Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

Bebas Ekspresikan Gagasan

Gambar
Bekal Sineas Lokal Produksi Film Indie Sumber: Radar Kudus FILM indie memang berbeda dengan film yang selama ini dikenal dengan film yang di putar di bioskop. Meski secara prinsip pembuatan film indie dengan film lain tidak jauh berbeda, namun kesan bebas berekspesi jauh melekat di film indie garapan sineas lokal. --- BERBICARA mengenai film indie, seorang pemerhati film dari Universitas Muria Kudus (UMK), Fajar Kartika mencoba menjelaskan terlebih dahulu, apa yang dimaksud dengan film indie. Apakah film yang berdurasi pendek? Atau film yang digarap dengan alat yang sederhana? Mengutip pernyataannya Slamet Raharjo, Fajar mengatakan yang dimaksud film indie bukan film yang berdurasi pendek, atau yang menggunakan peralatan sederhana. Tapi film yang penggarapannya tanpa ada campur tangan kapitalis. "Tidak menutup kemungkinan, film indie penggarapannya lebih bagus daripada film mainstream. Juga bukan berarti, film indie itu menafikan uang," katanya. Dia mencontohkan,...

Sesuatu tentang Spirit Kerja

Gambar
Jabatan, menurut Mahfud MD, Ketua MK, "tidak perlu diburu, tapi juga jangan dihindari". Aku terhenyak ketika mendengar ungkapan Pak Mahfud MD pada sebuah wawancara khusus News Maker edisi Mei di METROTV tersebut, tapi sekaligus juga merasa seperti menerima kesejukan. Setelah 4 hari tidak masuk kerja karena banyak hal yang membuatku kecewa, hari ini aku menyegarkan diriku kembali dengan petuah itu. Dan mencoba bangkit kembali, dengan menerima semua kenyataan yang ada. Seperti selama ini kita rasakan, bahwa semua yang kita perbuat seakan-akan merupakan perbuatan besar, kerja keras yang melelahkan, dan menumpukan pada satu harapan: orang akan menghargai jerih payahku dengan menghadiahiku kenaikan gaji atau jabatan. Tetapi, kiranya hal itulah yang telah membuat kita lemah. Semangat yang bertumpu kepada harapan semu, yang kita ciptakan sendiri karena merasa lebih, telah menggerogoti semangat yang sesungguhnya, yakni melakukan semua pekerjaan dengan senang hati. Ketika aku m...

Tuhan, Kesempatan dan RencanaNya

Gambar
“Begitu hebatnya Tuhan buatku.” Dia selalu memberi kejutan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Karena, apa yang saya pikirkan tak selalu benar-benar merupakan apa yang saya butuhkan. Tapi Dia selalu hebat memberikan surprise yang saya butuhkan. Manakala saya mendapati diriku berlumuran lumpur, kerepotan mengatasi hidup, Dia tidak segera mengangkatku ke atas tanah kering atau membebaskan pundakku dari beban-beban. Tetapi seringkali, yang kumaknai selanjutnya, adalah pemberian beban baru dan masalah baru yang semakin membenamkan diri saya ke dalam lumpur. Memberikan apa yang saya sebut dalam sumpah serapah saya, sebagai dosa buatku. Saat itu kita tidak sepenuhnya menyadari, bahwa apa yang kita dapat sesungguhnya adalah daya hidup kita yang makin kuat. Bagaimana kita 'dimintaNya' untuk bertahan, memeras otak dan jiwa kita untuk keluar dari dalam lumpur, dengan tetap mempercayakan sepenuhnya ketulusan cintaNya pada kita. Dan itu tak semudah saya menuliskannya, seperti s...

Kembali pada Cinta

Gambar
Pada sebuah pagi berkabut, seorang kawan lama semasa SMA, tiba-tiba berkirim kabar melalui e-mail; misa penutupan Bulan Maria ini khotbahnya disampaikan oleh Romo Diakon Tri Kusuma. "Dia sudah makin pinter," katanya. "Semoga imamatnya abadi." Kawanku ini memang spesial dalam tulisan saya kali ini. Menurut saya, perkataannya bisa bermakna ganda. Ia tidak hanya sekedar menjadi umat yang waktu itu mendengar homili, tetapi ia juga seorang umat yang pernah mengenyam pendidikan bagaimana "berhomili" yang baik menurut tata liturgi ekaristi Katolik. Dia adalah umat jebolan seminari. Paham gelagat sosial kemasyarakatan, mengerti logat para selibat. Makna ganda yang aku maksud adalah mungkin pujian atau mungkin sindiran, yang mana kedua-duanya menyatakan tidak sesungguhnya sama sekali. Atau respon jujur, bahwa homili yang disampaikan Romo Diakon yang baru 3 bulan kaul itu makin mampu dipahami oleh umat. Tapi itu tidak penting, karena yang lebih penting adalah...

Pokoknya Seru Deh!

Gambar
“Pokoknya seru deh!” begitu respon Endah, salah seorang penerima beasiswa Djarum Plus (BESWAN) dari Bandung, saat ditanya mengenai kesannya mengikuti Cultural Visit di Kudus, 28 November 2011. Dan memang, sembilan dari sepuluh BESWAN melontarkan kata yang sama: seru, ketika ditanyakan bagaimana kesan mereka terhadap program Cultural Visit ke Kudus. Seru yang dimaksud itu yang bagaimana sih? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘seru’ memiliki beberapa pengertian. Sebagai kata sifat (adjektiva), seru berarti: sengit atau hebat. Sebagai kata benda (nomina), berarti: ujaran yang biasa digunakan dengan penegasan atau intonasi tinggi. Dan sebagai kata khusus (partikel) yang tidak bisa diderivasikan atau diinfleksikan, memiliki arti: serba, untuk Tuhan -- sekalian alam. Di dalam pengertian anak-anak muda sekarang, ternyata ‘seru’ memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya berarti hebat, dan bukan hanya diungkapkan dengan intonasi tinggi semata. Hampir mencakup keseluruhan...

Indonesia Type 21, -1

Indonesia, lelaki paruh baya, rumah mungil di bawah trembesi Dimana catatan alamat surat sahabat telah di larung Ketika ancaman hari depan menjadi sarapan pagi Dimana aroma wangi tanah basah telah banyak menguap Ketika setiap malam tidur menjadi saat yang menakutkan Berhektar hektar ladang menumbuhkan pucuk pucuk harapan Bagi mulut mulut besar, tapi tidak bagi penyair, bagi Ibunda Bagi anak anak yang percaya kepada hati nurani Berhektar hektar ladang membunga percik api kemarahan Karena angin telah berhembus mengabulkan doa penjual nama Indonesia, lelaki paruh baya, tabur bunga di pusara ibunya Dengan bunga yang tak dipetik, tapi dipungutnya setelah gugur Di tiap senja di bawah trembesi, juga di pusara mimpinya Hingga terbenam dalam sunyi dendam yang tertahan Rumah mungil pun mengabut, bidadari kecil menangis di sudut Ibunda dengan wajah lebam berhias di kaca retak Matahari terus membakar ladang ladang, memaki ladang ladang Lelaki menelusup pintu dan teronggok di bawah celah atap Menca...

