Senja Mata

Dia menaruh lekak lekuk tubuhnya
di atas pangkuanku yang ilalang
aku pun bilang padanya langit masih tinggi
dan kemarau hari ini pasti segera berganti.
Dan kau sok penyair romantis, sahutnya.
Lalu pada lengkung pelangi
aku menyeberangi sunyi kata
melalui geletar sayap sayap capung.
Senja mata melukis tubuh rimbunan bunga
mungkinkah aku telah keliru menangkap getaran itu?
Kau yang terkapar dibantai matahari,
juga aku nanar di ujung matamu
tak ada yang bisa membangunkan
kecuali khayalan yang meluber dari batas gelas.


Kudus, 2005.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT CINTA UNTUK SAUDARA TUA

Sandyakala Nusantara

DUA PERTAMA