan bagi setiap pribadi.

Bergulirnya waktu dan proses, empat sosok yang mengiringi Tyas dalam kebaikan, kesucian dan kesetiaan berangsur lumer dan menjelma empat sosok yang menawarkan/memprovokasi Tyas mengabaikan nilai dan janji hati tersebut.
Masyarakat "Petuah Tampah" kemudian menjumpai sosok yang menyertai Tyas berjumlah delapan. Mereka mengepung Tyas dari segala penjuru mata angin: timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara dan timur laut. Mereka membuka sekaligus menutup pintu-pintu kebajikan. Mereka menuntun sekaligus membantai Tyas dalam renungan panjang perjalanan hidup sebagai pribadi yang kuat dan mampu "memimpin" dirinya menyebrangi jembatan derita menuju kekekalan.

Delapan sosok tersebut secara filosofi kemudian dapat ditarik ke dalam pemaknaan bagaimana Tyas sebenarnya tengah "mengamati, mempelajari, menuntut ilmu dan memerangi egoisme dirinya" kepada hastabrata. Delapan "laku hidup" untuk setiap pribadi mencapai pengendalian diri dan memimpin dirinya. Semesta telah menjadi guru paling bijaksana baginya dapat memunguti makna hidup.

Guru yang mengarahkannya kepada Yang Maha Hidup, Sang Guru Sejati, adalah apa yang telah diberikanNya kepada Tyas sejak muasal dia berawal. Ialah Bumi, Matahari, Bulan, Samudra, Bintang, Angin, Api, dan Air, berikut dengan pemaparan kekuatan dan kelemahannya, kelembutan dan keuletannya, kebaikan dan kesetiaannya. Semesta itu sendiri.

Kemudian dari sana tersebutlah sebuah masyarakat sosial: masyarakat "Petuah Tampah". Kita rayakan dan syukuri hidup dan segala kesulitannya, sebagai "jembatan penyebrangan" menuju hari ini dan masa depan dengan lebih baik.


Menampah dalam Peziarahan
Teater Djarum kembali menyajikan "Petuah Tampah", pada Rabu (25 Mei 2016) jam 19:30 WIB di Balaibudaya Rejosari. Sajian ketiga setelah sebelumnya dimainkan di Jepara dan Jakarta ini diharapkan semakin menarik, dengan proses "anyaman" para pemain dari hari ke hari, hingga ihktiar mendekatkan diri kepada "kampung halaman".

Pementasan tersebut menjadi semacam "perhentian" sejenak ketika berjibun masukan dari para sahabat pemerhati teater dan budaya pada umumnya. Saya dan rekan-rekan Teater Djarum membuka seluas mungkin ruang dialog bagi mekar-suburnya gairah eksplorasi, terutama mengenai tampah.

Tentu, bahwa Teater Djarum memiliki cara ungkap estetika sendiri, namun wacana dan pemikiran serta perhatian kepada kebudayaan tetap menjadi salah satu tanggungjawab moral kita semua, sehingga karenanya tidak ada kata lain selain saya dan rekan-rekan "menampah".

"Menampah" menjadi satu kata yang harus saya pilih, untuk menyingkat pengertian panjang tentang sikap atau laku untuk selalu mau menerima - mengayaki/napeni - memilih dan memilah - hingga menemukan "wos".

Di Teater Djarum sendiri, tampah menjadi peziarahan hidup. Nilai-nilai yang hidup dan menyuburkan kita sebagai pribadi tangguh dan masyarakat yang digdaya dari keberadaannya di masa lalu, menjadi referensi yang terbarukan. Oleh karena silang budaya yang harus disikapi dengan bijak.

Senada dengan hal tersebut, tempat pertunjukan juga dihiasi dengan "lorong" waktu peziarahan akan tampah tersebut. Tim artistik menggagas adanya karya-karya instalasi yang mencoba menunjukan hal ini. Wisnu Dudu Dewo juga tampak menghadirkan karyanya, buah perenungannya selama ini.

Kita menjamahnya. Kita berinteraksi dengannya. Kita diberi kisah tragisnya. Kita juga bermimpi bersamanya. Dan mungkin kita telah diajak melakukan renungan bersamanya: pada dimensi mana "kita" saat ini.


Menerima Segala dengan Sukacita
Tampah telah membuka dirinya untuk kami masuki, dan sesekali kami diperbolehkan bercengkrama dengannya. Di balik penggambaran fisiknya yang sederhana, saya bersama tim Teater Djarum menemukan kembali doa dan mantra yang nyaris terlupa, mendengar kembali suara-suara kebijaksanaan, mendapatkan kembali ajaran dan petuah mengenai hidup dan kehidupan.

Keberterimaan yang tanpa syarat, menerima segala dengan sukacita apa yang ada dan kami dapatkan. Memperkecil penolakan-penolakan, pun berangsur lebih sungkan untuk meminta-minta. Kami ingin seperti tampah, menerima segala dengan sukacita dan mengolahnya dengan segenap kemurnian rasa.

Petuah yang terpapar dari kearifan lokal inilah yang ingin kami suarakan kembali. Tampahlah yang berpetuah kepada kita semua. Kami menjadi alatnya, menjadi helai-helai anyamannya, menjadi tali-temali pengikatnya, menjadi apapun bentuknya sedemikian rupa sehingga petuah dari tampah itu bisa terdengar oleh siapapun juga.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mempersembahkan karya "Petuah Tampah" ini bagi Tuhan dan kekasih sejati saya. Terimakasih.

Salam budaya.
asa jatmiko
#berteateritukeren

Dikelilingi Orang-orang Sederhana yang Hebat

PETUAH TAMPAH DAN SERIBU KISAH YANG TERTUMPAH
Dikelilingi Orang-orang Sederhana yang Hebat 
Oleh: Asa Jatmiko


Seringkali hasrat untuk berkarya dan berpentas lebih besar dibanding melakukan pencarian gagasan atas karya. Paling tidak, begitulah yang saya rasakan. Berkali-kali memainkan naskah lakon karangan orang lain. Dari legenda Rara Jonggrang hingga Nawang Wulan, dari karya-karya Kirdjomuljo, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, Rendra hingga Heru Kesawa Murti, dari karya-karya klasik seperti Julius Caesar, Machbet hingga Sampek Eng Tay, lalu terakhir saya menggarap naskah yang disadur dari novel yang berjudul "Ketika Iblis Menikahi Seorang Perempuan". Hasrat untuk kembali berproses, lalu berpentas, saya rasakan jauh lebih besar ketimbang melakukan pencarian gagasan dalam berproses teater.

Konyolnya, setiap kali hendak mencoba melakukan pencarian-pencarian, saya dihantui ketakutan bahwa itu akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Membutuhkan waktu yang leluasa panjang. Belum lagi bagaimana nanti keberterimaan seluruh rekan dalam setim, jangan-jangan jauh lebih tidak "sronto" untuk segera manggung.

Pencarian gagasan atau ide atas karya, pernah saya lakukan pada awal-awal saya bergabung di Teater Djarum. Di antaranya dengan mengambil tema "Debu Kembali Debu", yang kemudian kami mainkan di perkampungan atas Rahtawu. Sepuluhan tahun lebih. Dan sesudah itu saya lebih banyak "mengambil gagasan" dari naskah-naskah yang sudah jadi.

Di saat hendak memulai untuk mencari kembali ide-ide segar di panggung teater, terlebih sebetulnya menjadi kerinduan yang memilukan karena ingin memainkan naskah buatan sendiri, lagi-lagi harus menemui jalan buntu, ketakutan itu menghantui lagi, dan akhirnya maju-mundur serba ragu.

Berangkat dari apa yang saya sebenarnya tidak punyai, sementara gairah berproses terus mendetak lebih keras di jantung, saya menemukan partner yang cerdas membantu saya, Teresa Rudiyanto.


Secarik Kertas Si Jubir Tampah
Dia melontarkan "tampah" sebagai ide sekaligus subyek dari proses teater. Dalam beberapa sudut pandang menurutnya, tampah yang nampaknya sederhana dan cenderung disepelekan keberadaannya ini, memiliki banyak sekali nilai. Dan itu dipakai, dipatuhi dan dihayati oleh masyarakat kita, terutama Jawa.