Indonesia Type 21, -2

Indonesia dalam jantung bocah 11 tahun Berdetak lambat seperti jarum jam di stasiun Kereta yang ditunggu membawakan mainan Tak juga muncul Bersama jutaan bocah lainnya Bermain, meski bermain sudah tak lagi berhati Hanya semakin menjauhkannya dari kampung halaman. Rumah mungil dan trembesi menyimpan kenangan Sunyi memanggil mengajaknya mati Lalu cakrawala berpelangi jelaga, sehitam keluh kesahnya: ”Aku ingin melihat hutan, Ma... membelai harimau dan orang utan” Mengapa ruang telah dimampatkan Hingga jantung berdetak lamban? Dia tertidur dalam remang cahaya di antara Matematika dan Agama Lalu ia bermimpi menulis sebaris email untuk kenalan barunya: ”Apa kau mengenal Indonesia, seperti aku mencintainya?” Kereta tak jua datang, hanya deru angin menggetarkan pohonan Tapi di mimpinya, ia melihat kereta telah melaju kencang Tapi tak berhenti lama Dan tak menghampirinya. Kudus, 2010

Denganmu

di gigir Rawapening. sepoi merayu kangen. aku datang padamu, hati bening. berpeluk dan bercinta, hingga langgeng. Sayang, ayo lekas mandi. Bersiap kita melancong Di satu sudut Jogja yang suri. Nonton pentas wayang wong Di Ndalem Mangkubumen. Sungkem untuk loyalitas permanen. Ambarawa - Jogja, 2011.

Face to Face

halus dan lembut seperti kasih seorang ibu hangat dan sejuk begitu ada di depanmu suasana yang lama kami rindu bertahun diayun arus waktu. candi mendut, 2011.

Melukis

detail: gurat senyum bibirmu, alis manis dan bulu mata wibawa Juga sorot mata elang yang bikin dia terjatuh saat menatapmu Serta suaramu, kulukis, suara yang telah membiusnya ke masa lalu Dan dia tahu, lukisan itu kini abadi. Dengan bingkai sekuat jati. Kudus, 2011.

Lumbini

dengarkan yang kau rasa indah rasakan lembut buainya lalu hanyutkan di gairahnya dan biar kutunggu saatnya nanti ucapan kalimatmu yang kubenci ku tunggu kau di taman lumbini betapa rapuh raga kita ini. Kudus, 2011.

Ledakan

derai tawamu semalam menjadi bulirbulir airmataku peraman sepanjang 13 tahun senyum pada kisahkisah manismu bercengkrama dalam hujan akhirnya memang harus tahu diri desah bisa jadi ledakan. Kudus, 2011.

Aku yang Lain

Kini kau akan sedikit lebih mengerti lagu ombak siang malam yang mengibarkan rambutmu sayap patah merpati yang tersangkut ranting kering menjadi tak berarti seperti ribuan kata kata dari buku sajakku yang menggelembung bagai balon busa yang ditiupkan anak anak kecil lalu pecah di kebun belakang. Aku meloncat keluar dari jiwamu, karena aku ingin lihat dirimu yang sesungguhnya saat kau membersihkan halaman rumah dari daun daun yang lelah aku telah mengembara ke tempat-tempat yang tak kau pahami bertamu dan bertanya kepada rumput hijau, tapi tak jua ketemu kau di siitu?! Semua ini kesiasiaan, sayang jika kau hanya menakar keringat menimbang beban yang semakin memberat dan di tikungan jalan kau rubuh menikam nikam diri dengan seribu penyesalan Jangan, sayang dengarlah pengembaraan ini…. matahari yang tegar menyeret cakrawala dimanakah rasa lelah ia timbang pucuk-pucuk angin yang setia memimpin musim dimanakah rasa bosan ia tanggalkan dan kini lihatlah dirimu pohon tak pernah menghitung ber...

Episode Pendakian

-satu- dari Rahtawu, separuh Kudus mengapung bersama kabut seperti juga sepasang matamu, selalu terlempar ke perbukitan ranggas pohon jati dan randu, di balik semak ular mendesis ladang ladang jagung dalam terasering yang mengering ah, kelepak elang elok dan tenang memainkan arah pandang. bunga rumput dan capung menantikan matahari tertidur bahasa daun yang diterjemahkan ke dalam jari tanganmu seperti menanti batu hitam copot dan nggloyor ke lembah penasaran dan ketakutan tergambar di batang batang pohon tiang listrik menjerit, setiap malam mengantarkan nyala untuk menerangi apa, untuk menjelaskan pada siapa? gerai akar akar pohon, telanjang di sepanjang jalan mendaki keindahan yang terbungkus dalam diam dalam sembunyi. dan kota berkerlipan bagai lautan mata insan kesepian dan Menara Kota, mercusuar kota bagi penunggu jiwa kapal kapal berlabuh dan melepaskan beban ke daratan. Rahtawu, Oktober 2003. -dua- jalan sempit mendaki sedikit, lalu turun tajam ke sebuah kali kecil gemericik t...

Pantai Bandengan

pepohonan pandan menyeruak di sepanjang pantai pepasangan belalang berkasihan di tangkai tangkai angin dan pasir berkejaran di bawah terik matahari deru mesin kapal nelayan seperti teriakan pada sepi aspal jalan yang hanya diam, mencatat semuanya siapa saja yang lewat dengan membawa keping jiwa untuk dilarutkan di samudra tidak kau lihatkah itu semua, kekasihku kenapa kita masih juga senang ingkar kenapa kita masih ragu atas percintaan kita. Pantai Bandengan - Jepara, 2003.

Jogja

-satu- Kangen. Melihat kotamu. Melihat lampu lampu jalan. Melihat dirimu. Masihkah seperti yang kukenal dahulu. Issana, tiga tahun tak sua. Kotamu tambah kumal bagai istal. Jejak telapak kaki kuda menyusup, lalu hilang di tikungan. Katamu, aku jangan kau tinggalkan. Kota lama temaram. Ia kini bagai gua batu yang kaku. Tak ada kompromi. Jangan aku kau tinggalkan, sekali lagi katamu. Jogja telah kau curi. Kau sembunyikan dalam hatimu. Kata katamu mengingatkan aku pada pertemuan itu. Dimana aku bisa jujur, saat menangis saat tertawa. Saat mengenang semua dosa direngkuh ampunan cinta. Jogja, Oktober 2003. -dua- Melewatkan satu malam dalam gerimis. Kucari cari apa sebetulnya yang membuat berat bagiku untuk pergi. Sebait puisi telah kujual di malioboro, pena pun telah aku gadaikan dalam pertemuan rahasia di belakang gereja. Lalu apa yang aku banggakan ketika nanti kau bertanya, dimana cinta sejati yang pernah kutitipkan padamu. Bukankah sudah tak layak jika aku tetap bertahan disini, meski d...

