04/02/12

Mengapa “Nation Building”?


Perhelatan puncak beswan tahun ini mengusung sebuah tema besar, yakni Indonesia Digdaya. Apa sebenarnya yang mendasari diangkatnya tema tersebut, dalam konteks dunia intlektual muda sekarang ini? Apakah para intelektual muda itu sudah jauh meninggalkan nilai dan wawasan kebangsaannya? Atau hanya berangkat dari hal sederhana saja, apakah para mahasiswa perlu untuk diperkenalkan kembali bagaimana kedigdayaan Indonesia. Lantas, bagaimana tanggapan mereka setelah tahu kedigdayaan Indonesia? Dan kiranya inilah pertanyaan utama untuk kita semua: mengapa penting untuk mengedepankan Nation Building sebagai salah satu mata-program utama bagi Beswan?

PT. Djarum melalui banyak program selalu berupaya untuk turut andil membangun dan memajukan Indonesia. Sebagaimana hal ini telah sangat jelas disampaikan Victor R. Hartono berpidato pada acara penerimaan penghargaan PMK 25 Tahun di Semarang beberapa waktu lalu, bahwa sampai kapanpun Djarum akan ikut membantu memajukan Indonesia. Karena ia sangat percaya dengan kedigdayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Digdaya atas banyaknya potensi dan kemampuan masyarakat dan kebudayaan yang dimiliki, juga digdaya untuk menuju sebagai sebuah bangsa kuat, adi daya, setara Amerika Serikat atau China. Perhatian Djarum akan hal ini, sangat kentara pada program Djarum Foundation – Beswan Plus.

Membangun Jiwa Bangsa
Senada dengan apa yang ingin dibangun oleh Program Beswan Plus, para mahasiswa penerima bea siswa Djarum tidak hanya menerima bantuan biaya pendidikannya, tetapi juga mendapatkan berbagai pelatihan yang mendukung pembangunan karakter dan wawasan kebangsaan. Program pelatihan tersebut, yakni dengan mengikuti kegiatan Nation Building, Character Building, Leadership Training, Competition Challenges, International Exposure dan Community Empowerment. Tujuannya tidak lain agar para Beswan Djarum kelak bisa menjadi manusia Indonesia yang disiplin, mandiri dan berwawasan masa depan sebagai calon-calon pemimpin bangsa.

Menurut salah seorang beswan kepada WKD, baginya Talk Show dan Diskusi Kebangsaan cukup berkesan. Acara Talk Show bersama Dr. Yudi Latif, Guru Besar Tata Negara Universitas Diponegoro dan pengamat politik, mengulas makna penting Pancasila sebagai dasar negara. Lanjutnya, kita semua diajak untuk memahami dan mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, untuk menjadikan Indonesia semakin baik di masa depan.

Lebih lanjut Yudi Latif menuturkan, Pancasila mampu mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari banyak bangsa ini ke dalam sebuah satu bangsa. Elemen-elemen bangsa seperti Jawa, Tiongkok, Sunda, dan lainnya diturunkan menjadi suku bangsa. “Indonesia menjadi satu rumah besar yang ditopang oleh berbagai suku atau kaki yang banyak, dan seluruh kaki-kaki ini dipersatukan dengan satu bintang kejora yang menuntun bangsa ke depan,” kata salah Pengamat Politik dari Universitas Paramadina itu.

Dalam Pancasila terdapat karakter-karakter yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Pertama, Indonesia adalah bangsa yang religius. Apapun agama dan Tuhannya, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang religius. Untuk menjadi bangsa yang besar, harus memiliki dasar religius yang kuat. Peradaban-peradaban yang dapat bertahan dimuka bumi, adalah peradaban yang memiliki fondasi religius.

Kedua, karakter bangsa ini adalah menjadi bagian dari kemanusiaan universal. Menurutnya, elemen-elemen lokal yang ada di Indonesia selalu punya kaitan dengan tradisi-tradisi besar dunia. Menurutnya Bangsa ini akan kuat, bila memiliki satu wawasan kemanusiaan. “Tanjidor di Betawi, misalnya. Dalam alat musik tersebut, terdapat unsur Eropa, Tiongkok, Arab. Bila dilihat secara satu persatu tidak ada budaya Betawi, namun ketika menjadi Tanjidor disebut budaya Betawi,” katanya.