Kami juga menyepakati bahwa tampah sempat memiliki arti penting dalam sejarah dan ritme industri kretek Nusantara. Ia pernah menjadi salah satu alat atau perangkat yang menjadi bagian penting dalam industri rokok kretek. Antara lain, menjadi tempat tembakau sebelum dilinting dan tempat rokok yag telah dirapikan siap dikemas. Itu terjadi pada hampir seluruh pabrik rokok di Indonesia sejak awal hingga sekitar tahun 70-an.

Di bagian yang lain, tampah juga menjadi tempat untuk mengeringkan cengkeh. Para pemetik cengkeh membawanya dari panenan dengan karung, dan kemudian digelar-ratakan di tampah. Di situ beberapa ibu kemudian melepas cengkeh dari tangkainya, memilih dan memilah cengkeh berdasarkan ukuran dan kualitasnya, untuk kemudian esok harinya siap dikeringkan.

Masyarakat sangat akrab dengan tampah. Tidak hanya secara fungsional, masyarakat Jawa bahkan menghidup-hidupinya dengan kesenian tradisi dan kebudayaan. Melestarikan tampah di dalam setiap sendi kehidupannya, sejak kelahiran lalu hidup hingga kematian, dari persoalan sakit hingga anak hilang diambil hantu. Juga karena begitu ingin menghargainya, masyarakat memiliki kepercayaan bahwa tampah mesti diperlakukan dengan tidak sembarangan. Cara membawa, tidak boleh sembarangan. Cara menaruh dan menyimpan, tidak boleh sembarangan.

Ini kearifan lokal yang patut "diperdengarkan" kembali hari ini, pikir saya. Dan sungguh, ini ide yang luar biasa dari Tesa, panggilan akrab Teresa Rudiyanto. Saya semakin tertarik dan penasaran pada tampah. Karena saya yakin pula, jika begitu, tampah pasti bukanlah sesutu yang biasa saja. Pasti ada sesuatu nilai yang lebih dalam lagi, dan pastilah ada sesuatu yang luar biasa padanya.

Tesa membuat sketsa yang mendedah fungsi dan nilai tampah pada secarik kertas. Lalu menuliskan catatan-catatan penting lainnya selanjutnya, di bagian-bagian yang masih kosong. Maka secarik kertas "bersejarah" itu, menjadi pijakan penting untuk saya mentransformasikannya ke dalam sebuah naskah. Kalau dibaca sekarang, karena saking penuhnya tulisan, maka mungkin agak sulit dipahami oleh siapapun, kecuali oleh Tesa. Tetapi secarik kertas itu telah menjadi "juru bicara" tampah bagi saya menuliskannya ke dalam sebuah naskah teater.


Ritus Siklus yang Ambisius
Adalah Oey Riwayat Slamet yang menyatakan kepada saya dan Tesa bahwa ide tampah sebagai ide yang menarik dan orisinal. Dia mendukung proses penggarapan untuk dimulai, dan dimainkan keliling ke beberapa kota.
Ini tentu kabar yang membuat hati saya bergembira. Paling tidak, proses penggarapan hingga pementasan-pementasan akan mendapat daya dukung yang memadai. Meskipun, jujur saja, saat itu saya tidak tahu bagaimana akan memulai dan hendak dibuat seperti apa pertunjukannya nanti. Benar-benar blong. Saya hanya punya keyakinan, tampah akan bicara dan mengajari saya, secara langsung sedikit demi sedikit.

Hal ini, sok yakin saya itu, yang barangkali membuat saya dan asisten sutradara, Tesa yang saya tunjuk, seringkali bertengkar. Gagasan-gagasan pada penggarapan saya, seringkali muncul secara spontan dan intuitif. Maka bagi Tesa yang terbiasa berpikiran taktis dan terrencana menurutku, seringkali terkaget-kaget dan merasa tidak diberitahu sebelumnya. Itulah saya. Maksud saya, kelemahan saya.

Tampah memang menjadi ikon sekaligus idiom yang fenomenal untuk disajikan ke tengah masyarakat hari ini. Tetapi saya merasa, saya perlu "membungkus" tampah agar tidak langsung terbaca di judul. Harapan saya, itu akan menjadi "misteri" yang hanya bisa ditemukan setelah menonton pertunjukan. Karena itulah saya menjuduli "Ritus Siklus" pada mulanya.

Yang berikutnya, saya sebenarnya ingin agar ikon dan idiom tampah tidak hanya sekedar berarti tampah semata. Pikir saya, perlu metafora tertentu agar pemaknaan tampah menjadi lebih luas. Mungkin lingkaran, atau "cakra manggilingan" (kehidupan sebagai roda yang berputar), atau sebagai matahari, sebagai black-hole, sebagai batas luar wilayah pribadi kita, dan sebagainya. Maka saya mantap untuk memilih metafora tampah dengan "Siklus". Sementara "Ritus", adalah proses ritual, upacara atau kegiatan yang diperuntukkan mengangkat nilai-nilai tertentu oleh masyarakat.

Ritus Siklus semakin nampak menjadi kegiatan proses berteater yang cukup ambisius, karena di hari-hari selanjutnya banyak kawan seniman dan budayawan yang suka, dan mendorong bahkan turut membekali dengan materi dan keilmuwan yang dikuasai. Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta berbincang panjang lebar mengenai folosofi tampah, dan juga bambu, pada sebuah kesempatan ia ke Kudus. Sungguh sebuah anugrah bagi saya, semakin diperkaya dan diyakinkan bahwa tampah penting untuk disuarakan melalui teater.

Mencoba merenungi "Ritus Siklus", saya lama-lama merasa kurang sreg. Saya ingin mengganti judulnya. Tambah lagi, seorang penulis dari Semarang, mengatakan bahwa frasa "Ritus Siklus" agak sulit dipahami secara langsung oleh masyarakat luas. Meskipun saat itu Prof Suminto mengatakan judul seperti itu bukan masalah.

Keesokan harinya saya kembali menghubungi Tesa, minta dicarikan pengganti judul Ritus Siklus.
"Judul itu sudah bagus. Kenapa diganti?" tanya Tesa.
"Kayaknya kurang pas. Naskah itu menggarap salah satu idiom tradisi dan kebudayaan kita, mengapa ada kata "siklus". Itu bukan bahasa asli kita," kataku.
Saya mengatakan hal ini sebagai sesuatu yang serius. Terlebih karena saya ingin meyakinkan pada diri saya, bahwa pilihan saya memakai "Ritus Siklus", memang kurang pas.
"Pakai kata "tampah", ya?" ia bertanya setelah kami terdiam cukup lama.
"Boleh," jawabku.
"Sebentar...," lalu Tesa seperti memikirkan sesuatu. "Kita mengangkat nilai-nilai yang ada pada tampah. Untuk apa kita angkat dan suarakan kembali? Untuk mengingatkan kita kembali, kan ya? Untuk menghidupkan lagi nilai-nilai itu. Atau paling tidak, ada yang penting yang ingin disampaikan tampah kepada kita semua," jelasnya.
Aku mengangguk.

Lalu ia melanjutkan dengan beberapa pilihan kata, seperti: kearifan, nasihat, amanat, petuah. "Ya, Petuah saja! Petuah Tampah!" aku bersemangat.

Semenjak hari itu judulnya berubah menjadi "Petuah Tampah". Malam harinya ketika latihan, saya dan Tesa menjelaskan perubahan tersebut. Saya melihat air muka teman-teman, seperti lebih menerima judul ini ketimbang judul "Ritus Siklus".


Revolusi Proses dan Latihan Teater
Awalnya naskah hanya berisi tak lebih duabelas halaman, dengan 70% berupa penjelasan mengenai suasana dan pertumbuhan para karakter yang ada di dalamnya. Itu pun dengan bahasa yang cukup sulit, bersayap dan sangat multi-tafsir. Lalu hanya sekitar 30%-nya berisi dialog para tokoh dan syair tetembangan.