Kuburan

Badan dan segala yang melekatinya akan melebur dalam debu kubur ingin sehebat apakah daku manusia? Jiwa menangislah yang telah tercatat tak mungkin diralat kecuali satu baris terakhir yang tercekat Ampunilah aku si pendosa!! Pesisir utara, 2003.

Romansa Seorang Buruh Pabrik Rokok

fajar terbuka menyisir rambutnya lalu terdengar kleneng lonceng sepeda di luar jendela menyeruaklah bau keringat lelaki muda 5 km telah ia berkayuh menyusur aspal yang tak rata bau dari mulutnya saat berkata, “betapa cantiknya gadisku!” dan mereka telah bertunangan di rumah beratap rumbia dunia yang tertinggal di tepi ladang tebu menjelang senja. tak pernah bertanya hari ini garapan berapa tubuh yang sehat menumbuhkan pucuk daun untuk hari berikutnya tunangan yang juga mandornya, juga jarang tanya hari itu akan pulang pukul berapa sudah ada yang mengatur, dan ia manusia yang tinggal menjalani betapa sederhana hidup sebagai orang biasa makan, tidur dan bercinta kerja, tidur dan bercinta selebihnya cuma kesibukan yang sepele mesti bersepeda sebelum dan sesudah bercinta. matahari bersinar setiap ia mulai kenakan topinya menggiling batang demi batang kretek bagi kekasihnya yang akan ia antar hingga pintu rumah keabadian. ia punya banyak cerita tapi ia melewatinya dengan sederhana saja ia h...

Tepi Ladang Tebu

kehidupun bangkit dari tepi ladang tebu cerobong yang mengasap ke langit bagai doa tak putus sepanjang musim tapi siang ini alat giling kami termangu saja rantai dan gerigi karatan, mempertegas hari sekarat pabrik gula yang tua di seberang jalan, muda kembali ia telah beli tebu tebu dengan harga di atas kami. sepanjang sungai belakang rumah kini mengalir limbah airnya jadi hitam baunya menyentak mengusir kami padahal sungai dan kami tak bisa diceraikan kemana pun pergi, selalu sungai penanda nama kami gemericiknya mengiringi setiap tetesan air tebu ke tungku menyambung kehidupan kami hingga musim berikutnya hari ini, asap lelayu mengapung di tepi ladang tebu sebagaimana semua orang akan tahu, kami telah kalah oleh pabrik itu, tapi kami tetap merasa berhasil melintasi hidup, dengan cara dan daya kami sendiri. Pesisir Utara, 2004.

Lari Perawan

teriaklah pada tebing dan akar pohonan yang telanjang menjadi lelaki menyelinaplah ke sana, dan ceritakanlah semua hanya bulan sabit yang mampu mengawinimu ranjang putih semenjak malam pertama masih mengambar aroma kembang wijaya ia tetap bagai lukisan mimpi, yang tak pernah bisa dimasuki siapapun juga sebelum mimpi membuka pintunya sendiri bagimu. bulan sabit di balik tirai, tergantung gantung bagai nyala merah lampion di pojokan cakrawala termangu mangu membungkam diri siang telah mempertemukan cinta palsu di meja pelaminan yang (kebetulan) kau pilih ungu tapi kembang wijaya telah mencatat dengan tinta menjadikan putih seluruh ranjang di kamarmu teriaklah pada tebing, cepat nyatakan cinta pada siapa saja asal bukan dia akar pohonan yang seketika lelaki menyediakan kolong bagi sebuah pelarianmu. Pesisir Utara, 2004.

Satu Januari

kau rebah di ranjangku, satu januari angin menyeret gerimis dari utara oh, jadilah malam alfa sekaligus omega ini spora mulai rimbun di batok kepala! Pesisir Utara, 2004.

Kepompong -2

angin masih sepoi, matahari hangat di raut dedaunan dan semua sudah berjalan menurut rencana tapi masih bisakah kita menjamin kesuksesannya kekupu yang tiba waktu, kini tak muram lagi bunga dan berkas cahaya ia lepaskan dari mata masuk ke dunia baru harus melalui mati sempurna tapi adakah sesal, tatkala menelusuri jalan sepi itu ia membusuk dalam kepompong membusuk dalam kepompong kemana ia? dan tak ada yang akan menanyakannya mungkin kau pikir rohnya langsung melayang ke surga atau mewujud dalam rupa semut 33 waktu berikutnya menurutku ia hanya mati dengan sia sia tanpa tahu siapa yang menyebabkan kematiannya yang ia tahu cuma, melakoni apa yang harus ia lakoni tersangkut di ranting pohon dan sunyi. Pesisir Utara, 2004.

Terapung

mungkin aku bisa karam di kedalaman matamu terus menerus didera, sinar itu bagai lecut cemeti perih menggiring segala dayaku untuk bersimpuh panorama yang kabur itu pun seakan terus merayu hm…. kelelakian telah lunglai oleh geletar tarian gemulai bunga setangkai yang digenggam pun tertinggal di permukaan matamu dan terapung Pesisir Utara, 2004.

Kepompong -1

akulah sesuatu dalam sesuatu kepompong yang selalu gagal menjadi sesuatu. ia keburu membusuk di dalam rumahnya sendiri sebelum benar-benar terbebas dari segala keterikatan itu. kutunggangi kuda perasaan yang kuciptakan di padang imajinasi. hingga pada saatnya aku tersadar ia melemparku dalam kubangan dengan segala kebusukan. ingin kurangkai lagi mula kehidupan pagi dari hal sederhana rindu bisa kulakukan hal-hal kecil sebagaimana pernah bisa kulakukan itu pada saat lalu aku rindu saat aku hanya mampu berdoa dan waktu tak banyak bicara hingga hidup tak rasa didera seperti ini. Pesisir Utara, 2004-2006.

Perjalanan ke Selatan

perjalanan ke selatan. melintasi hutan yang tak lagi perawan angin mengombang ambing laju jalan aku teringat bima tangan yang mampu memenggal kepala, tak mampu merenggut tunas rumput inikah yang kucari? menelisik sunyi layaknya pencuri. Pesisir Utara, 2004.

