Dago. Kemegahan yang sunyi.
Dan dia pergi.
Gerimis. Lalu bersisakan rintih anak gadis.
Di ujung rambut yang 12 tahun, menyisir trotoar.
Ada sih kerlip mata.
Tetapi risih.
Tetes gerimis kental meramu cerita.
Mereka ketemu di satu prahara.
Dia bertatto Dago.
Hal hujan, dan kelilingan perbukitan.
“cinta mesti dibasuh di sini.”
Kubangan untuk berendam-diri.
Agar tak menjauh dari suhu alam.
Dia telah pergi. Ke dasar kubangan.
Di Camo aku mengenangnya;
Menjadi puisi, yang kini kau baca.
“perih,
tapi penuh cinta.”
Trotoar Dago, Bandung - 11/11/11.
0 komentar:
Poskan Komentar