Ini tentu menyulitkan para aktor. Naskah sama sekali tidak memberikan petunjuk yang jelas, kemana aktor bergerak, melangkah atau aktivitas akting tertentu. Saya menyengaja hal ini terjadi, yakni: pertanyaan, dialog, pemahaman dan penghayatan akan karakter, antara pemain dan sutradara juga antara pemain dengan dirinya sendiri.

Tentu saja ini tidak mudah. Aktor diberi kebebasan bergerak dan menafsir, tetapi mereka juga tidak bisa melepaskan diri dari "ring" area dan bangunan suasana yang hendak diangkat. Saya sebagai sutradara dan Tesa sebagai asisten sutradara, menyediakan diri untuk memberikan gambaran-gambaran yang ingin dicapai oleh tiap aktor. Pun memberikan landasan bekal berupa pengetahuan, pemahaman, motivasi dan harapan bagaimana adegan demi adegan akan hidup dan dihidupi para aktor.

Berangkat dari kegelisahan saya ketika melihat proses dan latihan teater selama ini, yang menurut saya, tidak pernah berhasil menjolok kesadaran para aktor untuk dengan sadar pula hanyut pada kesadaran peran. Maka orientasi dan prioritas latihan lebih ditekankan pada upaya membangun "kepekaan" dalam diri tiap aktor.

Tampah yang secara materi, musti dilebur ke dalam diri aktor, dimasukkan ke jiwanya, untuk kemudian biarlah tampah yang bicara. Tampah yang juga diyakini memiliki "magi" dan mitos tertentu, juga musti disapa dan diakrabi, agar apa "yang dimaui" terpahami oleh tiap aktor.

Dari sanalah kemudian semua aktor bersiap memasuki latihan-latihan yang "berbeda" dari biasanya. Berziarah ke makam Sunan Muria dengan jalan kaki berdiam diri, menjalankan meditasi-meditasi malam, mengeksplorasi tubuh menjadi aktor kedua (setelah hati) yang memampukan dirinya berkomunikasi dan berbicara tentang makna dan sesuatu yang lainnya.

Membaca naskah untuk kemudian masuk ke tahap menghapalkan dialog, menjadi tanggungjawab tiap aktor. Demikian juga "olah gerak" yang harus dimainkan. Berada di tempat latihan, semua aktor sudah selesai dengan hapalan. Karena latihan-latihan lebih ditekankan pada galian dan jangkauan estetik agar semakin dalam dan jauh, memaksimalkan energi dalam. Dan semua hari dan jam latihan dilakukan dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi.

Dan berproses bersama mereka, saya semakin menyadari betapa besar potensi mereka, kuatnya daya juang mereka, untuk semakin menjadi diri mereka lebih dari waktu ke waktu. Saya punya Teresa Rudiyanto yang dapat memberi pengamatan lebih detail, memberi masukan atau pertimbangan penting, dan selalu berani menanyakan balik setiap ide kepada sutradara.

Sutrimo, Andreas Teguh Prayoga, Jasmi, Nur Khamidah, Purna Irawan, Masrin Lintang, Ngatini, Murpujiningsih dan Muhammad Hafidl Arifi adalah aktor-aktor cemerlang yang dimiliki Teater Djarum.

Tim Setting dan Tim Musik pun tidak jauh berbeda. Merekalah yang mencari dan menemukan irama, dinamika, ritme dan pilihan-pilihan bunyi. Sementara Tim Rias dan Kostum terus mencari, Teresa Rudiyanto banyak ikut membantu menentukan bentuk, corak dan gaya kostum dan rias hingga menjadi seperti sekarang ini.

Ada Beny Widyantoro, Rofiq Setiawan dan rekan-rekan di timnya (Khairul Anam, Kasmin dan Zamroni), yang selalu siap dan menomorsatukan tugas. Juga Heru Nugroho, Aniek, Sumarlan dan Sriyatun yang tangguh dan ulet menerjemahkan gagasan musik ke dalam komposisi-komposisi sederhana namun memikat.

Acong Sudarmono yang semakin hari semakin mempertajam penglihatannya akan cahaya. Selalu siap diubah sutradara dan segera menyesuaikan sesuai yang dimaui. Lebih kuat lagi dengan adanya Asri di sebelahnya. Menjadi partner yang seiya-sekata, memposisikan lampu mencari fokusnya. Lalu Umi Setiyani yang setia menelusuri relung-relung perjalanan tim, dimana kadang ia sendiri hanya berjalan dan berjalan lalu memetik hikmah.

Sungguh, saya merasa berada di antara orang-orang sederhana, yang mau berproses dengan keras. Mereka semua tim hebat yang saya banggakan dan yang pernah saya miliki. Bersama mereka, Teater Djarum berkeliling menjelajah Indonesia. Menjadi kelompok teater yang tak ingin dianggap remeh dalam blantika perteateran Indonesia.


Menganyam Potensi dan Peluang
Hampir seluruh personel Teater Djarum menyatakan hal yang sama, bahwa mereka merasakan beban berat atas tanggungjawab untuk menampilkan suguhan pentas teater yang menarik, enak ditonton sekaligus memberi "sesuatu" kepada penonton yang hadir di Galeri Indonesia Kaya, pada 8 Mei 2016.

Tentu pernyataan (dan pengakuan) ini mempengaruhi bagaimana kesiapan mental tim Teater Djarum. Dan hal tersebut mengada dan menguat terutama selepas pementasan di Gedung Kesenian Jepara (22/04/16). Kegembiraan akan bermain di salah satu gedung kesenian di Jakarta seolah tertepis oleh beratnya beban tersebut.

Setiap latihan-latihan, diupayakan dipersiapkan sebaik-baiknya. Tempat latihan dibuat semirip mungkin dengan keluasan area panggung yang nantinya dipergunakan. Detail set dan properti "ditapeni" lagi dan dicari bobot artistik dan motivasinya oleh Beny Widyantoro, Rofiq Setiawan, Khoirul Anam, Kasmin dan Zamroni.

Demikian juga komposisi-komposisi musik, tim yang terdiri dari Heru Nugroho, Abdul Munif, Aniek, Sumarlan dan Sriyatun bergerak lebih keras dengan menjalankan latihan-latihan secara mandiri. Tata lampu oleh Acong Sudarmono, mencarikan sudut-sudut dan kemiringannya hingga kami merasa pas. Tata rias dan kostum oleh Umi Setiyani, didiskusikan dan dibongkarpasang kembali hingga menemukan kesepakatan yang diinginkan bersama.

Beberapa hari menjelang berangkat beberapa aktor mulai habis suaranya, radang dan parau. Beberapa tampah sudah mulai robek dan tak karuan bentuknya. Musik, belum juga menemukan greget irama yang diinginkan. Beberapa personel "terganggu" dengan suara-suara minor dari luaran, luluhkan semangat. Beberapa hari menjelang berangkat tim Petuah Tampah justru berada pada stamina yang susut.

Sisanya adalah pemeliharaan semangat, tetap bertandang ke "padang Kurusetra" Galeri Indonesia Kaya Jakarta, hidup atau mati. Itulah satu-satunya bekal keberangkatan tim. Dua hari menjelang berangkat, Putu Wijaya mengirim surel memastikan akan datang menonton, sembari menyisipkan pesan "semangat" untuk tim.

Kami menganyam "tampah" menuju Galeri Indonesia Kaya dengan tertatih tapi pantang menyerah. Di sepanjang perjalanan KA Argo Muria Tawang - Gambir, di antara kami masih berbincang akan panggung, ada juga yang nampak "ditenang-tenangkan" dirinya, ada yang sibuk menunggu kapan kereta api berhenti di stasiun agar bisa turun dan merokok, sementara di sudut antara pintu masuk dan toilet ada juga yang limbung karena mabok perjalanan.

Lesung yang kami usung dari Kudus, telah mendahului sampai di Jakarta. Tetapi tak bisa masuk mendekati lokasi di lantai 8. Terpaksa menunggu tim, untuk kemudian bergotong-royong mengangkut lesung nan berat itu ke lift barang dari lantai dasar hingga lantai 8. Itu pun setelah jam 22. Aturan di West Mall, Grand Indonesia memang begitu. Dari lift lantai 8, dipanggul berramai-ramai menuju gedung pertunjukan yang berjarak beberapa ratus meter.