Pagi Sesudah Badai

berhenti di ujung ngarai, dada terhampar hingga sebuah sungai entah badai mana, kerikil berhamburan dan rumputan melesak bagai jejak babi hutan menerobos malam dikejar pemburu liar ngarai masih menyimpannya di balik batu batu, rumputan lesu saling menggamit-bergelayutan-meregang akar yang tertahan sungai mengalir biasa seperti tak ada apapun yang telah terjadi tapi kita terus menaruh curiga; apakah pegangan telah menjadi pegangan? Pesisir Utara, 2004-2006.

21.23 Wib

kau hanya burung hitam kriminal paling sadis dalam bait bait mistis remah remah bara kau semai di atas ranjang pengantin kami tapi lihatlah, remah bara menjadi tunas mawar tegar meski ranjang beranjak tua. Kudus, 2005.

Randu Alas

Sudah rabunkah matahari pada kupu kupu, sayap patah, tersekap di rimbun daun tak kau pedulikan anggun dalam megah pucuk pucuk menjulang batang tua gemuk membungkuk tumbuh dalam riap mayat mayat kubur atas kejayaan dan megahmu kini lingkar pagar tua pucat pasi menakut nakuti setiap yang datang dengan hati. Sudah rabunkan matahari pada akar akar menggelembung meretakkan bangunan dinding dinding rumah dimana kelak kami akan ziarah Kudus, 2005.

Burung Hitam

Burung hitam adakah kau cuma bayang bicara dalam gelap berkicau dalam temaram jika kau nyata ayo kita makan bersama dan bersulang anggur tua biar kita bicara dalam terang. Burung hitam adakah kau cuma bayang tak peduli jinak atau liar sergap aku di bawah nyala lampu aku kirim jua sepotong kue dan salam hangat Burung hitam jubah malam tangan gelap mata cekung mencorong dalam igauan apa yang kau cari? bukankah segaris nama baru perlu dirayakan bersulanglah untuk sebuah pertarungan. Kudus, 2005.

Perubahan Meta

Dinding kamar saat pertama kumasuki masih polos dan lugu warna laut biru dan getaran ayat suci membalut ranjang lalu senyum dari balik cermin membentuk ruang sejuk sunyi. Meta, jarum jam merangkak tinggi engkau belum juga terlihat membuka pintu. Kemana saja engkau menenteng waktu? Berdentam dalam kamarmu seperti kubah merapi menyimpan gelegak lahar panas. Meta, bukankah kau menuju dewasa? Di luar dunia penuh musik dan warna tapi jangan bawa masuk mereka dalam kamarmu; ruang senyum sunyi – doa. Diam diam aku ingin pergi saja takut untuk bersua bibir dan senyummu telah berbeda. Kudus, 2005.

Sayap Malaikat

Engkau mengangkatku dalam kepak sayap malaikat serupa bayi; tubuh lilin-tubuh telanjang dan terlukis ilalang di tepian pori pori kulitku. Hangat dalam peluk lambungmu yang halus mulutku garing memerih dikibas angin kering engkau terus mengangkatku di sunyi paling tinggi. Kekasih, sayap malaikat di bola matamu mengapungkan luka luka Ssst, janganlah ucapkan sudah!! Kudus, 2005.

Laron Pecundang

Langit yang cerah lalu hujan tiba tiba juga tanah membuka dadanya yang bidang menerbitkan laron laron berkeriapan sayapnya mencari cahaya menuju cahaya hanya saja mengapa kau masih duduk di sini mengurai beban rumah menerbitkan laron laron pecundang dari matamu untuk minta diri dibakar sunyi. Aku lebih pecundang mendekap pipimu dalam lukaku aku lebih pengecut meraih tanganmu dalam lumpurku. Kesedihan melahirkan duka kekejaman menerbitkan derita dan esok hari kita mengabarkan kepada dunia sudahlah, kita jalani saja! Kudus, 2005.

Lelaki Sunyi

Untuk Fariz Hudaya, dan Ayah lainnya Tak ada rasa letih pada wajahmu meski kau tahu bakal mati jua di sini setelah merenangi sungai riam riam terjal itu bahkan sepucuk cita cita yang terhempas entah dimana pada dahi anakmu yang sakit masih sempat kau tulis doa masih senyum pula untuk seluruh hari yang segera menua. Hidup seringkali hanya soal sederhana cakrawala seringkali terbaca tak sengaja lalu aku kembali berhenti betapa aku tak sekuat engkau meladeni kenyataan tak serajin engkau menganyam sebatang demi sebatang ranting hambar menjadi karya kehidupan yang bermakna. Kudus, 2005.

Pembicaraan dari Pecahan Botol

Antara tersesat atau menyesat diri menyadari mulutku mengendus kloset lidahmu menjilati punggungku bagai induk kambing sembari membisikkan desah lirik lagu dangdut sesobek kertas koran masih menulis Aceh demonstrasi kenaikan harga BBM kau, bahkan kemanusiaan yang tercabik itu asyik dan acuh saja behamu yang kendur–gincumu lumer–dirimu direndahkan aku memagut bahumu agar kau mau berhenti menjilat lebih lelah untuk tidak mengajakmu bicara soal apa saja kecuali diri kita, ya kecuali yang satu itu! kami mengurainya dengan pecahan botol di sudut kamar tapi aku juga masih belum tahu apakah aku telah benar benar tersesat? Kudus, 2005.

Waru Jelaga

Kurasa jelaga telah menepi ke batas kota menggantikan daun daun waru lunglai ditarik ulur antara dogma dan nafsu rekreasi di lingkaran aroma bau kencing penjagal atau malah ideologi patriarkhis dan feminis telah membuang mereka dalam keranjang sampah di pasar pasar hewan. Di bawah waru jelaga mereka membicarakan kerlap merkuri kerlip dian penjaja bakwan-tahu-pisang goreng. Di atas pertigaan mereka ditertawakan papan iklan benderang kurasa inilah keakraban yang memilukan sebuah pesta di tengah kota mati. Terpinggir. Dan akrab. Air kencing-kotoran binatang-sayur membusuk mereka menghuni dunia yang sisa itu sebagai kewajaran yang terselip hingar kota yang semakin tak tahu diri. Kudus, 2005.

Ronce Simpul

Lalu setiap simpul akan menyambung pada simpul berikutnya seperti rumah rumahan kardus mainan anakku; kokoh saat tali temali bertemu dan memisah. kita rayakan akumulasi peristiwa demi peristiwa hingga sebagai rumah kita terjerat tempat ini. dan nanti jika matahari mulai lelah dengan tubuhnya yang mulai lumer dan tua tangan tak cekatan lagi membuat simpul simpul peristiwa indah sebagaimana hari ini aku akan berlagak sebagai penyair yang kemana pun pergi membawa buku alamat atau seperti gadis yang tak pernah lupa menyelipkan cermin kecil di dalam dompetnya atau paling tidak aku tak akan pernah melupakan sehelai rambutmu terbakar matahari di ngarai usiaku. Kudus, 2005.

