Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Dalam Gerbong Kereta

Gambar
Sajak ini saya bacakan untuk pertama kalinya, pada 25 Agustus 2017, di depan teman-teman dan para santri di MA SALAFIYAH, Pati. Kemudian saya bacakan kembali di depan para pemuda Katolik (OMK) serayon Pati pada malam berikutnya (26/8) di Balai Budaya Rejosari. Asa Jatmiko DALAM GERBONG KERETA Kemana saja kita selama ini? Menjadi penyair yang bersajak anggur dan rembulan? Menjadi politisi yang berorasi demi tahta dan mahkota? Menjadi ulama yang berkhotbah atas nama jubah? Menjadi seniman yang tiap hari ke salon untuk rambutnya yang gondrong? Menjadi guru yang selalu lupa mengabsensi muridnya? Menjadi pemuda yang sibuk dengan pacarpacarnya? Kemana saja kita selama ini? Gerbong kereta Indonesia melaju tak terkendali di atas rel yang tak seirama Masinisnya telah mati terbunuh di perempatan reformasi Para kondekturnya mabok di sudutsudut gerbong mereka bergoyang pantura hingga lupa dadanya telah terbuka wudelnya bodong nodong kemanamana mulutnya penuh uang saweran ...

Sandyakala Nusantara

SANDYAKALA NUSANTARA Naskah: Asa Jatmiko ADEGAN 1 Indonesia the Great SUARA GENDERANG, KEMUDIAN DISUSUL MUSIK DARI LAGU-LAGU PERJUANGAN ATAU LAGU NASIONAL. SUSUL MENYUSUL TERDENGAR JUGA SUARA PEMBACAAN TEKS PROKLAMASI OLEH SOEKARNO, ORASI BUNG TOMO, DAN SEBAGAINYA. DARI SANA KEMUDIAN LAMAT MULAI TERDENGAR BEBERAPA MUSIK DAERAH DI INDONESIA, JUGA GEMERECAK MUSIK BARONGAN, BARONGSAI LALU IRAMA MUSIK KECAK BALI. SEIRING DENGAN MUSIK DI ATAS, DARI BERBAGAI PENJURU MUNCUL ORANG-ORANG DENGAN MEMBAWA BENDERA MERAH PUTIH DARI BERBAGAI UKURAN. TIDAK ADA YANG SAMA. SEMUA ITU MENUNJUKAN BAHWA SETIAP WARGA NEGARA MEMILIKI KONTRIBUSI UNTUK BANGSANYA. DENGAN PENUH KEGEMBIRAAN MEREKA MELAKUKAN SIMBOLISASI ATAS KEMAJUAN PEMBANGUNAN, KEBERAGAMAN, SALING MENGHORMATI, DAN SEBAGAINYA. HINGGA PADA AKHIRNYA MEREKA MEMBENTUK SATU BENTUK UTUH SEBUAH MENARA DENGAN SATU BENDERA MERAH PUTIH DI PUNCAKNYA. ADEGAN 2 Siasat Penghancuran DARI ARAH PANGGUNG YANG BERLAWANAN, MU...

Seribu Puisi, Nol Penyair

Semenjak peluncuran buku puisi "Bayang-bayang Menara" oleh KPK pada Minggu, 20 Maret 2016 di Universitas Muria Kudus, saya mulai bertanya di dalam hati, para sastrawan Kudus terus-menerus dan tiada henti berkarya kecuali mereka yang muda. Dimanakah mereka? Atau kita secara tidak sadar telah abai terhadap regenerasi, menyambut bibit-bibit sastrawan muda bertumbuh? Atau di Kudus hari ini, memang benar-benar "tidak ada" mereka? Aduh, judul buku "Bayang-bayang Menara" seolah-olah memperjelas keberadaan para sastrawan muda (saya menyebut sastrawan untuk menyebut penulis karya sastra baik laki-laki maupun perempuan), yang semakin hanya bayang-bayang. Bayang-bayang siapa? Entah. Mungkin bayang-bayang dari nama-nama besar, seperti: Jumari HS, Mukti Sutarman Espe, MM Bhoernomo, Jimat Kalimasada, Thomas Budhi Santoso, dan nama-nama lainnya. Atau mungkin bayang-bayang atas "kemegahan Kudus" yang sudah kesuwur sehingga melenakan proses kreatif bersast...