Srinthil
-satu- Sebuah kota. Sebuah komunitas. Dimana sebagian besar penghuninya bermata-pencaharian sebagai buruh. Sebuah komunitas yang penuh keringat, bau kecut, umpatan kasar, protes kenaikan upah, bonus mobil sedan, Tunjangan Hari Raya, pemutusan hubungan kerja, sering pula cucuran air mata, darah, yang tidak semuanya didasari atas nama kemanusiaan. Atas nama kepentingan. Siapa membela siapa. Siapa memangsa siapa. Hanya sebagian kecil saja yang berlaga atas nama cinta dan perjuangan. Satu persatu tersebar dan tercecer di aspal jalanan, seperti musim gugur bunga-bunga tanjung ( mimusops elengi ) minggu ini. Karena selalu dan akan selalu ada. Meski selalu dibersihkan dan akan selalu dibersihkan. Dan ingat, mereka jua yang selalu luput dari perhatian, dan selalu mereka dibersihkan. Hingga kita melihatnya bersih kembali saat kita berangkat ke pabrik esok hari. Kita akan menyebut kota itu Kudus atau Al Kudus. Sembari menziarahi hadiah berujud batu yang berasal dari Baitul Makdis, pemberian dari...