Sriti

Kini kau akan sedikit lebih mengerti lagu ombak siang malam mengibarkan rambutmu sayap patah menjadi tak berarti seperti ribuan kata kata dari buku sajak yang menggelembung bagai balon balon yang ditiupkan anak anak kecil di kebun belakang biarlah engkau hadir dan mengertilah maknanya bagiku. Lincah yang kau kepakkan tetap menyimpan sunyi aku tak peduli begitulah aku memanggilmu. Laut menyimpan badai lalu angin bersarang di semak pantai dan kau tetap menyimpan rahasiamu di tiap kepak sayap aku sendiri pun sangat ingin memahami. Kudus, 2005.

Senja Mata

Dia menaruh lekak lekuk tubuhnya di atas pangkuanku yang ilalang aku pun bilang padanya langit masih tinggi dan kemarau hari ini pasti segera berganti. Dan kau sok penyair romantis, sahutnya. Lalu pada lengkung pelangi aku menyeberangi sunyi kata melalui geletar sayap sayap capung. Senja mata melukis tubuh rimbunan bunga mungkinkah aku telah keliru menangkap getaran itu? Kau yang terkapar dibantai matahari, juga aku nanar di ujung matamu tak ada yang bisa membangunkan kecuali khayalan yang meluber dari batas gelas. Kudus, 2005.

Malam Sehelai Sayap

Dan malam beringsut membawa sehelai sayap terlepas aku teringat kemarin kita menangis di tepi ranjang melukis kegetiran hidup di kayu kayunya lalu pada celana dalam yang terserak sebuah lagu melayang dan menjadi puisi masa lalu, mengapa kita tak pernah berhenti meratap? Malam ini sehelai, besok sehelai lalu lusa dan esok lusa tak ada satu kesempatan bagi kita mencaci dunia setelah peristiwa terpatah bagai helai helai sayap kita tak pernah tahu dimana akan dijatuhkan meski telah belajar dan diajar bertahan angin santer dan reranting berduri tajam meluluhlantakkan hingga tak berdaya. Kudus, 2005.

Ini Sorga Bagi Kita

Masih kuingat jalan mendaki itu, naik menuju puncak, meniti ungu coklat kehidupan di puncak Muria; jiwaku terhempas seperti serat kapuk randu yang terlepas, lalu aku pun terbuai gelak daun tawa pohonan nyanyi rumput menjemput sapi sapi di atas kepala petani, riang anak anak kecil berlarian menggaris pematang. Begitulah aku menziarahi hari lalu. Biru dan tenang seperti alur sungai merayu batu batu, lalu gema dzikir melambung dari rumah rumah santri mengumpulkan jiwa jiwa dalam satu bumi, adzan meluncur dari kubah kubah masjid mengumpulkan jiwa jiwa dalam satu langit, lalu sayup shalawat merayap dari mulut ribuan peziarah yang tiada henti melawat masa lalu untuk berbenah hari ini. Kawan, betapa aku sungguh tak ingin segera bergegas apalagi meninggalkan kehijauan ini dalam hiruk pikuk kota. Ini sorga, dimana jiwaku terpuaskan oleh sebuah pesona. Apa yang akan kukenang jika Kudus pun melindap dari kenangan dan tersumbat di aorta generasi bisu? Ini sorga dimana jiwa jiwa terpuaskan oleh seb...

Mutilasi

dia pun rebah dengan memar dan darah di sekujur tubuhnya yang tercerai berai, tiang pancang bagi perahu tua mereka pun mengenalnya, bau keringat sapi perah dan tangan yang selalu basah 3 tahun aku mencangkulinya, ia diam saja, sakit adalah imunisasi, lalu pada 1 minggu terakhir aku ikat tangannya dan kujerat lehernya dengan 11 lilitan kabel telepon istrinya dan 1 anaknya keluar dari pelupuk matanya; dalam gelembung biru dongker, aku merebahkannya dengan 2 tikaman sangkur tepat di dada kirinya karena sungguh aku semata mata ingin menyelamatkannya aku tak suka ia melihat waktu, meraba arah angin apalagi deru mesin pabrik yang berisik, yang katanya lebih memanggil manggil, dan ia seperti anak ayam yang selalu dipatuki lelaki kekar yang telah membeli jiwanya. Kudus, 2005.

Tuhanmu Hari Ini

terbaring tengkurap berlari merayap terusterang bersijingkat kamu tetap bernama buruh, Marni, di atas meja makan di kamar tidur di plasa atau di WC kamu tetap saja bernama buruh seluruh harimu telah terbeli dengan perhitungan perhitungan yang tak bisa kau pahami, karena kau di sini adalah keputusan kau masih di sini adalah rasa suka majikan dan kau akan tersenyum menangis tertawa menjerit seturut inginku karena maumu telah menjadi mauku berteriak diam memberontak memihak sama sekali soal lain dengan keputusanku, sama sekali bukanlah hal yang bisa bikin gentar tenggorokan, kau adalah satu dari milyaran pasir pantai, Marni, karenanya aku berhak menjadi tuhanmu dalam hidupmu hari ini. Kudus, 2005.

Alienasi Burung Kecil

sesudah akad nikah lalu dipapah tubuh mempelainya untuk diikat di ranjangnya ia bahkan tak lagi memiliki dirinya ia tak lagi bernama aku seperti dulu pernah aku mengenalnya. ia disuapi pisang dan pepaya untuk kicaunya yang mahal harganya. tapi ia hanya seekor burung kecil bahkan tak lebih besar dari seekor burung kecil tak seperti dulu ia berani sebagai pemberontak; jiwa yang paling ia suka. Kudus, 2005.

4 Km Sepi

4 km sepi pohonan saling bercumbu mereka tak ingin dunia mereka hanya sepi dan bercinta tapi dunia tak inginkan mereka hidup terlalu lama 4 km sepi pohonan dan aku saling menatap penuh curiga. Kudus, 2005.

Pram, Selamat Jalan

pramoedya ananta toer tanah keras padas, jauh kelebat pelangi telah tumbuhkan satu pohon Jati keras padas mengawal perjuangan abadi kutundukkan kepala, Tuhan telah memanggilnya dari Blora ke Batavia dari Buru hingga Jakarta sunyi di nyanyi bisu bumi manusia mengakar dalam jiwa anak bangsa sepasang mata yang menatap-memberi cinta. Kudus, 29 April 2006.