Ketiga, lanjut penulis buku Negara Paripurna; Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas. Pancasila ini, walaupun Indonesia mempunyai keragaman, namun dalam setiap keragaman tersebut terdapat tenunan dan jalinan yang saling mempertemukan satu dengan yang lainnya. Ia mencontohkan dengan masakan soto. Di setiap daerah ada soto. Soto Madura, Banjar, Bandung, Betawi, atau Coto Makassar, yang mempunyai khas rasa lokal, namun tetap soto. “Kita boleh berbeda. Ada elemen-elemen lokal, tetapi selalu ada benang merah yang menyatukan kita. Seperti itulah filosofi dari Bhineka Tunggal Ika. Filosofi ini tidak muncul begitu saja, namun melalui proses yang panjang melalui pertemuan, peririsan, pembauran, dan lainnya dari setiap elemen lokal melalui perdagangan, kekuasaan kerajaan, dan penyebaran agama,” urainya

Keempat, di seluruh Nusantara, bangsa ini memiliki tradisi musyawarah di tingkat desa. Walaupun tradisi pemilihan tidak dikenal, namun bukan berarti tidak ada prinsip-prinsip demokrasi. Di beberapa daerah, terdapat tanah milik desa, yang dalam penggunaannya harus melalui proses musyawarah. Musyawarah desa ini menjadi jantung demokrasi kita. Dalam musyawarah desa tersebut, pembelajaran bagaimana kepentingan ekonomi tidak bisa dilakukan tanpa partisipasi politik, dan begitu pula sebaliknya.

Empat unsur tersebut pada akhirnya kembali dipersatukan dengan cita-cita dan impian untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. “Dan akhirnya, di manapun kita berada, baik di Papua, Sumatera, atau lainnya, kita dipersatukan dengan impian masyarakat yang adil makmur, tentram raharja,” katanya. “Singkat kata, keragaman yang ada di muka bumi ini sudah bisa kita selesaikan ketika republik ini didirikan. Seluruh gagasan, ideal, dan cita-cita tersebut dituangkan ke dalam empat pikiran pokok dalam pembukaan UUD 1945."

Dasar Menuju Digdaya
Pada sebuah pidatonya pada tahun 1967, Presiden Soekarno secara khusus telah menyebut istilah Nation Building. Ia menjelaskan bahwa mandat yang diberikan oleh MPRS kepadanya, tidak lain dan tidak bukan adalah nation building. Menurutnya, Nation Building adalah membangun bangsa yang berjiwa yang dapat dan mampu menghadapi semua tantangan jaman. Bahwa di dalam membangun sebuah bangsa, selain membangun di bidang ekonomi, teknik, pertahanan, bidang dasar pertama dan utama yang harus dibangun adalah membangun jiwa bangsa. Tentu saja keahlian adalah perlu, tetapi keahlian saja tanpa dilandaskan pada jiwa tidak akan dapat mungkin akan mencapai tujuannya. Inilah mutlak perlunya nation building, ujarnya berapi-api di depan seluruh rakyat.

Maka pada acara Malam Darma Puruhita, 29 November 2011 di Semarang, para Beswan menggelar tampilan berjudul Indonesia Digdaya. Pagelaran spektakuler multimedia ini disutradarai oleh Mirwan Suwarso, dengan iringan musik orkestra pimpinan Wong Aksan. Selain panggung dan dukungan multimedia yang apik, Indonesia Digdaya juga mengeksporasi khasanah kebudayaan Indonesia yang telah menjadi darah-daging bangsa. Digambarkan pula bagaimana nilai-nilai demokrasi dan politik sebuah negeri dibangun dengan baik, dan membawa keberhasilan bagi sebuah negeri.

Beberapa kegiatan dalam Nation Building, antara lain berupa Cultural Visit, Talk Show dan Performing Arts. Semua ini bertujuan untuk memperkuat wawasan kebangsaan Beswan Djarum mengenai makna dan hakekat bangsa dan kebangsaan. Serangkaian pengalaman berharga ini niscaya menjadi bekal bagi seluruh Beswan ketika nantinya menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang siap melayani seluruh rakyat untuk satu cita-cita bersama: menuju Indonesia Digdaya! (dari berbagai sumber)***

-------------------------
Asa Jatmiko, Kudus.

Tidak ada komentar:

SURAT CINTA UNTUK SAUDARA TUA

  SURAT CINTA UNTUK SAUDARA TUA Kau terlebih dulu ada Sebagai saudara tua yang setia Kau terlebih dulu berada di sini Siang malam diam-diam ...