Begitulah semuanya dilakoni dengan tekun oleh tim Petuah Tampah. Hingga berlangsung gladi bersih dengan lancar.
Di balik semuanya itu, saya melihat masing-masing personel di tim adalah pribadi-pribadi yang baik nan potensial dalam berkarya di kesenian. Potensi mereka yang kuat, telah dibuktikan dari terus berkembangnya riak-riak kreativitas. Proses ber-"Petuah Tampah" seakan menyala dan tak ada matinya, berkembang dan berbiak.

Sutrimo, Andreas Teguh Prayoga, Masrin Lintang, Jasmi, Nur Khamidah, Purna Irawan, Murpujiningsih, Ngatini, M. Hafidl Arifi, Soleh, Asri dan Andhika seolah tak mengenal lelah "mencari" bentuk dan nafas baru dalam eksplorasi permainannya. Saya sebagai sutradara melihat kemajuan-kemajuan penting tersebut. Meskipun langkah-langkah kecil, kemajuan-kemajuan itu dicapai dengan bermakna. Dicatat, diulang, diolah kembali untuk kemudian dimaknai dalam adegan. Untuk mencapai "anyam-anyaman tampah" yang utuh, kuat, teguh dan memiliki makna.

Teresa Rudiyanto memperkuat dengan sabar untuk pembenahan detail-detail adegan, eksplorasi kostum yang simpel namun brilian, dan menjadi penyeimbang dan menerjemahkan antara gairah sutradara yang kadang tak masuk akal ke dalam deskripsi yang mudah diterima oleh tim.

Potensi yang kuat seseorang atau kelompok tertentu, yang telah ada harus diberi tempat dan kelonggaran untuk semakin mengada dan mewujud. Potensi tersebut akan pelan musnah apabila di dalam dirinya tidak mempertahankan dengan latihan-latihan yang tekun.

Sebutir telur ayam yang berisi "kehidupan" (sebagai potensi) akan tumbuh dan muncul sebagai kehidupan yang mengada dan mewujud apabila apa yang ada di dalam telur itu memiliki kehendak dan semangat untuk hidup. Kekuatan dari dalam itulah yang "memecahkan" cangkangnya pada waktunya. Akan sangat berbahaya jika cangkang telur itu pecah karena faktor di luar dirinya. Alih-alih mbusuk dan mati, bisa jadi tidak akan menjadi apa-apa.

Dari sanalah kemudian kita membutuhkan "peluang". Tetapi sesungguhnya, peluang itu muncul karena kitalah yang memelihara dan mengembangkan potensi.

Oleh karenanya, bagaimana kita memelihara dan mengembangkan potensi, menjadi dasar untuk kita menciptakan atau membuka masuknya peluang kepada kita. Tim Petuah Tampah menyadari bahwa peluang untuk berpentas di GIK merupakan akumulasi dari kuat dan besarnya potensi kawan-kawan. Saya, tidak ingin kehilangan momentum untuk memberi ruang tim Petuah Tampah untuk "pecah".

Akhir dari perjalanan kali ini adalah kenangan akan tawa dan keryit dahi Putu Wijaya saat menonton. Yudi A. Tajuddin yang menyempatkan menunda keberangkatan ke Kanada hanya untuk menonton Petuah Tampah. Jose Rizal Manua yang  turut berjoget bersama di atas panggung. Ratna Riantiarno yang membawa pemahaman akan kiprah Teater Djarum kepada masyarakat Jakarta. Dan semua penonton yang malam itu merayakan "tampah" dalam teror kegembiraan yang telah diusung tertatih dari Kudus.


Menjadi Masyarakat "Petuah Tampah"
Indera atau indria merupakan alat penghubung/kontak antara jiwa dalam wujud kesadaran rohani diri dengan material lingkungan. Dalam indra yang lima, disebutkan antara lain: mata, telinga, kulit, lidah dan hidung. Dalam indra yang sebelas, dalam Hindu, selain lima yang telah disebutkan masih ada enam yang lain, yakni: tangan, kaki, anus, mulut sampai hidung (bicara - bernafas - makan) dan alat kelamin. Kemudian indra kesebelas adalah pikiran.

Kehadiran Tyas (hati) dalam "Petuah Tampah" disertai kehadiran empat saudara sebagai "sedulur papat" merupakan upaya permenungan kembali akan asal-muasal jati diri setiap pribadi. Dalam kebudayaan Jawa dipahami bahwa kehadiran setiap pribadi selalu diiringi dengan hadirnya "sedulur papat" yang mengasuh bagai ibu, yang membantu bagai ayah, yang menemani bagai sahabat dan yang juga sering memgingatkan bagai saudara.
Representasi atas hidup dan berkembangnya indra pada Tyas memiliki keterkaitan yang khas dengan empat sosok yang mengiringinya.

Dalam konsep "Petuah Tampah", sosok-sosok tersebut menyepuh fungsi mata, telinga, angan (keinginan/kehendak) dan pikiran. Tyas yang pada gilirannya menjadi sentral makna setiap pribadi sebagai "manusia", dapat saja terombang-ambing oleh gelinjang nafsu, angan dan pikiran, namun keberadaanya tetap sebagaimana semula: menjadi sumber kebaikan, kesucian dan kesetiaan bagi setiap pribadi.

Bergulirnya waktu dan proses, empat sosok yang mengiringi Tyas dalam kebaikan, kesucian dan kesetiaan berangsur lumer dan menjelma empat sosok yang menawarkan/memprovokasi Tyas mengabaikan nilai dan janji hati tersebut.
Masyarakat "Petuah Tampah" kemudian menjumpai sosok yang menyertai Tyas berjumlah delapan. Mereka mengepung Tyas dari segala penjuru mata angin: timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara dan timur laut. Mereka membuka sekaligus menutup pintu-pintu kebajikan. Mereka menuntun sekaligus membantai Tyas dalam renungan panjang perjalanan hidup sebagai pribadi yang kuat dan mampu "memimpin" dirinya menyebrangi jembatan derita menuju kekekalan.

Delapan sosok tersebut secara filosofi kemudian dapat ditarik ke dalam pemaknaan bagaimana Tyas sebenarnya tengah "mengamati, mempelajari, menuntut ilmu dan memerangi egoisme dirinya" kepada hastabrata. Delapan "laku hidup" untuk setiap pribadi mencapai pengendalian diri dan memimpin dirinya. Semesta telah menjadi guru paling bijaksana baginya dapat memunguti makna hidup.

Guru yang mengarahkannya kepada Yang Maha Hidup, Sang Guru Sejati, adalah apa yang telah diberikanNya kepada Tyas sejak muasal dia berawal. Ialah Bumi, Matahari, Bulan, Samudra, Bintang, Angin, Api, dan Air, berikut dengan pemaparan kekuatan dan kelemahannya, kelembutan dan keuletannya, kebaikan dan kesetiaannya. Semesta itu sendiri.

Kemudian dari sana tersebutlah sebuah masyarakat sosial: masyarakat "Petuah Tampah". Kita rayakan dan syukuri hidup dan segala kesulitannya, sebagai "jembatan penyebrangan" menuju hari ini dan masa depan dengan lebih baik.


Menampah dalam Peziarahan
Teater Djarum kembali menyajikan "Petuah Tampah", pada Rabu (25 Mei 2016) jam 19:30 WIB di Balaibudaya Rejosari. Sajian ketiga setelah sebelumnya dimainkan di Jepara dan Jakarta ini diharapkan semakin menarik, dengan proses "anyaman" para pemain dari hari ke hari, hingga ihktiar mendekatkan diri kepada "kampung halaman".

Pementasan tersebut menjadi semacam "perhentian" sejenak ketika berjibun masukan dari para sahabat pemerhati teater dan budaya pada umumnya. Saya dan rekan-rekan Teater Djarum membuka seluas mungkin ruang dialog bagi mekar-suburnya gairah eksplorasi, terutama mengenai tampah.