Jiwa Merdeka

Ada saat kita terjatuh Ada saat kita mesti berpeluh Mari kita rajut setiap jengkal kegagalan Lalu kita akan akrabi dunia Dengan sepenuh syukur penuh anugrah. Ada saat kita menangis Ada saat pula angan mengeluh Tapi matahari kesadaran Akan jadikan semuanya terlihat nyata Bahwa kita semua adalah saudara. Menyatulah di sini dalam kehangatan Sesungguhnya tiada seorang pun yang ingin sendiri Bernyanyilah di atas tanah yang kita cinta Dan betapa indah kita bisa berbagi rasa. Kudus, Januari – Juni 2006

Tuhan, Inilah Komitmen Kami

Didedikasikan untuk para korban bencana gempa tektonik di Jogja – Jateng pada 27 Mei 2006, pkl 05.55”, dan anak anak negeri ini. Tuhan Inilah komitment kami: Betapapun derita dan bencana menggetarkan sendi sendi hidup kami Betapapun pahit getir hari hari yang harus kami reguk Sakit dan luka yang berulangkali memenuhi sekujur tubuh kami, takkan mematikan jiwa kami untuk saling berpeluk takkan melumpuhkan tekad kami untuk saling berbagi. Karena mereka semua saudara kami Karena kami semua selalu bersaudara. Maka lapangkanlah jalan pengampunan-Mu, untuk bangsa ini yang telah banyak berdosa, Tuhan. Maka anugrahkanlah ridho-Mu untuk anak anak bangsa, Tuhan, yang telah dengan tulus ikhlas memperjuangkan hidup kami semua. Lihatlah kemegahan yang kami punya, Tuhan Kami membalut seluruh jiwa raga dengan cinta. Tuhan Inilah komitmen kami Tak ingin kami menari saat saudara kami menangis Tak ingin kami bernyanyi saat saudara kami menjerit Kami tak ingin luka itu semakin menganga Karena m...

Kemana Lagi Kami Berlari Selain Pada-Mu

Didedikasikan untuk para korban bencana gempa tektonik di Jogja – Jateng pada 27 Mei 2006, pkl 05.55”, dan anak anak negeri ini. Angin gunung yang biasanya lembut, mengabarkan deru lava pijar dari Merapi, awan panas dan solfatara mengancam kami. Berlarian kami, terbirit birit bagai kawanan kambing dikejar srigala, mencari perlindungan, mencari tempat aman untuk sembunyi. Dan saat sampai di sini, di barak barak pengungsian, kami belum juga bisa tenang. Sambil mengatur nafas yang tersengal, berdebar jantung kami menghitung berapa saudara kami yang terkapar. Kami kini seperti prajurit perang yang jiwanya dikejar kejar kerinduan, dikejar kejar pikiran ketakpastian akan kampung halaman. Mungkin pohon pohon pinus telah menjadi abu. Mungkin sungai kami telah menjadi sungai batu. Tapi mungkin juga akar jiwa kami yang telah lama tumbuh di sana, masih mampu menumbuhkan tunas baru bagi kehidupan. Nyatanya bukan itu kenyataan yang ada. Di kedalaman 33 kilometer dari permukaan laut, tepat di belaka...

Relawan 5,9 Skala Richter

kami temui wajah wajah bergurat duka sebab kehilangan saudara tercinta di antara puing puing rumah mereka tenda tenda darurat memelihara harapan kami temui jiwa jiwa nyaris roboh pula seperti daun kering dibawa kemana laju angin dengan sorot mata yang memandang kosong duka ini memang sangatlah berat disangga bahkan tak terdengar sapa kleneng andong yang biasanya merayap di antara gelak tawa membelah ruas ruas jalan imogiri yang mengantar peziarah ke makam raja raja gedung gedung sekolah, masjid masjid dan gereja gereja tak mungkin bisa dipakai lagi temboknya hancur, berdiri miring, atapnya ambrol namun siswa siswa mesti harus terus belajar adzan harus pasti berkumandang nyanyian misa dan kebaktian harus pasti didengungkan rasa syukur dan pasrah akan kehabesaran Tuhan tak boleh lumpuh atau mati di antara puing berserakan meski menelusup dari bawah tenda apa adanya meski beralas tanah dan rumput kering berdebu, ini saatnya untuk kita mengakui betapa kita sungguh tiada berdaya adanya kami...

Rumah Indonesia

Indonesia 61 Tahun sebelum kita pergi keluar baiklah kita lihat dulu rumah kita adakah kita lipa padamkan tungku ? agar rumah tak terbakar saat kita di luar sudahkah kita tutup jendela dan pintu pintu? agar rumah yang kita cinta terjaga dari pencuri yang bernafsu lalu marilah kita keluar mengucapkan ‘selamat pagi’ kepada embun yang tersangkut di atas rerumputan lalu memasrahkan rumah kepada yang tinggal Indonesia adalah rumah kita rumah yang kita cinta meski di almari ada bluejeans Amerika meski gantungan kuncinya bertuliskan ‘made in Korea meski sajadah di mushola bikinan Turki yang kita beli saat naik haji di Tanah Suci dia tetap rumah kita Indonesia yang reot dan megahnya terbuat dari jiwa kita sebelum kita keluar menyapa orang lain atau bahkan memakinya karena hamper nyerempet kita di jalan sudah bersihkah rumah jiwa dari kebodohan menatap masa depan dari kedunguan melihat penderitaan kawan dari keserakahan harta benda hingga kita terhenti di sini dimana rumah kita tengah berduka ...

Kemenangan Sempurna

matahari pelan mendengkur, bersiap bangkit kemenangan dan kemenangan kemarin belumlah kemenangan yang sempurna angin masih basah karena airmata masih menggelayut, merajuk di ketiak daun “kita sudahi saja kesedihan ini,” bisik sebatang ranting seolah tak ingin larut dan terperosok di palung hening lagi ia berbisik, “enyahlah airmata!” kata ranting lainnya, “sebelum datang kekalahan berikutnya!” dan sunyi membungkus perbincangan semua tahu kekalahan tadi siang teramat menyakitkan tak kan ada yang kita sisakan sedikit pun semua kita tanggalkan bersamaan detik yang mengerjap bahkan keindahan yang baru saja tercipta bahkan kebaikan yang baru saja kita terima bahkan prestasi yang baru saja kita raih lepas saja sebagaimana daun tanggal dari ranting seperti saat menghirup udara dan menghembuskannya menerima dan kehilangan sebagai kewajaran biasa lalu langit merengkuh mereka sebab tak lagi terdengar suara seperti degup jantung yang tak terdengar degupnya tapi kita meyakininya ada “itu mendung!...

