Mutilasi

dia pun rebah dengan memar dan darah di sekujur tubuhnya
yang tercerai berai, tiang pancang bagi perahu tua
mereka pun mengenalnya, bau keringat sapi perah dan
tangan yang selalu basah

3 tahun aku mencangkulinya, ia diam saja, sakit adalah
imunisasi, lalu pada 1 minggu terakhir aku ikat
tangannya dan kujerat lehernya dengan 11 lilitan
kabel telepon

istrinya dan 1 anaknya keluar dari pelupuk matanya; dalam
gelembung biru dongker, aku merebahkannya dengan 2
tikaman sangkur tepat di dada kirinya karena sungguh
aku semata mata ingin menyelamatkannya

aku tak suka ia melihat waktu, meraba arah angin apalagi deru
mesin pabrik yang berisik, yang katanya lebih
memanggil manggil, dan ia seperti anak ayam yang selalu
dipatuki lelaki kekar yang telah membeli jiwanya.

Kudus, 2005.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SURAT CINTA UNTUK SAUDARA TUA

Sandyakala Nusantara

DUA PERTAMA