Tentu, bahwa Teater Djarum memiliki cara ungkap estetika sendiri, namun wacana dan pemikiran serta perhatian kepada kebudayaan tetap menjadi salah satu tanggungjawab moral kita semua, sehingga karenanya tidak ada kata lain selain saya dan rekan-rekan "menampah".

"Menampah" menjadi satu kata yang harus saya pilih, untuk menyingkat pengertian panjang tentang sikap atau laku untuk selalu mau menerima - mengayaki/napeni - memilih dan memilah - hingga menemukan "wos".

Di Teater Djarum sendiri, tampah menjadi peziarahan hidup. Nilai-nilai yang hidup dan menyuburkan kita sebagai pribadi tangguh dan masyarakat yang digdaya dari keberadaannya di masa lalu, menjadi referensi yang terbarukan. Oleh karena silang budaya yang harus disikapi dengan bijak.

Senada dengan hal tersebut, tempat pertunjukan juga dihiasi dengan "lorong" waktu peziarahan akan tampah tersebut. Tim artistik menggagas adanya karya-karya instalasi yang mencoba menunjukan hal ini. Wisnu Dudu Dewo juga tampak menghadirkan karyanya, buah perenungannya selama ini.

Kita menjamahnya. Kita berinteraksi dengannya. Kita diberi kisah tragisnya. Kita juga bermimpi bersamanya. Dan mungkin kita telah diajak melakukan renungan bersamanya: pada dimensi mana "kita" saat ini.


Menerima Segala dengan Sukacita
Tampah telah membuka dirinya untuk kami masuki, dan sesekali kami diperbolehkan bercengkrama dengannya. Di balik penggambaran fisiknya yang sederhana, saya bersama tim Teater Djarum menemukan kembali doa dan mantra yang nyaris terlupa, mendengar kembali suara-suara kebijaksanaan, mendapatkan kembali ajaran dan petuah mengenai hidup dan kehidupan.
Keberterimaan yang tanpa syarat, menerima segala dengan sukacita apa yang ada dan kami dapatkan. Memperkecil penolakan-penolakan, pun berangsur lebih sungkan untuk meminta-minta. Kami ingin seperti tampah, menerima segala dengan sukacita dan mengolahnya dengan segenap kemurnian rasa.

Petuah yang terpapar dari kearifan lokal inilah yang ingin kami suarakan kembali. Tampahlah yang berpetuah kepada kita semua. Kami menjadi alatnya, menjadi helai-helai anyamannya, menjadi tali-temali pengikatnya, menjadi apapun bentuknya sedemikian rupa sehingga petuah dari tampah itu bisa terdengar oleh siapapun juga.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mempersembahkan karya "Petuah Tampah" ini bagi Tuhan dan kekasih sejati saya. Terimakasih.

Salam budaya.
asa jatmiko
#berteateritukeren

Dikelilingi Orang-orang Sederhana yang Hebat

PETUAH TAMPAH DAN SERIBU KISAH YANG TERTUMPAH
Dikelilingi Orang-orang Sederhana yang Hebat 
Oleh: Asa Jatmiko


Seringkali hasrat untuk berkarya dan berpentas lebih besar dibanding melakukan pencarian gagasan atas karya. Paling tidak, begitulah yang saya rasakan. Berkali-kali memainkan naskah lakon karangan orang lain. Dari legenda Rara Jonggrang hingga Nawang Wulan, dari karya-karya Kirdjomuljo, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, Rendra hingga Heru Kesawa Murti, dari karya-karya klasik seperti Julius Caesar, Machbet hingga Sampek Eng Tay, lalu terakhir saya menggarap naskah yang disadur dari novel yang berjudul "Ketika Iblis Menikahi Seorang Perempuan". Hasrat untuk kembali berproses, lalu berpentas, saya rasakan jauh lebih besar ketimbang melakukan pencarian gagasan dalam berproses teater.

Konyolnya, setiap kali hendak mencoba melakukan pencarian-pencarian, saya dihantui ketakutan bahwa itu akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Membutuhkan waktu yang leluasa panjang. Belum lagi bagaimana nanti keberterimaan seluruh rekan dalam setim, jangan-jangan jauh lebih tidak "sronto" untuk segera manggung.

Pencarian gagasan atau ide atas karya, pernah saya lakukan pada awal-awal saya bergabung di Teater Djarum. Di antaranya dengan mengambil tema "Debu Kembali Debu", yang kemudian kami mainkan di perkampungan atas Rahtawu. Sepuluhan tahun lebih. Dan sesudah itu saya lebih banyak "mengambil gagasan" dari naskah-naskah yang sudah jadi.

Di saat hendak memulai untuk mencari kembali ide-ide segar di panggung teater, terlebih sebetulnya menjadi kerinduan yang memilukan karena ingin memainkan naskah buatan sendiri, lagi-lagi harus menemui jalan buntu, ketakutan itu menghantui lagi, dan akhirnya maju-mundur serba ragu.

Berangkat dari apa yang saya sebenarnya tidak punyai, sementara gairah berproses terus mendetak lebih keras di jantung, saya menemukan partner yang cerdas membantu saya, Teresa Rudiyanto.


Secarik Kertas Si Jubir Tampah
Dia melontarkan "tampah" sebagai ide sekaligus subyek dari proses teater. Dalam beberapa sudut pandang menurutnya, tampah yang nampaknya sederhana dan cenderung disepelekan keberadaannya ini, memiliki banyak sekali nilai. Dan itu dipakai, dipatuhi dan dihayati oleh masyarakat kita, terutama Jawa.

Kami juga menyepakati bahwa tampah sempat memiliki arti penting dalam sejarah dan ritme industri kretek Nusantara. Ia pernah menjadi salah satu alat atau perangkat yang menjadi bagian penting dalam industri rokok kretek. Antara lain, menjadi tempat tembakau sebelum dilinting dan tempat rokok yag telah dirapikan siap dikemas. Itu terjadi pada hampir seluruh pabrik rokok di Indonesia sejak awal hingga sekitar tahun 70-an.

Di bagian yang lain, tampah juga menjadi tempat untuk mengeringkan cengkeh. Para pemetik cengkeh membawanya dari panenan dengan karung, dan kemudian digelar-ratakan di tampah. Di situ beberapa ibu kemudian melepas cengkeh dari tangkainya, memilih dan memilah cengkeh berdasarkan ukuran dan kualitasnya, untuk kemudian esok harinya siap dikeringkan.

Masyarakat sangat akrab dengan tampah. Tidak hanya secara fungsional, masyarakat Jawa bahkan menghidup-hidupinya dengan kesenian tradisi dan kebudayaan. Melestarikan tampah di dalam setiap sendi kehidupannya, sejak kelahiran lalu hidup hingga kematian, dari persoalan sakit hingga anak hilang diambil hantu. Juga karena begitu ingin menghargainya, masyarakat memiliki kepercayaan bahwa tampah mesti diperlakukan dengan tidak sembarangan. Cara membawa, tidak boleh sembarangan. Cara menaruh dan menyimpan, tidak boleh sembarangan.

Ini kearifan lokal yang patut "diperdengarkan" kembali hari ini, pikir saya. Dan sungguh, ini ide yang luar biasa dari Tesa, panggilan akrab Teresa Rudiyanto. Saya semakin tertarik dan penasaran pada tampah. Karena saya yakin pula, jika begitu, tampah pasti bukanlah sesutu yang biasa saja. Pasti ada sesuatu nilai yang lebih dalam lagi, dan pastilah ada sesuatu yang luar biasa padanya.

Tesa membuat sketsa yang mendedah fungsi dan nilai tampah pada secarik kertas. Lalu menuliskan catatan-catatan penting lainnya selanjutnya, di bagian-bagian yang masih kosong. Maka secarik kertas "bersejarah" itu, menjadi pijakan penting untuk saya mentransformasikannya ke dalam sebuah naskah. Kalau dibaca sekarang, karena saking penuhnya tulisan, maka mungkin agak sulit dipahami oleh siapapun, kecuali oleh Tesa. Tetapi secarik kertas itu telah menjadi "juru bicara" tampah bagi saya menuliskannya ke dalam sebuah naskah teater.