Doa Kampung Halaman

ranting patah ranting kering daun yang menguning air bergemericik tanah tanah terbelah berdebu menyampaikan proklamasi virus proklamasi virus di padang kuruksetra di medan peperangan di ladang pembantaian mereka telah pancang bendera perang akal sehat dan logika perang cuaca di musim kemarau perang batin di tengah budaya galau perang nurani di hidup yang gamang kita telah banyak kehilangan telah banyak kehilangan telah lama kehilangan telah jauh kehilangan hingga kita musti merayap, merangkak, melata hingga kita bersimpuh di atas genangan airmata hanya untuk sebuah nilai cinta untuk sebuah cita cita untuk sebuah harmoni hidup engkau – aku – kita – semua tumbuh di lahan persemaian yang semestinya pulang pulanglah ranting patah kembali kembalilah ranting kering ke sini ke kampung halaman kita sendiri berkumpul dan bersendau gurau kembali dengan barongan yang gairah dengan saron yang nyaring dengan tangan penari yang gemulai dengan ekspresi teater dan sastra yang murni dengan...

Dua Baris

baru dua baris, Innocen karena engkau puisi yang selalu gagal aku tulis 2006.

Deru Patah

deru angin deru kipas angin patah patah aku dan istriku mengembara ke langit hitam dan bintang diam tak berkedip 2002.

Malaikat Kecil

ada percakapan di segelas kopi kau terbangun tapi untuk tidur lagi malaikat kecil di bola matamu sempat ayunkan pedang ke arahku pada pejam matamu kucium kening yang buram sebagai peta rahasia 2002.

Puisi Kecil

Onnasan ambil dayung, Nak ayo kita melaut biar kau kenal segala takut. 13 Februari 2002.

Gemuruh Laut

Pro: T. Budi Santoso laguku mendesis di sela pucuk pucuk gerimis kala tubuh terhempas membuih dan pecah di pantai habislah aku di sini; membangkai lalu lagumu menjamahku selembut lidah gelombang dan kudengar gemuruh lautmu di kejauhan memanggil memanggil merengkuhku ke dalam pelukan laut dan gemuruh sepasang kekasih yang selalu bercinta begitu pun hidup dan kerja seperti melodiusmu saat itu 2002.

Intimidasi Ruang Sunyi

belajar untuk jauh, nyatanya justru terasa didekatkan “you can run, but you can’t hide!” katamu bernyanyi sembari onani, dan jutaan sperma merayapi dinding sembari bersorak sorai, “kita telah dibebaskan! kita telah bebas dari konthol!” lalu dibiarkannya mereka tumbuh sebagai yang kehilangan nyatanya memang tak bisa disembunyikan, membiarkannya lepas justru menarik kita untuk balik bergegas menghampiri. kurang telanjang apa? sekujur keindahan ini bakal lenyap tak ada yang abadi selain kenangan memburu sepanjang lorong dan meleleh seluas ruang ruang dimana sunyi tiba tiba jadi bunyi obrolan yang tersaji di etalase toko dan trotoar karena seluas luas pandang kita hanya bersua tangan tangan gemetar mendendam kemiskinan dan sunyi, “cuh!” meludah ke mukaku. 2002.

Metamorfosa

kembali ke bilik sunyi hingga desahnya menyentuh alis mata menggetarkan gelap menjadi cahaya, sepasang biji mata tak lagi buta. 2002.

Swara di Suralaya

dan menggelayut swara tetabuhan menggiring perginya sang jendral yang pernah menodongkan tongkatnya ke hidung pribumi yang tak seiya, entah slendro, entah pelog tangis dikabarkan dari puncak giri entah slendro, entah pelog klothekan bocah bocah pangon bertemu swara di suralaya menghentikan lawatan sang jendral menuju muara di situ ia masih sempat terpana hidup sungguh begitu nikmatnya kalau saja ada kesempatan kedua akan dirampungkannya segala atau dirampoknya segala sampai kita menyerahkan cinta. Kudus, Januari 2008.

Rumah yang Kubangun

rumah yang kubangun dari cinta cinta yang tumbuh yang kuberi ruang dan kurawat di setiap saat memang bukan dari kaca atau marmer istimewa kadang solfatara mengapung di atas asbak dan menyela perbincangan temboknya berlumut lumut yang bisa bicara coretan dinding yang berbisik dalam gelap lalu pot pot yang seakan diam menjaring informasi gerimis gelas dan dentingnya melempar fenomena di tengah kepongahan lalu aku hanya membiarkan semuanya menjulur ke langit menjalar ke tanah tanah basah atau menjala semua ikan ikan yang terbawa angin senja di situlah kami tumbuh hingga tak mengenal mati. Kudus, Januari 2008.

Daun Telinga yang Perawan

ingin aku membisikkan kata di ujung daun telingamu yang perawan hitamnya masa depan susahnya membebaskan diri dari ketakmampuan aku berharap banyak darimu matahari yang menguak gelap kehidupan dan hanya suara belalang tersisa hingga engkau anggukan kepala barangkali aku ayah yang ceroboh membagi cerita pahit kepadamu dan mengandaikan keindahan mesti direbut dengan tangan keras padahal mestinya aku tersenyum demi telingamu yang perawan dan anggukan kepalamu yang sesungguhnya mengiris hatiku aku membisikkan kata yang lain yang terakhir kali di ujung daun telingamu yang masih perawan tentang kekuatan cinta yang harus dipercaya tentang matahari yang menerbitkan keberanian. Kudus, Januari 2008.

Nol

sudah aku serahkan semuanya padamu kacamata, topi, hanger, baju, sarung termasuk nasib baik yang mestinya aku terima hari ini kau meminta lagi apapun yang masih aku miliki padahal kau tahu aku tak punya apa apa lagi mestinya kau tahu jika kau terus memaksaku akhirnya aku berani melawanmu Kudus, Oktober 2008.

Dunia Lacur

pernah, dan mungkin masih di rembang petang kerlap kerlip lampu disko diiringi irama dangdut dari tape recorder jangkrikan bagai berpasang pasang mata memanggil manggil, “hai asa, mampir dong! kita ngobrol bersama sebotol oplosan bir dan congyang kacang dan tahu susur milikku ketrampilan kecil hasil warisan ibuku. ibuku mewarisinya dari ibunya. jangan remehkan nenekku ia selir seorang mantan bupati pesisir.” begitulah aku terjerat entah karena ia seorang perempuan yang punya bibir merah dan bersusu montok atau karena ia cucu seorang selir tapi nyatanya aku kini tertawan apalagi siang yang aku maki maki telah membakar tubuhku menyayat nyayat kulitku hingga berdarah bernanah bau amis kenyataan hidupku tak bisa kututupi meski dengan cendana atau kasturi meski pula dengan tata bahasa sekelas puisi karena bahasaku telah kacau hingga aku hanya mengenal engkau, lacur sebagai puisi terindah yang pernah kubaca. “hai asa, mampir dong! kita lanjutkan minum berdua!” dan aku menatap matanya betapa ...