Ritus Siklus yang Ambisius
Adalah Oey Riwayat Slamet yang menyatakan kepada saya dan Tesa bahwa ide tampah sebagai ide yang menarik dan orisinal. Dia mendukung proses penggarapan untuk dimulai, dan dimainkan keliling ke beberapa kota.
Ini tentu kabar yang membuat hati saya bergembira. Paling tidak, proses penggarapan hingga pementasan-pementasan akan mendapat daya dukung yang memadai. Meskipun, jujur saja, saat itu saya tidak tahu bagaimana akan memulai dan hendak dibuat seperti apa pertunjukannya nanti. Benar-benar blong. Saya hanya punya keyakinan, tampah akan bicara dan mengajari saya, secara langsung sedikit demi sedikit.

Hal ini, sok yakin saya itu, yang barangkali membuat saya dan asisten sutradara, Tesa yang saya tunjuk, seringkali bertengkar. Gagasan-gagasan pada penggarapan saya, seringkali muncul secara spontan dan intuitif. Maka bagi Tesa yang terbiasa berpikiran taktis dan terrencana menurutku, seringkali terkaget-kaget dan merasa tidak diberitahu sebelumnya. Itulah saya. Maksud saya, kelemahan saya.

Tampah memang menjadi ikon sekaligus idiom yang fenomenal untuk disajikan ke tengah masyarakat hari ini. Tetapi saya merasa, saya perlu "membungkus" tampah agar tidak langsung terbaca di judul. Harapan saya, itu akan menjadi "misteri" yang hanya bisa ditemukan setelah menonton pertunjukan. Karena itulah saya menjuduli "Ritus Siklus" pada mulanya.

Yang berikutnya, saya sebenarnya ingin agar ikon dan idiom tampah tidak hanya sekedar berarti tampah semata. Pikir saya, perlu metafora tertentu agar pemaknaan tampah menjadi lebih luas. Mungkin lingkaran, atau "cakra manggilingan" (kehidupan sebagai roda yang berputar), atau sebagai matahari, sebagai black-hole, sebagai batas luar wilayah pribadi kita, dan sebagainya. Maka saya mantap untuk memilih metafora tampah dengan "Siklus". Sementara "Ritus", adalah proses ritual, upacara atau kegiatan yang diperuntukkan mengangkat nilai-nilai tertentu oleh masyarakat.

Ritus Siklus semakin nampak menjadi kegiatan proses berteater yang cukup ambisius, karena di hari-hari selanjutnya banyak kawan seniman dan budayawan yang suka, dan mendorong bahkan turut membekali dengan materi dan keilmuwan yang dikuasai. Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta berbincang panjang lebar mengenai folosofi tampah, dan juga bambu, pada sebuah kesempatan ia ke Kudus. Sungguh sebuah anugrah bagi saya, semakin diperkaya dan diyakinkan bahwa tampah penting untuk disuarakan melalui teater.

Mencoba merenungi "Ritus Siklus", saya lama-lama merasa kurang sreg. Saya ingin mengganti judulnya. Tambah lagi, seorang penulis dari Semarang, mengatakan bahwa frasa "Ritus Siklus" agak sulit dipahami secara langsung oleh masyarakat luas. Meskipun saat itu Prof Suminto mengatakan judul seperti itu bukan masalah.

Keesokan harinya saya kembali menghubungi Tesa, minta dicarikan pengganti judul Ritus Siklus.
"Judul itu sudah bagus. Kenapa diganti?" tanya Tesa.
"Kayaknya kurang pas. Naskah itu menggarap salah satu idiom tradisi dan kebudayaan kita, mengapa ada kata "siklus". Itu bukan bahasa asli kita," kataku.
Saya mengatakan hal ini sebagai sesuatu yang serius. Terlebih karena saya ingin meyakinkan pada diri saya, bahwa pilihan saya memakai "Ritus Siklus", memang kurang pas.
"Pakai kata "tampah", ya?" ia bertanya setelah kami terdiam cukup lama.
"Boleh," jawabku.
"Sebentar...," lalu Tesa seperti memikirkan sesuatu. "Kita mengangkat nilai-nilai yang ada pada tampah. Untuk apa kita angkat dan suarakan kembali? Untuk mengingatkan kita kembali, kan ya? Untuk menghidupkan lagi nilai-nilai itu. Atau paling tidak, ada yang penting yang ingin disampaikan tampah kepada kita semua," jelasnya.
Aku mengangguk.

Lalu ia melanjutkan dengan beberapa pilihan kata, seperti: kearifan, nasihat, amanat, petuah. "Ya, Petuah saja! Petuah Tampah!" aku bersemangat.

Semenjak hari itu judulnya berubah menjadi "Petuah Tampah". Malam harinya ketika latihan, saya dan Tesa menjelaskan perubahan tersebut. Saya melihat air muka teman-teman, seperti lebih menerima judul ini ketimbang judul "Ritus Siklus".


Revolusi Proses dan Latihan Teater
Awalnya naskah hanya berisi tak lebih duabelas halaman, dengan 70% berupa penjelasan mengenai suasana dan pertumbuhan para karakter yang ada di dalamnya. Itu pun dengan bahasa yang cukup sulit, bersayap dan sangat multi-tafsir. Lalu hanya sekitar 30%-nya berisi dialog para tokoh dan syair tetembangan.
Ini tentu menyulitkan para aktor. Naskah sama sekali tidak memberikan petunjuk yang jelas, kemana aktor bergerak, melangkah atau aktivitas akting tertentu. Saya menyengaja hal ini terjadi, yakni: pertanyaan, dialog, pemahaman dan penghayatan akan karakter, antara pemain dan sutradara juga antara pemain dengan dirinya sendiri.

Tentu saja ini tidak mudah. Aktor diberi kebebasan bergerak dan menafsir, tetapi mereka juga tidak bisa melepaskan diri dari "ring" area dan bangunan suasana yang hendak diangkat. Saya sebagai sutradara dan Tesa sebagai asisten sutradara, menyediakan diri untuk memberikan gambaran-gambaran yang ingin dicapai oleh tiap aktor. Pun memberikan landasan bekal berupa pengetahuan, pemahaman, motivasi dan harapan bagaimana adegan demi adegan akan hidup dan dihidupi para aktor.

Berangkat dari kegelisahan saya ketika melihat proses dan latihan teater selama ini, yang menurut saya, tidak pernah berhasil menjolok kesadaran para aktor untuk dengan sadar pula hanyut pada kesadaran peran. Maka orientasi dan prioritas latihan lebih ditekankan pada upaya membangun "kepekaan" dalam diri tiap aktor.

Tampah yang secara materi, musti dilebur ke dalam diri aktor, dimasukkan ke jiwanya, untuk kemudian biarlah tampah yang bicara. Tampah yang juga diyakini memiliki "magi" dan mitos tertentu, juga musti disapa dan diakrabi, agar apa "yang dimaui" terpahami oleh tiap aktor.
Dari sanalah kemudian semua aktor bersiap memasuki latihan-latihan yang "berbeda" dari biasanya. Berziarah ke makam Sunan Muria dengan jalan kaki berdiam diri, menjalankan meditasi-meditasi malam, mengeksplorasi tubuh menjadi aktor kedua (setelah hati) yang memampukan dirinya berkomunikasi dan berbicara tentang makna dan sesuatu yang lainnya.

Membaca naskah untuk kemudian masuk ke tahap menghapalkan dialog, menjadi tanggungjawab tiap aktor. Demikian juga "olah gerak" yang harus dimainkan. Berada di tempat latihan, semua aktor sudah selesai dengan hapalan. Karena latihan-latihan lebih ditekankan pada galian dan jangkauan estetik agar semakin dalam dan jauh, memaksimalkan energi dalam. Dan semua hari dan jam latihan dilakukan dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi.

Dan berproses bersama mereka, saya semakin menyadari betapa besar potensi mereka, kuatnya daya juang mereka, untuk semakin menjadi diri mereka lebih dari waktu ke waktu. Saya punya Teresa Rudiyanto yang dapat memberi pengamatan lebih detail, memberi masukan atau pertimbangan penting, dan selalu berani menanyakan balik setiap ide kepada sutradara. Sutrimo, Andreas Teguh Prayoga, Jasmi, Nur Khamidah, Purna Irawan, Masrin Lintang, Ngatini, Murpujiningsih dan Muhammad Hafidl Arifi adalah aktor-aktor cemerlang yang dimiliki Teater Djarum.

Tim Setting dan Tim Musik pun tidak jauh berbeda. Merekalah yang mencari dan menemukan irama, dinamika, ritme dan pilihan-pilihan bunyi. Sementara Tim Rias dan Kostum terus mencari, Teresa Rudiyanto banyak ikut membantu menentukan bentuk, corak dan gaya kostum dan rias hingga menjadi seperti sekarang ini. Ada Beny Widyantoro, Rofiq Setiawan dan rekan-rekan di timnya (Khairul Anam, Kasmin dan Zamroni), yang selalu siap dan menomorsatukan tugas. Juga Heru Nugroho, Aniek, Sumarlan dan Sriyatun yang tangguh dan ulet menerjemahkan gagasan musik ke dalam komposisi-komposisi sederhana namun memikat.

Acong Sudarmono yang semakin hari semakin mempertajam penglihatannya akan cahaya. Selalu siap diubah sutradara dan segera menyesuaikan sesuai yang dimaui. Lebih kuat lagi dengan adanya Asri di sebelahnya. Menjadi partner yang seiya-sekata, memposisikan lampu mencari fokusnya. Lalu Umi Setiyani yang setia menelusuri relung-relung perjalanan tim, dimana kadang ia sendiri hanya berjalan dan berjalan lalu memetik hikmah.

Sungguh, saya merasa berada di antara orang-orang sederhana, yang mau berproses dengan keras. Mereka semua tim hebat yang saya banggakan dan yang pernah saya miliki. Bersama mereka, Teater Djarum berkeliling menjelajah Indonesia. Menjadi kelompok teater yang tak ingin dianggap remeh dalam blantika perteateran Indonesia.


Menganyam Potensi dan Peluang
Hampir seluruh personel Teater Djarum menyatakan hal yang sama, bahwa mereka merasakan beban berat atas tanggungjawab untuk menampilkan suguhan pentas teater yang menarik, enak ditonton sekaligus memberi "sesuatu" kepada penonton yang hadir di Galeri Indonesia Kaya, pada 8 Mei 2016.
Tentu pernyataan (dan pengakuan) ini mempengaruhi bagaimana kesiapan mental tim Teater Djarum. Dan hal tersebut mengada dan menguat terutama selepas pementasan di Gedung Kesenian Jepara (22/04/16). Kegembiraan akan bermain di salah satu gedung kesenian di Jakarta seolah tertepis oleh beratnya beban tersebut.

Setiap latihan-latihan, diupayakan dipersiapkan sebaik-baiknya. Tempat latihan dibuat semirip mungkin dengan keluasan area panggung yang nantinya dipergunakan. Detail set dan properti "ditapeni" lagi dan dicari bobot artistik dan motivasinya oleh Beny Widyantoro, Rofiq Setiawan, Khoirul Anam, Kasmin dan Zamroni. Demikian juga komposisi-komposisi musik, tim yang terdiri dari Heru Nugroho, Abdul Munif, Aniek, Sumarlan dan Sriyatun bergerak lebih keras dengan menjalankan latihan-latihan secara mandiri. Tata lampu oleh Acong Sudarmono, mencarikan sudut-sudut dan kemiringannya hingga kami merasa pas. Tata rias dan kostum oleh Umi Setiyani, didiskusikan dan dibongkarpasang kembali hingga menemukan kesepakatan yang diinginkan bersama.

Beberapa hari menjelang berangkat beberapa aktor mulai habis suaranya, radang dan parau. Beberapa tampah sudah mulai robek dan tak karuan bentuknya. Musik, belum juga menemukan greget irama yang diinginkan. Beberapa personel "terganggu" dengan suara-suara minor dari luaran, luluhkan semangat. Beberapa hari menjelang berangkat tim Petuah Tampah justru berada pada stamina yang susut.
Sisanya adalah pemeliharaan semangat, tetap bertandang ke "padang Kurusetra" Galeri Indonesia Kaya Jakarta, hidup atau mati. Itulah satu-satunya bekal keberangkatan tim. Dua hari menjelang berangkat, Putu Wijaya mengirim surel memastikan akan datang menonton, sembari menyisipkan pesan "semangat" untuk tim.

Kami menganyam "tampah" menuju Galeri Indonesia Kaya dengan tertatih tapi pantang menyerah. Di sepanjang perjalanan KA Argo Muria Tawang - Gambir, di antara kami masih berbincang akan panggung, ada juga yang nampak "ditenang-tenangkan" dirinya, ada yang sibuk menunggu kapan kereta api berhenti di stasiun agar bisa turun dan merokok, sementara di sudut antara pintu masuk dan toilet ada juga yang limbung karena mabok perjalanan.

Lesung yang kami usung dari Kudus, telah mendahului sampai di Jakarta. Tetapi tak bisa masuk mendekati lokasi di lantai 8. Terpaksa menunggu tim, untuk kemudian bergotong-royong mengangkut lesung nan berat itu ke lift barang dari lantai dasar hingga lantai 8. Itu pun setelah jam 22. Aturan di West Mall, Grand Indonesia memang begitu. Dari lift lantai 8, dipanggul berramai-ramai menuju gedung pertunjukan yang berjarak beberapa ratus meter.

Begitulah semuanya dilakoni dengan tekun oleh tim Petuah Tampah. Hingga berlangsung gladi bersih dengan lancar.
Di balik semuanya itu, saya melihat masing-masing personel di tim adalah pribadi-pribadi yang baik nan potensial dalam berkarya di kesenian. Potensi mereka yang kuat, telah dibuktikan dari terus berkembangnya riak-riak kreativitas. Proses ber-"Petuah Tampah" seakan menyala dan tak ada matinya, berkembang dan berbiak.

Sutrimo, Andreas Teguh Prayoga, Masrin Lintang, Jasmi, Nur Khamidah, Purna Irawan, Murpujiningsih, Ngatini, M. Hafidl Arifi, Soleh, Asri dan Andhika seolah tak mengenal lelah "mencari" bentuk dan nafas baru dalam eksplorasi permainannya. Saya sebagai sutradara melihat kemajuan-kemajuan penting tersebut. Meskipun langkah-langkah kecil, kemajuan-kemajuan itu dicapai dengan bermakna. Dicatat, diulang, diolah kembali untuk kemudian dimaknai dalam adegan. Untuk mencapai "anyam-anyaman tampah" yang utuh, kuat, teguh dan memiliki makna.

Teresa Rudiyanto memperkuat dengan sabar untuk pembenahan detail-detail adegan, eksplorasi kostum yang simpel namun brilian, dan menjadi penyeimbang dan menerjemahkan antara gairah sutradara yang kadang tak masuk akal ke dalam deskripsi yang mudah diterima oleh tim.

Potensi yang kuat seseorang atau kelompok tertentu, yang telah ada harus diberi tempat dan kelonggaran untuk semakin mengada dan mewujud. Potensi tersebut akan pelan musnah apabila di dalam dirinya tidak mempertahankan dengan latihan-latihan yang tekun.

Sebutir telur ayam yang berisi "kehidupan" (sebagai potensi) akan tumbuh dan muncul sebagai kehidupan yang mengada dan mewujud apabila apa yang ada di dalam telur itu memiliki kehendak dan semangat untuk hidup. Kekuatan dari dalam itulah yang "memecahkan" cangkangnya pada waktunya. Akan sangat berbahaya jika cangkang telur itu pecah karena faktor di luar dirinya. Alih-alih mbusuk dan mati, bisa jadi tidak akan menjadi apa-apa.

Dari sanalah kemudian kita membutuhkan "peluang". Tetapi sesungguhnya, peluang itu muncul karena kitalah yang memelihara dan mengembangkan potensi.