Tapal Batas

jika jalan patah sudah kemana kaki jika malam pecah sudah kemana hari jika angan tumbuh kembali kemana angin jika cinta pulang kembali kemana hati jika engkau tanyakan aku dimana dirimu jika engkau tanyakan engkau disitulah dirimu tak pergi tak pulang di sini membaca bintang mencatat sungai kita akan menuai di ladang sajak Kudus, Januari 2007.

Negeri Tragi-Komedi - 2

aku pasti menulis sajak dan akan terus bersajak meski pohon pohon hilang roh air hilang muara batu batu mendesak ruang dan jiwa nglambrang tak berarah, aku pasti pistol yang telah meledakkan kepalamu sesaat kau hendak bangkit dari kursi kuasamu… di belakang kita telah ada yang pengintai, lalu merekam apa yang telah kita lakukan untuk dijelmakan bom saat logika tak bisa menjelaskan kenapa kita telah begitu kecewa dengan kesewenangan ini wajarkanlah kemarahan kami seperti debur lumpur yang menggelora, dan tak perlu hati bicara jika hidup saja sudah dibunuh layaknya sapi di pejagalan, terlunta lunta sudah perjalanan ini hingga tak sempat lagi kami punya birahi terhadap apapun. keempat anak anak kuhadapkan tuhan karena dialah yang mestinya bertanggungjawab, karena pohon pohon yang hilang roh air hilang muara dan batu batu mendesak ruang hingga tersampir di bibir pembaringan, seperti ketekunan para pendoa yang tak pernah terkabul doanya dan aku akan terus menulis sajak sajak dalam sunyiku K...

Negeri Tragi-Komedi - 1

langitku retak bumiku lebam lalu laut berderak dan gunung berdentam seperti pisau puisi bahkan lebih ngeri siapapun membaca siapapun merasa dari kolam sajak di koran pagi meloncatlah ia ke kehidupan karena hati tak lagi mau dengar karena jiwa tak ada lagi ruang ia terentaskan tapi jiwanya mati tak terselamatkan Kudus, Maret 2007.

Tak Ada Janji

Bunga tak pernah memberi janji kepada siapapun karena indahnya Embun juga tak pernah berpesan karena suatu saat akan kembali Itulah mengapa aku diam saja ketika mendengar seribu harapan Itulah mengapa pelangi kau saksikan sesuai hujan. Kudus, 080311

Pagi Ini

Dan hingga pagi ini aku masih percaya seperti kepercayaan embun pada matahari tetap menanti penuh harap bahwa perubahan akan terjadi, dari ketakberdayaan menjadi berdaya dari kemungkinan yang paling tak mungkin menjadi sebuah keniscayaan. Kudus, 070311

Kekasih yang Kubenci

desah nafasmu terasa hingga dalam dada kenapa kau datang mimpi yang tak pernah kuinginkan bersamamu seperti itu, kau sembuhkan aku tapi saat seperti ini, kau melukai kembali ketika kau benar benar menghilang meninggalkan jejak yang tak ingin kukenang Kudus, 2011

Aku tak Pulang, Ma!

"Ma, gak usah percaya! Semua itu cuma bohong-bohongan, Ma! Mama tak perlu lagi berdoa. Mama tak usah lagi berharap. Sudah tak ada gunanya lagi, Ma! Begitulah mereka meninabobokan mimpi. Begitulah mereka membunuh mimpi. Begitulah mereka! Ma, kalau nanti matahari tak pulang Kalau nanti ilalang subur di kebun belakang Sudah pantaslah jika aku jadi bungkam Karena matatelingaku diremukredam Jeritan kita membentur tembok muram! Sudahlah, Ma! Ma, kau tak bisa mengerti Kenapa begitu sumpek ruang yang luas ini Kenapa begitu sulit kesempatan yang mudah ini Tapi aku yakin kau bisa merasa Ada yang dimenangkan demi kesombongan kuasa Ada yang dijuarakan demi membungkam sang juara. Benar kan, Ma?!” Kudus, Juni 2011.

Talas

urat nadi di pelupuk mataku menggetar setiap kamu muncul dari rimbunan pikiran menetes seperti embun jatuh airmataku karena kau daun talas di atas kolam berbukabuka dalam siangpetang membasahi raga dahaga dan jiwa kerontang dirimu jadi tumpahan kisah airmata. Kudus, Juni 2011.

Kuterima

kuterima semua yang kau beri sebagai cahaya rindu ini tunas harapan pada cakrawala berakar dan berpijar di hati hingga dirimu mengerti kulepaskan keakuanku masuklah ke dalam ruang jiwaku kuterima dirimu menjadi bagian diriku. Kudus, Juni 2011.

Sudut Malam Bisu

sudah kita tenggak beberapa lagu sejak lepas maghrib hingga kini jarum jam tumpuk tak jua pergi gelisah meradang kertas dan cipratan air kopi melukis sunyi lalu segera saja terbakar menjelaga di pelupuk tawa. sudah kita benam dalamdalam keresahan tapi bagai asap menelusup celah pori mengurai bau busuk perilaku di hari kemarin rembulan lalu dustin hoffman mengelus rindu katanya masih ada sejenis cinta atau apapun namanya yang telah mempertemukan kita dengan segala bau anggur dan bakaran kretek dengan segala warna gincu dan bilur bedak hingga malam bisu kian batu "kita definisikan kembali rindu dan cinta ini pada muara sungai..." Kudus, Juni 2011. bersama Saga Veho

Menggali Teater di Kota Pabrik

Gambar
Di sebuah kampus, seorang aktivis teater menyebut keberadaan teater kampus sebagai media pembebasan, yakni upaya mengenali, mengakrabi, menggauli dan mengerti kembali kemandirian setiap manusia sebagai pribadi yang unik dan spesial. Lalu apakah teater bagi buruh? Pernyataan mengenai teater yang terlontar saat saya diundang untuk memberi workshop teater kampus di Jogjakarta oleh seorang mahasiswa di atas semakin liar mencari jawaban aktualisasinya ketika saya mulai berhadapan langsung dengan teater buruh. Pertanyaan itu menggedor-gedor benak saya. Mereka, kaum buruh, selama ini lebih suntuk dengan pekerjaan kesehariannya. Lebih intens mengikuti ritme kerja yang sedemikian ketat dan mengikat. Sehingga sangat mungkin mereka sudah tidak tahu lagi sampai dimana kehidupannya berjalan, lupa pada sejuta kenangan masa kecil dan kampung halaman, dan jangan-jangan sudah tidak memikirkan lagi keberadaan dirinya untuk sekedar berrefleksi dan menimbang tinggal berapa galah lagi cita-cita bisa terca...