Oleh karenanya, bagaimana kita memelihara dan mengembangkan potensi, menjadi dasar untuk kita menciptakan atau membuka masuknya peluang kepada kita. Tim Petuah Tampah menyadari bahwa peluang untuk berpentas di GIK merupakan akumulasi dari kuat dan besarnya potensi kawan-kawan. Saya, tidak ingin kehilangan momentum untuk memberi ruang tim Petuah Tampah untuk "pecah".

Akhir dari perjalanan kali ini adalah kenangan akan tawa dan keryit dahi Putu Wijaya saat menonton. Yudi A. Tajuddin yang menyempatkan menunda keberangkatan ke Kanada hanya untuk menonton Petuah Tampah. Jose Rizal Manua yang  turut berjoget bersama di atas panggung. Ratna Riantiarno yang membawa pemahaman akan kiprah Teater Djarum kepada masyarakat Jakarta. Dan semua penonton yang malam itu merayakan "tampah" dalam teror kegembiraan yang telah diusung tertatih dari Kudus.


Menjadi Masyarakat "Petuah Tampah"
Indera atau indria merupakan alat penghubung/kontak antara jiwa dalam wujud kesadaran rohani diri dengan material lingkungan. Dalam indra yang lima, disebutkan antara lain: mata, telinga, kulit, lidah dan hidung. Dalam indra yang sebelas, dalam Hindu, selain lima yang telah disebutkan masih ada enam yang lain, yakni: tangan, kaki, anus, mulut sampai hidung (bicara - bernafas - makan) dan alat kelamin. Kemudian indra kesebelas adalah pikiran.

Kehadiran Tyas (hati) dalam "Petuah Tampah" disertai kehadiran empat saudara sebagai "sedulur papat" merupakan upaya permenungan kembali akan asal-muasal jati diri setiap pribadi. Dalam kebudayaan Jawa dipahami bahwa kehadiran setiap pribadi selalu diiringi dengan hadirnya "sedulur papat" yang mengasuh bagai ibu, yang membantu bagai ayah, yang menemani bagai sahabat dan yang juga sering memgingatkan bagai saudara.
Representasi atas hidup dan berkembangnya indra pada Tyas memiliki keterkaitan yang khas dengan empat sosok yang mengiringinya.

Dalam konsep "Petuah Tampah", sosok-sosok tersebut menyepuh fungsi mata, telinga, angan (keinginan/kehendak) dan pikiran. Tyas yang pada gilirannya menjadi sentral makna setiap pribadi sebagai "manusia", dapat saja terombang-ambing oleh gelinjang nafsu, angan dan pikiran, namun keberadaanya tetap sebagaimana semula: menjadi sumber kebaikan, kesucian dan kesetiaan bagi setiap pribadi.

Bergulirnya waktu dan proses, empat sosok yang mengiringi Tyas dalam kebaikan, kesucian dan kesetiaan berangsur lumer dan menjelma empat sosok yang menawarkan/memprovokasi Tyas mengabaikan nilai dan janji hati tersebut.
Masyarakat "Petuah Tampah" kemudian menjumpai sosok yang menyertai Tyas berjumlah delapan. Mereka mengepung Tyas dari segala penjuru mata angin: timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara dan timur laut. Mereka membuka sekaligus menutup pintu-pintu kebajikan. Mereka menuntun sekaligus membantai Tyas dalam renungan panjang perjalanan hidup sebagai pribadi yang kuat dan mampu "memimpin" dirinya menyebrangi jembatan derita menuju kekekalan.

Delapan sosok tersebut secara filosofi kemudian dapat ditarik ke dalam pemaknaan bagaimana Tyas sebenarnya tengah "mengamati, mempelajari, menuntut ilmu dan memerangi egoisme dirinya" kepada hastabrata. Delapan "laku hidup" untuk setiap pribadi mencapai pengendalian diri dan memimpin dirinya. Semesta telah menjadi guru paling bijaksana baginya dapat memunguti makna hidup.

Guru yang mengarahkannya kepada Yang Maha Hidup, Sang Guru Sejati, adalah apa yang telah diberikanNya kepada Tyas sejak muasal dia berawal. Ialah Bumi, Matahari, Bulan, Samudra, Bintang, Angin, Api, dan Air, berikut dengan pemaparan kekuatan dan kelemahannya, kelembutan dan keuletannya, kebaikan dan kesetiaannya. Semesta itu sendiri.

Kemudian dari sana tersebutlah sebuah masyarakat sosial: masyarakat "Petuah Tampah". Kita rayakan dan syukuri hidup dan segala kesulitannya, sebagai "jembatan penyebrangan" menuju hari ini dan masa depan dengan lebih baik.


Menampah dalam Peziarahan
Teater Djarum kembali menyajikan "Petuah Tampah", pada Rabu (25 Mei 2016) jam 19:30 WIB di Balaibudaya Rejosari. Sajian ketiga setelah sebelumnya dimainkan di Jepara dan Jakarta ini diharapkan semakin menarik, dengan proses "anyaman" para pemain dari hari ke hari, hingga ihktiar mendekatkan diri kepada "kampung halaman".

Pementasan tersebut menjadi semacam "perhentian" sejenak ketika berjibun masukan dari para sahabat pemerhati teater dan budaya pada umumnya. Saya dan rekan-rekan Teater Djarum membuka seluas mungkin ruang dialog bagi mekar-suburnya gairah eksplorasi, terutama mengenai tampah.

Tentu, bahwa Teater Djarum memiliki cara ungkap estetika sendiri, namun wacana dan pemikiran serta perhatian kepada kebudayaan tetap menjadi salah satu tanggungjawab moral kita semua, sehingga karenanya tidak ada kata lain selain saya dan rekan-rekan "menampah".

"Menampah" menjadi satu kata yang harus saya pilih, untuk menyingkat pengertian panjang tentang sikap atau laku untuk selalu mau menerima - mengayaki/napeni - memilih dan memilah - hingga menemukan "wos".

Di Teater Djarum sendiri, tampah menjadi peziarahan hidup. Nilai-nilai yang hidup dan menyuburkan kita sebagai pribadi tangguh dan masyarakat yang digdaya dari keberadaannya di masa lalu, menjadi referensi yang terbarukan. Oleh karena silang budaya yang harus disikapi dengan bijak.

Senada dengan hal tersebut, tempat pertunjukan juga dihiasi dengan "lorong" waktu peziarahan akan tampah tersebut. Tim artistik menggagas adanya karya-karya instalasi yang mencoba menunjukan hal ini. Wisnu Dudu Dewo juga tampak menghadirkan karyanya, buah perenungannya selama ini.

Kita menjamahnya. Kita berinteraksi dengannya. Kita diberi kisah tragisnya. Kita juga bermimpi bersamanya. Dan mungkin kita telah diajak melakukan renungan bersamanya: pada dimensi mana "kita" saat ini.


Menerima Segala dengan Sukacita
Tampah telah membuka dirinya untuk kami masuki, dan sesekali kami diperbolehkan bercengkrama dengannya. Di balik penggambaran fisiknya yang sederhana, saya bersama tim Teater Djarum menemukan kembali doa dan mantra yang nyaris terlupa, mendengar kembali suara-suara kebijaksanaan, mendapatkan kembali ajaran dan petuah mengenai hidup dan kehidupan.
Keberterimaan yang tanpa syarat, menerima segala dengan sukacita apa yang ada dan kami dapatkan. Memperkecil penolakan-penolakan, pun berangsur lebih sungkan untuk meminta-minta. Kami ingin seperti tampah, menerima segala dengan sukacita dan mengolahnya dengan segenap kemurnian rasa.

Petuah yang terpapar dari kearifan lokal inilah yang ingin kami suarakan kembali. Tampahlah yang berpetuah kepada kita semua. Kami menjadi alatnya, menjadi helai-helai anyamannya, menjadi tali-temali pengikatnya, menjadi apapun bentuknya sedemikian rupa sehingga petuah dari tampah itu bisa terdengar oleh siapapun juga.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mempersembahkan karya "Petuah Tampah" ini bagi Tuhan dan kekasih sejati saya. Terimakasih.

Salam budaya.
asa jatmiko
#berteateritukeren